Harga emas mengalami tren kenaikan yang cukup pesat sejak tahun 2001 lalu. Hal itu bisa dilihat dari grafik perubahan harga emas di bawah ini.

Pertanyaan: bila kita ingin investasi emas, bagaimana caranya? Investasi yang dimaksud di sini adalah membeli aset atau memasuki kontrak sehingga kita bisa mendapatkan keuntungan/kerugian dari pergerakan harga emas.
Ada beberapa alternatif yang bisa saya pikirkan:
- Membeli emas batangan. Sekarang harganya adalah sekitar USD 785 per ons.
- Beli Exchange Traded Fund (ETF) emas. Misalnya GLD. ETF adalah semacam reksadana , tetapi ETF itu tidak dikelola secara aktif. Oleh karena itu, biaya manajemen ETF biasanya jauh lebih murah daripada reksadana (mutual fund). Saat ini, harga ETF GLD sekitar USD 78 per lembar.
- Beli beberapa saham penambang emas. Misalnya misalnya: Freeport, Barrick Gold Corporation, Goldcorp Inc New, Kinross Gold Corp, Lihir Gold Ltd, Meridian Gold Inc, Randgold Res Ltd, dll.
- Membeli produk derivatif yang bedasarkan emas, misalnya kontrak futures emas, atau kontrak Options terhadap saham penambang emas.
- Membeli logam mulia lain (atau penambangnya) di mana logam tersebut biasanya bergerak beriringan dengan emas: misalnya perak dan platinum.
- Membeli perhiasan emas, gigi emas, dan lain-lain. Ada ide?
Pertanyaan selanjutnya adalah: alternatif mana yang lebih menguntungkan? Di sini kita akan membandingkan 2 pilihan saja: membeli emas batangan atau membeli beberapa saham penambang emas.
Bayangkan skenario seperti ini:
- harga emas naik 20%. Nilai penjualan penambang emas juga kira-kira akan naik 20%. Berapa kira-kira kenaikan keuntungan usaha penambang emas? Mungkin jauh lebih besar dari 20%!! Kenapa? Karena biaya produksinya relatif stabil sementara penjualan naik tajam.
- harga emas turun 20%. Nilai penjualan penambang emas juga kira-kira akan turun 20%. Keuntungan usaha penambang emas akan turun juga. Tetapi pada saat-saat yang sulit, perusahaan memiliki kemampuan untuk melakukan efisiensi. Selain itu, di masa-masa sulit tersebut, biasanya akan terjadi konsolidasi di mana perusahaan penambang yang lebih sehat akan mengambil alih perusahaan yang kurang sehat.
Grafik di bawah menunjukkan pair plot dari rata-rata perubahan harga saham penambang emas per bulan vs. perubahan harga emas batangan per bulan sejak 1990- September. 2007.
Bisa kita lihat bahwa harga saham penambang emas tergantung pada harga emas. Tentu saja! Tapi, kalau kita sedikit lebih jeli, perbandingannya cenderung tidak linear. Maksudnya begini: misalkan emas turun 5%, saham turun 10% — tetapi ketika emas naik 5%, saham naik > 10%.

Supaya lebih akurat, kita perhatikan tabel di bawah ini. Sejak tahun 1990an, harga emas secara rata-rata tumbuh 0.35% per bulan. Rata-rata saham penambang emas tumbuh 1.69% per bulan. Akan tetapi, fluktuasi pertumbuhan harga saham juga lebih besar. Dengan kata lain, resikonya bisa dibilang lebih besar. Dari segi fluktuasi harga, deviasi harga emas batangan hanya sekitar 3.81% perbulan sementara deviasi harga saham penambang emas memiliki kira-kira 11.07%.
Biasanya kita akan melihat reward/risks trade-offs atau return/resiko. Membeli beberapa saham penambang emas, dari kacamata ini, lebih menguntungkan walaupun setelah memperhitungkan penambahan resiko!

Saya tidak akan kaget bila hal yang sama terjadi pada penambang minyak, dsb. Harga minyak naik, harga saham penambang minyak naik lebih tinggi lagi.


30 tanggapan so far ↓
Priyadi // Oktober 30, 2007 pada 5:18 pm
menurut saya satu2nya cara investasi terbaik adalah dengan membeli emasnya langsung. kelebihan emas itu tangible, jadi kalau beli derivatifnya kita kehilangan kelebihannya tersebut.
emas itu cocok sebagai hedge instrument terhadap resiko krisis moneter.
anymatters // Oktober 30, 2007 pada 9:03 pm
Kelihatannya perusahaan tambang emas asing di Indonesia, seperti Newmont dan Freeport akan selalu untung. Tapi kalau kenyataannya pasar bilang harga emas akan turun di masa mendatang, mereka akan merugi.
Di atas kertas, mereka memang untung sekarang, namun kemudian proses penambangan tentunya akan memakan waktu bertahun-tahun. Pada saat semua emas yang mereka klaim pada suatu daerah terkuras dalam suatu kurun waktu dan harga emas saat itu ternyata jatuh, mereka akan rugi.
Beberapa perusahaan tambang emas ada yang tidak melindungi-nilai (hedge). Dalam hal ini, mereka membiarkan harga saham mereka naik turun atas keterkaitannya dengan harga emas di pasaran. Artinya, mereka berusaha menarik investor yang ingin berjudi melalui harga saham mereka. Walaupun demikian, mereka masih bisa melindungi-nilai saham mereka dengan penjualan-dimuka (short-selling) dengan broker.
Namun selain itu, ada juga perusahaan tambang emas yang selalu melindungi-nilai (hedge) emas mereka. Mereka melindungi-nilai dengan cara mengunci harga emas pada suatu waktu di masa depan melalui transaksi emas berjangka (futures) atau dengan kontrak emas kedepan (forward contract). Mereka biasa menjual emas berjangka atau kontrak emas kedepan dengan harga tetap tertentu dengan perusahaan investasi global, seperti Goldman Sachs, Merrill Lynch, Salomon Brothers, dll. Dalam hal ini yang berjudi adalah perusahaan investasi global tersebut.
Tapi bagaimana perusahaan investasi global ini bisa melindungi-nilai kontrak mereka dengan perusahaan tambang emas? Caranya yaitu dengan meminjam emas secara fisik dari bank sentral dan langsung menjualnya sekarang dengan harga pasar saat ini. Hampir seluruh bank sentral di dunia memiliki cadangan emas.
Kemudian, pada saat kontrak emas kedepan mereka dengan perusahaan tambang emas habis, mereka akan menerima sejumlah dana dari perusahaan tambang dengan harga emas kedepan (forward price) yang berlaku sesuai kontrak. Dari dana tersebut mereka akan membayar kembali pinjaman mereka ke bank sentral.
Lebih jauh lagi, kalau harga futures dan forward emas salah di-price (ada selisih dengan no-arbitrage price), ada kesempatan pasar untuk mengambil keuntungan arbitrage.
edratna // Oktober 31, 2007 pada 12:54 am
Bahar,
Saya jadi ingat cerita teman saya, ayahnya dulu Direktur PTP di Medan, dia sulung dari enam bersaudara. Ayah ibunya menyiapkan deposito dan emas batangan untuk masing-masing anak. saat itu deposito sampai bertahun-tahun suku bunganya berada pada range 18-21 %pa.
Ayahnya berpesan, terserah kalian mau kuliah dimana, yang jelas masing-masing anak udah disediakan (kebetulan ayahnya, karena sesuatu hal, ambil pensiun muda, dan biaya hidup dari sukubunga deposito). Jadi begitulan enam bersaudara bersaing, untuk dapat kulaih di PTN…dua di IPB dan empat di ITB….dan teman saya tinggal di asrama putri IPB yang murah meriah, dan sekamar berempat…bayangkan, anaknya seorang Direktur. Tapi karena kuliah murah, tinggal di asrama, tabungan dia banyak.
Tebak, bagaimana akhir ceritanya? teman saya lulus kuliah kerja di Bank, kemudian ambil Pensiun Dini Sukarela, dan mulai usaha yang semuanya dijual ekspor. Adiknya ada yang jadi pengusaha, sedang yang dosen semuanya sudah Doktor. Saya hanya melihat, bahwa pendidikan orang tua, yang menekankan pemikiran investasi kedepan, mengajak anak-anak berpikir sejak muda…apakah saya mau hidup royal, apakah saya safety player, atau saya mau mengembangkan usaha?
Inti ceritanya: investasi di bidang emas batangan dalam jangka panjang, masih menguntungkan.
Poltak Hotradero // Oktober 31, 2007 pada 8:49 am
Emas itu bukan instrumen investasi. Emas adalah instrumen spekulasi. Mengapa? Karena emas tidak menghasilkan revenue stream sama sekali. Nilai emas hanya semata-mata tergantung pada persepsi. Dan seperti kita tahu — persepsi manusia gampang sekali berubah. Sebentar serakah — sebentar ketakutan.
Di luar itu — emas adalah logam yang nyaris tidak ada guna / faedahnya.
Mungkin bisa diplot harga riil emas setelah didiskon tingkat inflasi. Dalam jangka panjang — rasanya sih tidak hebat-hebat amat kok dibandingkan dengan kelas asset lainnya. Malah bisa jadi cuman impas-impasan doang. Bisa dilihat di chart ini: http://goldprice.org/news/uploaded_images/gold-price-2006-dollars-760170.gif
Kalaupun ada yang mengklaim emas menguntungkan — itu semata-mata faktor historis pada time-frame tertentu. Coba kalau anda beli emas pada posisi harga tahun 1981 misalnya — jelas rugi habis-habisan.
ihedge // Nopember 4, 2007 pada 12:44 pm
@Priyadi: saya masih kurang paham tentang keuntungan dari memegang aset yang tangible dari pada yang tidak.
btw, derivatif products hanyalah mengubah risks returns profiles => so, by itself, it’s neither better nor worse than the underlying assets.
@anymatters: yang lebih cocok buat spekulasi tentu yang tidak melakukan hedging thd harga emas.
@ Bung Poltak: Kalau definisi investasi adalah menaruh dana di aset yang menghasilkan revenue stream, maka saya setuju dengan pernyataan bung Poltak. Dengan mengikuti definisi yang sama maka minyak, gas, dan berbagai komoditas lainnya adalah instrumen spekulasi.
Selain income streams, kan ada komponen capital gains… kalau hanya capital gains memang cenderung lebih spekulatif.
Hmm, sebenarnya emas juga dikonsumsi kok. Seperti untuk perhiasan, dll. Demand emas yang tinggi akhir2 ini, menurut saya salah satunya adalah demand dari India dan berbagai negara berkembang lainnya akan konsumsi emas.
Kalau dah memperhitungkan inflasi, tentu returns semua aset berkurang drastis. Tapi, informasi Bung Poltak ini memberikan pandangan lain tentang kenaikan harga emas. Thanks!
well, kalau kita melihat ke belakang, tentu akan ada time-period di mana suatu aset merangkak naik dan ada time-period di mana aset turun. Itupun masih tergantung time-horizon yang kita peduli. Kalau kita tertarik pada horizon 1-2 dekade ke depan, saya juga tidak yakin kalau emas lebih menguntungkan dari aset yang lain. Kalau horizon kita beberapa hari, minggu, bulan, atau bahkan tahun ke depan, saya cukup optimis dengan emas.
Poltak Hotradero // Nopember 5, 2007 pada 10:36 am
Memang betul bahwa emas digunakan di industri mikroelektronik - selain di industri perhiasan. Tetapi rasanya cukup jelas - bahwa lebih dari 90% emas yang ada di dunia (yang telah ditambang) ternyata cuma nganggur. Tersimpan di berbagai brankas, vault dan museum. Ini berarti supply emas sangat jauh melebihi kegunaan riilnya. Itu sebabnya mengapa saya sebut sebagai ‘logam tak berguna’.
Illustrasi lain: harga baja standar adalah US$ 800 per ton. Harga emas adalah US$ 800 per oz. Ini berarti harga emas adalah 32 ribu kali lebih mahal daripada harga baja.
Nah sekarang tinggal kita lihat - apa yang bisa dihasilkan oleh 32 ribu ton baja — dan apa yang bisa dihasilkan oleh 1 ton emas. Saya sangat yakin bahwa 32 ribu ton baja bila berubah menjadi jembatan atau kapal atau mobil ataupun paku — tentu memberi jauh lebih banyak kesejahteraan kepada manusia — ketimbang sekadar kemilau 1 ton emas.
aryahidayat // Nopember 5, 2007 pada 5:49 pm
Mungkin yang dimaksud Priyadi, emas sebagai tangible asset tidak menyandang market risk yang melekat di pasar modal ? Saya jadi membayangkan situasi krisis 1929 saat orang amerika harus antri untuk mendapat bantuan dari goverment, pasar saham saat itu tak ada artinya, mana yang lebih bernilai saat itu ya? memegang emas batangan atau mempunyai saham perusahaan penambang emas? bisa di trace nggak datanya? tapi dengan pengalaman krisis 1929 apa mungkin gagalnya pasar modal akan terulang?
As fewer and fewer people have confidence in paper as a store of value, the price of gold will continue to rise -Jerome F Smith
Perdana Wahyu S // Nopember 7, 2007 pada 7:05 am
Well diskusi yg sehat. Sekarang mana lebih menguntungkan, investasi pada saham tambang emas atau membeli komoditasnya? Lebih jauh lg, bagaimana return emas (yg kurang berguna) dibanding dgn logam lain yg sangat berguna (nickel, tin etc)?
De Paris // Nopember 8, 2007 pada 5:55 am
Tambahin punya arya: ndak usah di Amrik,dulu waktu jaman eyang saya aja dimana di Indo lagi krisis di jaman Pak Karno maka Eyang saya cukup survive karena menyimpan emas (bukan batagan tapi emas perhiasan yang disimpan dari jaman belanda dulu
Poltak Hotradero // Nopember 9, 2007 pada 10:01 am
Di masa Great Depression - emas memang menjadi berharga karena mata uang masih dijangkarkan pada emas. Uang adalah emas - dan emas adalah uang. Bagaimana dengan jaman sekarang? Hal itu tidak dilakukan lagi (kecuali Swiss yang 25% mata uangnya dibackup oleh emas).
Dampak jelek dari penjangkaran mata uang adalah ekonomi yang selalu swing dari inflasi ke deflasi. Deflasi JAUH lebih berbahaya daripada inflasi (semata-mata karena nyaris tidak ada obatnya).
Great Depression adalah salah satu manifestasi paling jelas atas fenomena deflasi — jadi bisa disebut bencana global itu terjadi justru karena… emas.
ihedge // Nopember 12, 2007 pada 3:14 am
Diskusi tambah menarik.
Masalahnya, nilai pasar suatu barang/jasa tidak hanya tergantung dari kegunaan barang/jasa tersebut bagi manusia. Banyak hal yang sangat berguna bagi survival manusia malah gratis. Penggunaan satuan “berat (ton)” untuk membandingkan nilai baja & emas juga problematik. Bila harga per-ton emas 1 kali harga per-ton baja, apakah itu wajar? Hard to say. Apakah harga emas per ton 1000 kali lipat daripada baja terlalu mahal? 1000 kali lipat bisa dengan mudah naik jadi 2000 kali lipat. Dari 32000 kali lipat menjadi 60000 kali lipat juga bukan mustahil. Poin saya adalah: “I honestly dont know whether 32000 is appropriate, too low, or too high”
Saya gak ada data harga emas sewaktu great depressions. Betul kata Bung Poltak, saat itu mata uang dunia dijamin dengan emas, tidak seperti sekarang di mana uang yang beredar tidak sepenuhnya dijamin dengan emas (fiat currencies).
Pada saat-saat krisis aset keuangan, biasanya aset-aset fisik seperti emas akan naik dengan tajam. Tapi itu bukan berarti aset saham penambang emas (yang merupakan aset non-fisik) akan ikut jatuh. Justru sebaliknya. Pada saat great depression (1929-1935), saham penambang emas naik pesat. Saya kutip dari sini:
During the same bear market period smart-money moved from the plunging equity markets (i.e. financial assets) to hard asset investments, like Homestake Mining - which is used heretofore as a surrogate for all gold stocks. The stock price of this gold mining company soared relentlessly upward during the entire bear market. Homestake Mining stock rose continuously from $80 in October 1929 to $495 per share in December 1935 - which represents a total return of 519% (excluding cash dividends) during the devastating bear market period.
Demikian juga sewaktu crash 1973-1974. Sebagai bandingan, harga emas kira-kira naik 170% pada periode yang sama. Sedang saham penambang emas naik 260%an.
From the market high in 1973 to its low in 1974 the DJIA and the S&P 500 lost almost half their value - while the previously high-flying technology stocks plummeted more than 60%. Enough to cause heart-failure to the credulous believers of THIS TIME IT’S DIFFERENT. Even the relatively “safe” utilities were decimated - as they dropped more than 50% from their 1973 high to their nadir in 1974. H-O-W-E-V-E-R, students of financial history took profitable refuge in gold metal stocks. The Gold Mining Index, composed of ASA, Campbell Red Lake and Dome Mining, appreciated more than 260% from its 1973 low (40) to its 1974 high (147). This merits being redundant. During the severe 1973/74 bear market, stocks lost half their value - while gold mining companies almost quadrupled.
Ini bisa jadi studi baru. Tapi informasi apa yang bisa ditarik dari studi tersebut, bisa kita lihat nanti.
Rookie // Januari 4, 2008 pada 10:01 am
apa gunanya beli tanaman hias Anthurium ratusan juta?, beli lukisan picasso jutaan dollar?, beli adi busana?, value itu tergantung yang menilai. Tapi dalam konteks Investasi/spekulasi berbeda lagi. Kekayaan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia didunia (gak perlau ada yang kelaparan) tapi gak akan pernah cukup memenuhi keinginan satu manusia saja.
saya cuman tepukau dengan diskusi kalian…he3x
Deni // Januari 14, 2008 pada 11:06 am
hallo.Sejak saya membaca bukunya Robert T Kiyosaki,saya tertarik untuk mempelajari investasi,tetapi saya benar-benar buta dengan dengan investasi,bahkan saya tidak mengerti secar jelas apa itu saham,maka saya mempunyai beberapa pertanyaan kepada ihedge dan teman-teman:
1. Buku apa yang kalian rekomendasikan untuk saya dalam mempelajari saham?
2. Apakah penting untuk mempelajari apa itu saham sebelum saya mempelajari Options dan ETF?karena saya sangat tertarik untuk mempelajari instrument tersebut.
3. Apakah harga emas akan menjulang tingggi pada tahun 2010(menurut Kiyosaki berdasarkan sejarah yang pernah terjadi berulang kali) ? karena Amerika kemungkinan besar akan mengalami krisis ekonomi disebabkan oleh baby boomers
4. Dimana tempat untuk membeli emas batang apabila saya ingin membeli emas?
sebelumnya terima kasih.
peace
haseghawa // Januari 14, 2008 pada 11:12 am
saya mendengar bahwa emas lebih baik dari pada saham dan reksa dana,
ayu // Januari 16, 2008 pada 2:15 pm
saya ingin sekali membeli emas batangan,tetapi saya tidak tahu di mana tempat membeli emas batangan yg dapat di percaya.. dan apakah ada emas batangan yg tidak bersertifikat?apakah itu ilegal? terima kasih atas bantuan informasinya..
ajeng ws // Januari 17, 2008 pada 8:18 am
Mohon informasi,
apakah ada yg tahu berapa tepatnya harga emas per gram (IDR) pd tahun 1981?
Terima kasih
ihedge // Januari 19, 2008 pada 5:36 am
@Deni:
(1) hmm, mungkin gak ada 1 buku yang cukup buat mempelajari saham. Fundamental analis mungkin akan rekomendasi buku “The Intelligent Investor by Benjamin Graham”. Secara personal saya suka buku2nya Potter seperti “Competitive Advantage of Nations”. Buku teknikal analisis yang cukup bagus: “Professional Stock Trading by Conway Behle”.
(2) Sebelum belajar ETF dan derivatives seperti Options & Futures, tentu lebih baik kalau mulai dari underlying assetnya dulu.
(3) Nobody knows.
(4) dan untuk @ayu: untuk membeli emas, coba baca artikel nofie iman tentang investasi emas ini.
@hasegawa: tidak ada satu aset pun yang selalu lebih baik dari aset lainnya.
@ajeng: cari saja harga emas USD tahun 1981 & kurs rupiah saat itu. banyak di internet.
early // Januari 31, 2008 pada 7:19 am
Hi Bung Bahar, salam kenal. Saya pembaca setia blog ini dan sedang belajar tentang investasi..mau minta ijin nih, boleh gak saya refer tulisan n datanya? Trims ya…
nkristan@indo.net.id // Februari 19, 2008 pada 4:17 am
artikel soal emas bisa di baca di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=749785 dan
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=356493
yadiwidjaja // Februari 23, 2008 pada 4:37 am
Dari data empiris yang ada memang kelihatan kalo beli saham perusahaan emas lebih tinggi returnya dibanding beli emas (logam).
tapi emas ialah non renewable production yang di satu waktu akan habis. bila habis, maka perusahaan tambang emas akan kehilangan aset-nya dan nilai sahamnya akan hancur (kita abaikan factor hasil tambangan lain).
Tidakkah ini yang akan terjadi bila (setahu saya) tidak ada penemuan tambang emas baru?
IBNU HAJAR // Februari 28, 2008 pada 6:50 am
Join Apimutual, Dapatkan 10-15% Perbulan, Layari
http://exchangeapimutual.net
fatony // Maret 8, 2008 pada 5:03 pm
Saya mau tanya,di web site mana ya saya dapat melihat emas atau logam mulia, harga dalam rupiah tiap harinya
jejen // April 2, 2008 pada 3:33 pm
bagaimana cara berinveastai reksadana yang baik pada bank mandiri
senior executive
PT . Graha Finesa Berjangka Tbk.
deden // April 28, 2008 pada 7:48 am
@fatony, silahkan lihat di website: http://www.logammulia.com. anda bisa lihat perubahan harga emas setiap hari
Forum Investor // Mei 15, 2008 pada 6:09 am
Emas memang menjadi favorit banyak orang tapi apakah tepat berinvestasi emas pada saat harganya sudah tinggi ?
ade // Mei 31, 2008 pada 5:56 am
Bung Ihedge & yang lainnya, salam kenal.
Mohon pandangannya nih. Saya newbie, baru 3 bulan ini lah mulai berinvestasi, masih lebih banyak baca teori. terus terang saya bingung nih kalo dalam diskusi ada yang meng”hujat” atau memojokan salah satu jenis investasi.
Dalam pengetahuan saya toh kita perlu melakukan diversifikasi investasi/asset kita karena memang tidak ada satupun yang “benar2 aman” (risk free) dari ancaman kemungkinan rugi.
Seberapa pun dana yang akan kita investasikan adalah sangat tidak bijak kalo kita belikan emas semua dan juga tidak bijak kalo kita tidak punya emas (batangan) sama sekali.
Setiap instrument investasi memiliki korelasi positif atau negatif dengan instrument yang lain, sehingga kalo kita bisa mendiversifikasi dengan baik maka seburuk2nya kondisi iklim investasi maka kita masih bisa meredam kerugian karena penurunan yang satu bisa diimbangi dengan kenaikan yang lain
Bener ga gitu?
DD // Juni 6, 2008 pada 6:35 am
Guys, kalau mau cari data harga emas dari tahun 1981 sampai sekarang, dimana yah? Thanks
firman // Juni 6, 2008 pada 2:42 pm
kita nggak bisa ngelihat gitu saja kalau tahun 81 beli emas bokek. yang rugi waktu itu ya udah, salahnya sendiri. udah tahu kalau grafiknya abnormal nekat. tapi kalau pas jualnya lagi di naiknya, untungnya sih emang guede banget.
Yang namanya gerakan harga dan macem2 aset itu tetap mengikuti hukum alam. Yang namanya ayunan, kalau diayun keras kelemparnya juga akan keras pada arah sebaliknya.
Coba aja lihat kecepatan kenaikan harga menjelang 80 puihhh gila. Itu tuh udah nggak normal, outlier. Jadi harga segitu bukan long run equilibrium, tapi lebih short run adjusment, karena spekulasi berlebih. baliknya, ancur banget, meskipun sebenarnya dia kembali ke yang normal.
Nah, kalau mau ngeliat jangka panjang tentu nggak kaya begitu. So, kalau kita ngobrolin grafik, musti ati-ati deh. Kita mau bicara short atau long, nah ini bisa beda banget.
Nah, yang sekarang kaya apa? emas fisik lagi naik nih harganya. buat preliminary hipotesis, kita lihat aja grafiknya. tapi buat lebih tepatnya, selain tanya ke yang memang hidup di situ, juga bisa dibantu pakai itungan.
Tapi perkiraan saya sih, ntar kalau aset-aset lembaga keuangan dunia udah pulih dari ekor badai subprime, emas juga akan turun lagi dari peak grafik yang keliatan tajam naiknya. kenapa? tajamnya itu lebih karena shock dan spekulan yang manfaatin sentimen pasar negatif di pasar mortgage.
Resto // Juni 19, 2008 pada 8:45 am
Beli emas sih pingin juga… tetapi gedein dulu mesin resto dulu aja deh….
PURNOMO LANGGENG // Juli 25, 2008 pada 2:49 am
mana dong grafik 2006 ~ 2008
Tinggalkan Komentar