Tentang Efisiensi Pasar Modal & Implikasinya

Efisiensi pasar merupakan salah satu topik mendasar yang perlu kita renungi karena berkaitan langsung dengan relevan atau tidaknya kegiatan untuk berusaha memprediksi arah harga (timing).

Sebagian besar kalangan akademisi berkeyakinan bahwa pasar saham merupakan pasar yang efisien. Suatu pasar dikatakan efisien apabila harga barang-barang yang dijual telah menunjukan semua informasi yang ada sehingga tidak terbias (not biased) menjadi terlalu murah atau terlalu mahal. Perubahan harga di masa mendatang hanya tergantung dari datangnya informasi baru di masa mendatang yang tidak diketahui sebelumnya. Perubahan harga terjadi dengan sangat cepat sehingga tidak memungkinkan untuk dieksploitasi. Karena informasi baru datangnya tidak bisa diduga, maka perubahan harga pun tidak bisa diduga alias random.


Di dalam suatu pasar yang efisien, tidak mungkin seseorang untuk secara konsisten mengalahkan performa pasar dengan memakai informasi yang telah diketahui pasar, kecuali dengan mendapatkan keberuntungan (luck). Dalam setiap periode, kira-kira setengah investor akan mendapatkan hasil lebih baik dari pasar dan setengah lagi akan mendapatkan hasil yang lebih jelek hanya karena keberuntungan/kesialan.

Teori pasar yang efisien tergantung pada asumsi bahwa semua pelaku pasar mengolah informasi secara rasional dan secara rata-rata informasi yang dimiliki semua pelaku pasar adalah benar (meskipun tak seorang pemainpun memiliki semua informasi yang benar: misal sebagian memiliki informasi yang bagus-bagus sebagian lagi memiliki informasi yang jelek-jelek tentang suatu perusahaan). Pasar yang efisien juga memerlukan sekelompok pemain yang dengan cepat akan meng-arbitrage bila kemungkinan arbitrage (keuntungan tanpa resiko) muncul.

Sampai-sampai ada cerita tentang seorang profesor finance yang diberi tahu oleh mahasiswanya ketika mereka sedang berjalan. “Prof, saya melihat sekeping uang Rp 100,000 di jalan”. Profesor menjawab: “Kamu pasi salah, kalau benar, pasti sudah diambil orang.”

Biasanya hipotesa tentang efisiensi pasar dibagi menjadi 3 bagian:

  1. weak form: menyatakan bahwa semua informasi berkaitan dengan harga-harga, transaksi volume, atau informasi pasar modal lainnya di masa lampau tidak ada gunanya. Bila ini benar, maka segala bentuk Teknikal Analisis tidak berguna sama sekali.
  2. semi-strong form: menyatakan bahwa semua informasi yang sudah diketahui publik (baik itu informasi dari pasar modal seperti harga-harga di masa lampau maupun informasi fundamental lainnya seperti laporan keuangan) tidak berguna. Informasi dari segi fundamental yang baru datang akan langsung terlihat di harga sehingga tidak bisa dieksploitasi. Bila hal ini benar, maka semua bentuk Teknikal Analisis dan Fundamental Analisis tidak bisa memberikan nilai tambah.
  3. strong form: menyatakan bahwa semua informasi yang ada baik itu publik atau privat (insider information misalnya) sudah terlihat di harga saham sehingga tidak lagi bermanfaat.

Kalau suatu pasar ternyata efisien, maka hal logis yang bisa dilakukan adalah membeli pasar dan biarkan saja. Kenapa? Buat apa membayar mahal-mahal seorang fund manager bila ternyata semua prediksi yang dilakukan tidak berdasar? Belum lagi dengan potongan sana sini, uang dibawa kabur, dsb. Lebih baik membeli Index Fund, di mana seorang Index Fund manager akan mengalokasikan dana Anda dengan membeli semua atau hampir semua saham yang ada, contoh membeli SP500 Index Fund. Apa keunggulan membeli index fund?:

  1. Biaya yang murah (karena sang manager kerjanya juga simpel- tidak perlu berusaha untuk memprediksi, dan biaya transaksi kecil – jarang untuk jual beli saham-saham)
  2. Transparan (kita tahu dengan jelas saham-saham apa dan berapa persentasenya di Fund tersebut)
  3. Diversifikasi (uang klien yang bila diinvestasikan sendiri mungkin tidak bisa untuk disebar, maka dengan Index Fund, Anda bisa melakukannya)

Perlu diketahui bahwa meskipun metode investasinya simple, tidak banyak fund manager di AS yang berhasil mengalahkan performa Index Fund!!

Bila suatu pasar memang efisien, apakah industri manajemen investasi tidak berguna? Tidak juga. Karena selain kegiatan memprediksi arah harga, manajemen investasi juga berkecimpung dalam kegiatan meracik berbagai aset sehingga membetuk suatu kesatuan portfolio yang optimal dan yang sesuai dengan keinginan klien. Seorang klien mungkin ingin memiliki portfolio yang lebih beresiko dengan kemungkinan keuntungan yang lebih besar, sedangkan sebagian klien yang lain lebih suka yang aman-aman saja.

Apakah semua pasar efisien? Menurut saya, efisiensi suatu pasar merupakan masalah takaran dan bukan masalah hitam atau putih. Pasar di negara-negara maju seperti AS, Eropa, dan Jepang lebih efisien dari pasar di negara-negara berkembang.

Apakah pasar selalu efisien? Menurut saya, ada saat-saat di mana suatu pasar lebih efisien dan ada saat-saat di mana pasar menjadi kurang efisien. Tapi semakin lama pasar akan cenderung untuk semakin efisien. Ibaratnya maju dua langkah, mundur satu langkah.

Apakah harga-harga saham random? Tentu ada (dan mungkin besar) unsur randomnya. Tapi menurut saya nggak sepenuhnya random karena pasar juga nggak sepenuhnya efisien.

Tulisan ini dipublikasikan di FILOSOFI INVEST.. Tandai permalink.

14 Balasan ke Tentang Efisiensi Pasar Modal & Implikasinya

  1. Adi berkata:

    Kalo praktis seperti “insider trading” begitu, seharusnya membuat market menjadi tidak efficient donk ya? begitu juga dengan “goreng2an saham”?

    Tetapi, apakah karena alasan tersebut maka “insider trading” itu menjadi sebuah masalah yg besar sampai ada undang2 di buat? Insider trading begitu ada hukumnya gak yg berlaku di indonesia/ singapore?

  2. ihedge berkata:

    Justru praktek insider trading itu membawa harga menjadi lebih efisien karena insiders punya informasi relevan yang belum banyak diketahui publik.

    nah, kalau goreng2an saham itu yang membuat market menjadi kurang efisien. Lebih banyak factor psikologi & investor behaviour yang berperan.

    Insider trading dilarang karena tidak menciptakan playing field yang sejajar buat semua pemain. Ini merugikan investor publik/retail yang biasanya tidak punya akses ke informasi privat tersebut. Bayangkan saya sebagai investor awam punya saham A yg sekarang harganya Rp 7000. Kemudian karena insider trading, harganya melonjak jadi Rp 8000. Mungkin karena tidak tahu apa yg terjadi, saya rasa untung udah lumayan besar, so dengan tawaran Rp 8000 saya jual. Padahal, ternyata perusahaan A akan diakuisisi oleh perusahaan B dengan harga Rp 10,000. Kalau tidak ada insider trading dan informasi langsung diumumkan ke publik, seharusnya harga langsung melonjak ke Rp 10,000 dan saya tak perlu menjualnya di Rp 8000.

    Di Singapore jelas illegal. Di Indonesia mestinya illegal juga. Masalahnya adalah sulit untuk membuktikan insider trading.

  3. Perdana Wahyu S berkata:

    Pada umumnya efisiensi pasar bersifat dimanis yg tergantung pada kualitas informasi, kecepatan news masuk pasar, rasionalitas analisis pelaku pasar dan yg terpenting persepsi terhadap harga aset. Pada umumnya jg, saham ditransaksikan dimana pelaku jual beli tidak mnegetahui harga sebenarnya (intrinsic value). Semakin harga saham jauh dari harga wajarnya, maka volatilitasnya cenderung meningkat sehingga pasar mengarah kpd weak form. Begitu sebaliknya, maka pasar cenderung strong. Bagi segelintir traders yg mempunyai superior/ private information, pola transaksinya akan lebih strategik dibanding uninformed traders sehingga mereka selalu untung besar. Maka tingkat asimetrik informasi suatu pasar ikut menetukan efisiensi pasar. Tingkat efisiensi juga dipengaruhi financial behaviour dalam berbagai pola mikrostuktur pasar.

  4. Nando berkata:

    Kalau aksi bom seperti bom bali 1 dan 2 apakah pasar modal indonesia efisien??

  5. Nadya berkata:

    Apakah Pasar Modal Indonesia saat ini sudah efisien bentuk setengah kuat?

  6. Tatang UNEJ berkata:

    Menarik sekali membaca tulisan tentang efisiensi pasar modal, tetapi menjadi kurang jika tidak dibarengi dengan bahasan tentang anomali pasar modal (saham). Filosofi dibalik efisiensi pasar saham tidakd apat dilihat dari satu sisi teoritis saja, melainkan harus diimbangi dengan fenomena empiris, misalnya tentang konsistensi anomali pasar. Bisa nggak Mas, ditambah bahasan tentang anmali pasar saham… Suwun..

  7. ihedge berkata:

    @Tatang UNJ: Berbagai anomali pasar modal sudah didokumentasikan di barbagai makalah ilmiah. Salah satunya adalah efek momentum & over reaction.

    Pertanyaannya adalah apakah anomali yang terdeteksi secara empiris tersebut bisa konsisten untuk ke depannya.

    Berbagai anomali yang dahulu dideteksi dan dipublikasikan efeknya mulai menghilang.

    Anomali yang belum menghilang tentunya adalah anomali yang dipahami oleh sebagian kecil traders/investors/fund managers. Dan mereka tidak ada insentif untuk mempublikasikannya.

  8. budi berkata:

    pasar modal baik di amerika dan banyak pasar modal di dunia termasuk Indonesia, tidak ditemukan pola random walk tetapi mean reverting lihat hasil penelitian Lo (1988), Poterba dan Summers (1988) dan Fama dan French (1988), mereka menemukan dalam jangka pendek terjadi otokorelasi positif sehingga cocok untuk strategi momentum, sedangkan dalam jangka panjang terjadi otokorelasi negatif sehingga cocok untuk strategi contrarian, pasar tidak efisien banyak dibahas pada behavioral finance

  9. STAN berkata:

    Pasar efisien adalah produk lama ilmu ekonomi keuangan yaitu era 80-an, tetapi di Indonesia pemahaman tersebut masih mendominasi di kalangan akademisi. Anomali pasar efisien semakin hari semakin membludak dan semakin menyesakkan napas pencetus teori pasar efisien (Fama, 1970). Sehingga pada tahun 1998 Fama melihat ulang teori tersebut dan merubah lagi pasar efisien dalam jangka pendek menjadi jangka panjang. Pasar efisien mengasumsikan bahwa manusia adalah sepenuhnya rasional, tetapi behavoiran finance yang bersumber dari penelitian Kahneman dan Tversky (1979) (nobelis ekonomi 2002) membuktikan bahwa pelaku pasar modal tidak sepenuhnya rasional, dan ini yang membuat pasar menjadi tidak efisien, setuju dengan behavioral finance, sudah selayaknya ilmu kita di update dengan teori keuangan yang muncul mulai periode 1990 keatas

  10. ayu berkata:

    apakah pasar modal di Indonesia pada tahun 2004-2006 dapat dibilang efisien??kalau iya, mengapa di sekitar tanggal pengumuman informasi merger dan akuisisi pada saat, pasar tidak terlalu bereakasi, atau harga harag tidak banyak mengalami perubahan?

  11. myu berkata:

    mas bisa ga di jelaskan, apakah insider ownership berpengaruh terhadap efisiensi pasar? klo ada pengaruh nya …gimana penjelasannya?
    mohon bantuannya

  12. Remoru berkata:

    Iya nih kayaknya pasar ada ada di “maju mundur” semi-strong form dan terkadang menuju ke arah strong form. Mungkin pada suatu waktu pasar tepat berada pada salah satu bentuk efisiensi pasar tapi tidak selamanya pada satu bentuk (“maju mundur” kayak mas Bahar bilang). Informasi fundamental juga belum tentu bisa langsung keolah dan tercemin ke pasar karena dua hal yakni time lag dan ekspektasi. Belum ada teorinya si tapi mungkin ada kesempatan kali ya untuk ngalahin pasar. Terus terang aja gw pengagum analisa fundamental, klo pasarnya semi strong percuma deh analisa excel gw yang ber sheet-sheet n multi kolom itu XD
    Salam kenal ya Mas Bahar.

  13. yomi berkata:

    trimakasih artikelnya mas…mantap

  14. Cok Krisna Yudha berkata:

    Sangat bermanfaat mas bagi kami mahasiswa baru yang mendalami anomali pasar ini. terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s