Skeptical Empiricist

Berkarir di KAP atau di investment banking, atau di private banking, atau Hedge fund

Desember 30, 2007 · 13 Komentar

Saya dapat komentar seperti di bawah ini:

Saya mahasiswa akuntansi di Universitas Surabaya semester 5 & sedang mengikuti RFP-I/CFP preparation program.

Saya kepingin berkarir di KAP (big 4 tentunya) atau di investment banking (sbg analyst), atau di private banking (sbg wealth manager), atau bahkan di hedge fund tapi lebih detail lagi saya lebih condong ke investment/private banking. Jadi, sekarang saya lagi banyak2 cari informasi tentang profesi2 tersebut.

Saya juga kepingin banget berkarir di luar negri (yg deket2 aja spt s’pore). Memang prestasi akademis saya tidak terlalu bagus (GPA <3) & saya tidak punya cukup dana untuk kuliah di LN tapi saya punya kemauan kuat untuk belajar. Apakah hal ini bisa menjadi modal buat saya ?

Menurut mas, jalan apa yang harus saya tempuh untuk bisa mencapai cita2 tersebut ? Mohon bantuan & sarannya mas…

Terima kasih…

Daxon

Dilihat dari yang ditulis, sepertinya yang bersangkutan cukup bersemangat untuk bekerja di ke 4 profesi di atas (bekerja di KAP, analis di investment banking, private banking, ataupun di hedge fund). Oleh karena itu komentar ini saya jadikan artikel. Siapa tahu ada yang bisa berbagai masukan baginya.
Saya juga jadi berpikir apakah ketiga profesi di atas sudah menjadi pilihan karir yang “hot” di Indonesia sebagai mana terjadi di negara-negara lain. Mungkin potensi reward secara finansial menjadikan profesi-profesi tersebut sebagai incaran terutama bagi mereka yang akan lulus kuliah.
Satu hal yang saya ingin sampaikan: ke-4 profesi tersebut memerlukan komitmen yang sangat tinggi. Mungkin bisa sampai di suatu titik di mana semua hal lain seolah-olah tidak sepenting pekerjaan. Pertanyaanya: apakah kita siap untuk menjalaninya? Reward secara finansial yang cenderung lebih tinggi dibanding profesi yang lain datang dengan pengorbanan yang tinggi pula. Di samping itu, industri ini juga brutal. Mereka yang sukses, sukses besar. Mereka yang tidak tidak berperforma dengan mudah akan tersingkir.
Pertanyaan Daxon mengingatkan saya kembali semasa kuliah S1 dulu. Karena kebetulan kuliah di Singapura, saya sering membaca koran the Asian Wallstreet Journal yang tersedia secara gratis di salah satu pojok kampus. Dari kegemaran membaca koran ini, ketertarikan saya ke bidang keuangan mulai tumbuh. Sementara ketertarikan kuliah di bidang engineering menjadi berkurang. So you say, money rules!
Selesai S1, merasa tidak memiliki latar belakang yang cukup di bidang keuangan, saya mengambil S2 di bidang Financial Engineering atau Computational Finance. Di situlah saya mulai belajar tentang berbagai produk derivatif, risks transfers, portfolio management, dan berbagai hal lain. Plus, saya menjadi masuk ke jaringan orang-orang yang memiliki ketertarikan sama di bidang ini dan juga alumni-alumni yang sudah terlebih dahulu masuk ke industri ini.
Dunia hedge fund pun saya masuki melalui alumni. Kita cenderung lebih percaya kepada orang yang telah kita kenal dengan baik. Waktu itu ada beberapa tawaran lain, tapi saya berpikir bahwa hedge fund is the future. Tapi ada beberapa konsekuensi-nya. Salah satunya ialah saya harus melupakan jam kerja dari 9 sampai 5.
Coba tanyakan teman-teman kita yang bekerja di industri ini. Jam berapa mereka pulang kantor? Apa yang mereka lakukan di hari libur?
Selain itu, praktek di industri agak berbeda dengan yang kita baca di sekolah. Di sekolah, kita belajar dalam “sistem yang terkontrol dengan rapi dan teratur”. Tiap semester ada beberapa modul kuliah. Tiap modul kuliah jelas batas-batasnya. Demikian juga dengan materi dalam kuliah tersebut, semua teori ada asumsi-asumsi yang kadang-kadang tidak realistis. Ketika exam, semua masalah mempunyai batasan dan asumsi yang jelas.
Ketika masuk ke industri, welcome to the real world! Nice theories need not apply. Kita dilepas ke ajang di mana kita sendiri yang menetapkan batasan-batasannya. Bahkan kita sendiri yang mencari masalahnya.
Ok, kembali ke topik. Apa saran buat Daxon? Hm, sebisa mungkin, entah bagaimana caranya coba masuk ke jaringan orang-orang yang bekerja di industri yang ingin kamu masuki. Ntah itu melalui sekolah lagi, ataupun dengan pendekatan sosial. Bila ingin sekolah dan terbentur masalah dana, bisa mencoba untuk mencari beasiswa. Banyak info beasiswa di internet ataupun lembaga luar negeri di Indonesia.
Selain itu, ada juga kualifikasi profesional yang bisa diambil seperti CFA (Chartered Financial Analyist). Untuk mengambil CFA, ada 3 tes dan juga pengalaman industri. Karena belum ada pengalaman industri, coba ambil ke 3 tes CFA dan masukan dalam resume.
Cara lain, coba masuk ke industri ini walaupun bukan sebagai analis. Mungkin masuk dari sales, atau IT, atau marketing, dll. Mungkin bisa switch setelah di dalam.
Ada ide lain?

    Kategori: PERSONAL

    13 tanggapan so far ↓

    • priandoyo // Desember 31, 2007 pada 1:28 am

      Kalau di Jakarta, kayaknya lebih gampang kerja di KAP. Saran saya sih, coba yang paling sulit dulu.

    • edratna // Desember 31, 2007 pada 10:48 am

      Private Banking? Atau Investment Banking? Kayaknya sih keren, masuknya susah (melalui 5 tahapan test/ wawancara, lulusan PTN/Luar Negeri, bahasa Inggris aktif, dan IP kalau bisa di atas 3,3…..walau persyaratannya minimal 3), kerja bisa lebih dari 15 jam per hari dan hari libur sering terpaksa kerja juga, cuti sulit …… dan harus punya keluarga yang mendukung, yang mandiri, yang nggak ngrecoki. Siapkah kita? Walau gajinya tinggi….namun risikonya juga super tinggi.

      Saya setuju pendapat Bahar….

    • Aji // Januari 3, 2008 pada 2:21 am

      Buku “Monkey Business: Swinging Through the Wall Street Jungle” by John Rolfe & Peter Troob (Author) mungkin bisa memberikan gambaran bekerja di dunia investment bank.

      salam,
      aji

    • Poltak Hotradero // Januari 3, 2008 pada 2:31 am

      Karena sektor keuangan selalu dinamis dan berkembang terus - maka yang paling diperlukan tentunya adalah kemampuan untuk terus menerus belajar (sendiri) dan meng-upgrade kemampuan. Tanpa itu, ya akan gampang “punah”.

      Kalau kita hanya sekadar tipe pekerja “nine-to-five” (teng-go) — saya tidak menyarankan untuk bekerja sebagai analyst di sekuritas.

    • daxon // Januari 8, 2008 pada 10:11 am

      jadi yang paling penting mendekat ke lingkungan yang kita inginkan ya ? kalau masuk dari jalur lain seperti marketing, sales, dll apa lebih mudah ?
      terima kasih mas atas gambarannya…

    • aryahidayat // Januari 8, 2008 pada 6:50 pm

      masuk dari sales bisa juga, tapi harus ada value added nya, misalnya sambil bekerja kita ambil S2 finance, MMUI ada beasiswa dari Sampoerna Foundation, perlu diingat di dunia karier tidak semua yang kita inginkan bisa tercapai dengan mudah, yang berkeinginan sama dengan kita tidak sedikit, misalkan kita sudah mulai dari sales perlu dipikirkan apa nilai lebih kita dibandingkan sales person di industri yang sama di kantor kita, di kota kita, di negara kita, apa nilai lebih kita dari sales person lainnya??

      kalo bisa pass CFA level 1 aja sudah compete enough lah untuk ukuran sales person, menurut saya, ikut aja kursusnya dulu, baru ujian

      Kalo mau masuk dari KAP, menurut saya bagus juga, fundamental analyst membaca laporan keuangan, tiap industri mempunyai standard pelaporan yang berbeda, dengan mengetahuinya anda akan tahu Quality of Earning dari suatu perusahaan dalam suatu industri. Tentukan sendiri apa target anda bekerja di KAP. Mau jadi Partner, berarti harus bisa cari klien, atau cukup sampai dapet ilmunya saja.

    • Teguh Junanto // Januari 11, 2008 pada 1:49 am

      Bagi rekan-rekan yang masih fresh, saya pikir akualisasi diri menjadi hal yang cukup penting.. Profesi di atas yang dijelaskan oleh mas Bahar akan menjadi pijakan awal yang menarik untuk digeluti, coz batas atas emosional & intelegensia kita akan banyak terpatri disini. Pengalaman seperti inilah biasanya yang membentuk misteri karir kita lebih seru…
      Mas Bahar, tulisan ini minta izin ntuk di link ya…

    • Adi // Januari 11, 2008 pada 6:54 pm

      Ikut Nimbrung dunk.

      “Confession of Wallstreet Analyst”, salah satu buku yg saya anjurkan utk dibaca. Isinya tentang up-dan-down side karir Wallstreet analyst yg mengcover industi telekomunikasi di AS pada th 90′an dan 2000 awal.

      Setuju dengan pendapat tentang komitment yg tinggi di bidang ini. Saya pribadi tertarik terjun ke dunia ini, hanya saya kesempatannya belom ada :(

      Networking di bidang ini memang penting sekali, karena orang2 yg bekerja di bidang ini lebih cenderung untuk merecruit orang2 yg mereka kenal dan bisa dipercaya.

      Seorang Analyst terkenal dari ML pernah berkata, utk menjadi seorang analyst yg sukses dibutuhkan kemampuan analisa yang kuat, kuantitativ dan kualitativ, juga kemampuan networking yang kuat. Sperti di High School being famous and smart is a way to go thorugh years of high schools succesfully!

      cheers!

    • Budi // Januari 23, 2008 pada 9:17 am

      Dari pengalaman kerja di hedge fund, sebenarnya gaji yang diatas rata-rata untuk industri keuangan seperti investment bank, fund management dan akuntan publik sebagai pendukungnya bisa dibilang overtime. Jam kerja yang panjang, sampai merembet ke weekend adalah “the norm” instead of “the exception”.
      Untuk investment banking dan analyst, kalau tidak ada pengalaman dan prestasi akademis terbatas, sangat sulit bersaing, apalagi di luar negeri. Ingat, saingan kita juga the cream of the crop, baik lulusan lokal maupun luar (mostly British and American educated kalau di Singapura). Kalau bisa lulus CFA, you might have a chance, but it’s definitely not easy either. Tapi since anda masih student, masih bisa luangkan waktu untuk belajar. Kalau sudah bekerja, thats a different story. One regret saya adalah tidak mengambil CFA saat di sekolah. Sekarang tidak ada waktu.
      Untuk kantor akuntan publik, mereka selalu merekrut fresh graduate, dan lebih mau compromise dengan standard nilai. Kenapa? The big 4 dihantui turnover-rate staff yang tinggi, terutama di entry level. Kebetulan group saya di kantor penuh ex-auditor big 4 yang tidak tahan kerja jam 7 pagi sampai jam 12 malam, 6 hari seminggu disaat musim audit. Kebanyakan hanya bertahan 2 tahun. Kenapa masih banyak yang mau di KAP? Karena bisa jadi batu loncatan untuk karir di tempat lain. Employer tahu kalau ex-auditor itu tahan banting. From the looks of it, kesempatan ini terbuka di Singapura.
      Wealth Management, tampaknya ini yang sedang berkembang di Singapura saat ini (and the whole Asia actually). Foreign banks seperti Credit Suisse, Citi dan HSBC sedang merekrut wealth managers dari berbagai negara asia karena Singapura telah menjadi salah satu pusat investasi untuk high net worth individuals. Kalau mau coba di Singapura, mungkin ini yang paling potensial. In any case, best of luck Daxon.

    • happy_land // Januari 24, 2008 pada 10:56 am

      In my own experience, jalur cepat bagi seorang ‘freshy’ utk berkarir di private banking (wealth mgmt) entrance nya adalah menjadi sales person dulu di foreign bank yg beroperasi di local, kan skrg banyak tuh yg buka branches di kota2 besar. Dan mereka pasti memiliki network dgn divisi private bank di kantor induk/ regionalnya (mostly in Sing.).

      Klo perfomance anda bagus akan makin terbuka peluang utk ke sana. Yang penting networking & sales drive hrs kuat, educational background (title) ngga prioritas tapi bhs Inggris anda mesti fasih.

      Semoga bermanfaat & good luck!

    • tycoon wannabe // Februari 26, 2008 pada 3:47 pm

      saya karyawan multinational company bidang engineering, usia 40, lagi getol belajar corp finance sama trading saham dan ada bbrp investasi property utk hari tua. saya terpesona sama investor2 yg sukses memainkan leverage spt Sandi Uno. adakah cara yang smart utk mencapai level spt ini tanpa harus lewat jenjang finansial spt CFA..? soalnya waktunya ngga ada dan usia produktif tinggal 10th lagi.. sy tertarik jadi kontraktor di bid property atau telco services, bgmn peluang sy di sektor ini ?

    • .. // Mei 9, 2008 pada 5:45 pm

      Yang paling mungkin tercapai kerja di KAP, tapi penghasilan tidak akan tinggi kalau tidak menjadi partner (hanya partner saja yg berpenghasilan tinggi).

      Investment banking perlu koneksi dan bergelar dari universitas ternama, biasanya dari Amrik.
      Tapi walaupun begitu i-banker dari Indonesia yg tersukses lulusan ITB. Dengan koneksi yg telah didapat dari 2 generasi, bisa mendapatkan proyek2x besar termasuk dari pemerintah. Saya dengar beliau mendapatkan bonus tertinggi USD5jt utk thn terbaiknya 2005/6; sayangnya beliau (dan juga istrinya) tentunya tidak sehumble Bahar.

      Private banking, ini pekerjaaan yg sangat buruk, dan utk menjadi sukses sangat tidak mudah dan diperlukan koneksi pula. Terakhir hair dresser dari salon terkemuka Le Salon di Singapura menjadi private banker salah satu private bank Swiss ternama. Kalau sudah sukses bayarannya bisa baik juga tapi tidak sebaik investment banking. Terakhir Goldman Sachs menarik satu private banker dari Citibank dengan sign on bonus SGD1.5jt

      Hedge fund menjadi salah satu tumpuan org2x investment banker yg sudah capai bekerja hampir 24 jam per hari dan kadang tidak tidur sama sekali selama beberapa hari. Bayarannya bisa menggiurkan juga.

      Koneksi dan koneksi adalah yg terutama utk mendapatkan semua pekerjaan ini. Dunia memang tidak adil; hanya sedikit sekali orang seperti Bahar yg dapat menembus dinding ketidak adilan dunia ini.

    • ANONIM // Juni 5, 2008 pada 12:57 pm

      Bahar adalah anak bangsa yang memang tipe pekerja keras,rajin dan ulet dengan kerja keras dan tekun karena minat terhadap suatu bidang berhasil melewati tahap-tahap belajar, dari lulus SMA saja bisa mengharumkan nama bangsa ^_^ tidak heran setelah lulus kuliah bisa mengaplikasikan ilmunya buat masyarakat . keep humble bahar
      well done!

      hehe boleh donk komentarin ini :
      “Koneksi dan koneksi adalah yg terutama utk mendapatkan semua pekerjaan ini. …”

      yah gak heran seh Indo terkenal ama kkn-nya
      soalnya kadang koneksi bisa jadi ajang kkn juga
      :P

      peace bro ^_^

    Tinggalkan Komentar