IHSG vs. Ekonomi Indonesia

Pefita said

There is a school of thought by Indonesian analysts saying that the growth in IHSG is relatively unhealthy, cos it isn’t matched with Indonesia’s economic growths. (index growth are mostly due to hot money from foreign investors, which, if taken out, can send IHSG into a deep plunge)

Ini bukan pertanyaan yang simpel.

Coba kita lihat fakta-faktanya dulu:

  • IHSG bukan gambaran akurat ekonomi Indonesia.
PDB 2005 atas dasar harga konstan 2000  
Sektor Persen
Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan 14.61%
Pertambangan dan Penggalian 9.34%
Industri Pengolahan 28.12%
Listrik, Gas, dan Air Bersih 0.68%
Bangunan 5.96%
Perdagangan, Hotel, dan Restauran 16.84%
Pengangkutan dan Komunikasi 6.30%
Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan 9.22%
Jasa-jasa 8.94%
PDB (Total) 100.00%

 

55 Saham terbesar & Masuk dalam Dow Jones Total Market Index terhitung 4 Mei 2007.  
Perusahaan % Kapitalisasi Pasar
Telekomunikasi Indonesia 21.96%
Bank Central Asia 8.04%
Astra International 6.76%
Bank Rakyat Indonesia 5.71%
Gudang Garam 4.62%
Bank Mandiri (Persero) 4.15%
Indosat 3.40%
Perusahaan Gas Negara 3.40%
Bumi Resources 3.05%
International Nickel Indonesia 2.87%
Global Mediacom 2.61%
Aneka Tambang 2.34%
Bank Danamon Indonesia 2.21%
United Tractors 2.04%
Lippo Karawaci 1.51%
Indofood Sukses Makmur 1.50%
Unilever Indonesia 1.45%
Bakrie & Brothers 1.37%
Kalbe Farma 1.29%
Semen Gresik (Persero) 1.17%
Medco Energi International 1.10%
Astra Agro Lestari 1.07%
Indocement Tunggal Prakarsa 1.06%
Berlian Laju Tanker 1.02%
Sinar Mas Agro Resources & Technology 0.98%
Bank Niaga 0.83%
Bank Internasional Indonesia 0.82%
Energi Mega Persada 0.81%
Bank Pan Indonesia 0.78%
Tambang Batubara Bukit Asam 0.75%
Citra Marga Nusaphala Persada 0.72%
Indah Kiat Pulp & Paper Corp. 0.68%
Truba Alam Manunggal 0.63%
Ciputra Development 0.56%
Kawasan Industri Jababeka 0.55%
Summarecon Agung 0.54%
Davomas Abadi 0.50%
London Sumatra Indonesia 0.45%
Ramayana Lestari Sentosa 0.43%
Hanjaya Mandala Sampoerna 0.42%
Panin Life 0.40%
Apexindo Pratama Duta 0.34%
Mobile 8 Telecom 0.33%
Bakrie Sumatera Plantations 0.32%
Ciputra Surya 0.32%
Bentoel Internasional Investama 0.32%
Holcim Indonesia 0.27%
Matahari Putra Prima 0.24%
Jakarta International Hotels & Development 0.24%
Tempo Scan Pacific 0.24%
Gajah Tunggal 0.20%
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia 0.20%
Bank Permata 0.17%
Lippo Bank 0.17%
Bank Negara Indonesia 0.06%
Total 100.00%

 

Sektor komunikasi dan keuangan mendominasi pasar saham di Indonesia. Telkom dan Indosat saja sudah 1/4 dari nilai IHSG. Perbankan membentuk 1/4 dari IHSG. Kalau dilihat dari ekonomi Indonesia, keuangan dan telekomunikasi membentuk hanya 15%. Sektor Pertanian & Industri Pengolahan sangat kurang diwakili di pasar saham.

 

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia kira-kira sekitar 5%-6% selama beberapa tahun terakhir.
  • Sebagai gambaran, ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh sekitar 3.4% setelah perang dunia ke-2 (1946-2006) per tahun.
  • Pasar saham AS telah memberikan return sekitar 8-10% per tahun (jauh lebih besar dari 3.4%).
  • Dana asing memang telah masuk ke Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Saya nggak punya data akurat tentang hal ini.
  • Calpers (California Public Employee’s Retirement System – dana pensiun paling besar di AS – dana > 157 miliar dollar AS) beberapa saat yang lalu membolehkan dirinya untuk investasi di pasar modal Indonesia.

Opini:

  • Pertumbuhan pasar modal tidak harus sama dengan pertumbukan ekonomi. Contoh: return pasar AS lebih dari 2 kali lipat pertumbuhan ekonomi AS. Bila ekonomi Indonesia tumbuh kira-kira 6% per tahun, bukan berarti IHSG harus tumbuh sebesar 6% per tahun juga.
  • Pertumbuhan pasar modal biasanya mendahului pertumbuhan ekonomi. Ekonomi Indonesia diprediksi untuk mempercepat di tahun-tahun mendatang. Optimisme yang kita lihat sekarang bisa saja sebagai antisipasi pertumbuhan ekonomi yang mungkin akan lebih baik di tahun-tahun mendatang.
  • Bertambahnya nilai suatu perusahaan lebih ditentukan oleh pertumbuhan keuntungan perusahaan tersebut. Kegiatan ekonomi suatu negara lebih dekat hubungannya dengan kegiatan perusahaan (sales) dari pada keuntungan perusahaan-perusahaan (profit). Bila sales naik x%, profit naik jauh lebih besar daripada x%. Makanya tidak heran bila pertumbuhan nilai perusahaan2 lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi.
  • Meskipun dana asing memang besar, saya belum melihat alasan mengapa mereka harus tiba-tiba keluar. Sampai saat ini, sentimen masih positif. Tentu saja ini bisa berubah setiap saat. Makanya prediksi nilai suatu aset atau pasar tidak bisa akurat dan variasinya sangat lebar.
  • Masuknya dana-dana pensiunan semacam Calpers, menurut saya pribadi, bisa menyokong pasar dan ekonomi dalam jangka panjang.
  • Saya tidak berpikiran kalau pertumbuhan IHSG tidak sehat. Apakah pertumbuhan yang tidak sehat?

Updated: Pertahatian => Opini di atas tidak berarti sebagai rekomendasi bahwa IHSG akan terus naik. Sentimen pasar bisa berubah setiap saat dan dalam waktu yang cepat, terutama bila sentimennya berubah ke sisi negatif.
Pertanyaan lain dari Pefita:

Bet STI had grown tremendously during first quarter too. Was it the same case as JSX?

Since the start of the year, STI (Straits Times Index – IHSGnya Singapura) has grown up by about 16%, while JCI (Jakarta Composite Index = IHSG) by about 14%.

and what do you think about China Supper-bubble-is-going-to-explode-soon thesis?

The Chinese market is unique in the sense that it is practically closed to foreigners and that locals can not easily move their money out of the country. With the wealth of the Chinese growing tremendously recently, those money need to go somewhere. Initially it was fuelling the property market. But then the government increased property sales taxes. What can the Chinese do? They can not invest overseas easily because of its currency control measure. They can either open businesses, put it into deposits, or invest the money in the equity market. But the interest rates is considerably low. So a significant portion of it is fueling the equity market. But is it going to end soon? The best guy to answer it is the Chinese official. There are the ones who guide where the money should go. Overnight, they can change policy and render all predictions useless. If there’s no significant policy change, I think the boom will continue in the short term.

Pos ini dipublikasikan di INDONESIA, Market Timing. Tandai permalink.

21 Balasan ke IHSG vs. Ekonomi Indonesia

  1. Perdana Wahyu S berkata:

    Kenaikan IHSG memang luar biasa, namun perbaikan di sektor real dirasakan kurang. Timbul gap antara market dengan real sector. Mungkin Market mengantisipasi pertumbuhan 12 bulan ke depan. Atau sektor real terlalu banyak hambatan birokratis untuk tumbuh?

  2. Bahar berkata:

    Mungkin begitu Pak.

    Menurut saya sih, hambatan di sektor real memang karena masalah birokrasi dan “kemacetan” di infrastruktur. Maksudnya: infrastruktur kita tidak bisa menyokong beban yang dikandungnya. Contoh: pelabuhan2, bandara2, jalan-jalan tol, listrik, air bersih dll sudah penuh kapasitasnya.

    Saya kira kalau infrastrukturnya mendukung, pertumbuhan sektor real bisa lebih tinggi lagi.

  3. Aussie berkata:

    Wah, market capnya IHSG bener2 didominasi sama Telecom & Financial Institutions ya…

    Kalo dibikin chart serupa buat perbandingan GDP distribution by sector vs. Market cap by sector untuk ekonomi di US / negara berkembang lain, bagaimana ya kira2 hasilnya? Apakah distribusinya akan juga sama2 tidak sebanding, tapi tidak sampai as skewed as IHSG?

    Salut sama perjuangan pencarian data Abang… Anyway, blog anda shaya link di blog shaya ya?

  4. Bahar berkata:

    IHSG memang didominasi oleh telcos n financial institutions.

    Buat negara yang masih berkembang, pasarnya biasanya didominasi oleh sektor perbankan, sektor infrastruktur seperti telekomunikasi atau properti, atau pertambangan kalau negara itu kayak bahan tambang.

    Perbankan dominan karena jalur financing yang tradisional biasanya memang lewat perbankan. Lama kelamaan, jalur-jalur financing yang lain (IPOs, Bonds, Convertibles, dll) mulai terbangun.

    Datanya gampang di dapat kok. Tinggal copy paste.

  5. Hardono Arifanto berkata:

    mo menjawab “Apakah pertumbuhan yang tidak sehat?”

    well .. kalo di tubuh manusia, tumor definitely gak sehat =P

    kalo di pasar modal, mungkin gak orang ‘selling on rumors, buy on fact’? (hehe.. baru denger sekali ini dari kamu)

    maksudnya, keep on buying to affect the market, once everyone start buying and the price is rising, you decide to pull your funds by selling all your stocks? (or the other way round, keep on selling and finally bought the shares at much discounted price)

    Btw, Indonesia ada law utk ngatur foreign investment gak sih? Like how many years the funds required to stay before pulled out?

    Masih terngiang2 lecturer BF204 (Financial Market & Institution) yang applauded Singapore’s strategy which helped Singapore not dragged too deep into 1997 (?) Financial crisis.

  6. Bahar berkata:

    “buying on rumours, selling on news”. => misalnya ada rumor kalo terjadi suatu perusahaan akan dibeli perusahaan lain. Buy the stock… terus sewaktu hal itu diumumkan ke publik, sell back the stock.

    “selling on rumours, buying on news”. => misalnya ada rumor kalo terjadi skandal keuangan di suatu perusahaan. Sell short the stock… terus sewaktu hal itu diumumkan ke publik, buy back the stock (cover your short selling).

    Buat beberapa saham yang kecil, bisa aja “keep on buying to affect the market”. Kalau di Indonesia disebut saham gorengan .

    Buat Indonesia sekarang sih, kalau gak salah, gak ada capital control. Maka gak ada minimal berapa lama dananya harus diparkir di Indonesia.

    Memangnya dulu Singapore pakai capital control waktu tahun 1997? Malaysia pakai waktu itu.

    Singapura sampai sekarang memamakai sistem “managed floating exchange rate”. Kurs dollar singapura di-peg ke beberapa mata uang besar dunia di mana negara-negara itu memiliki hubungan dagang yang kuat dengan Singapura.

  7. Pefita berkata:

    Thankyou yaah,for the food of thought.
    sampe dibikinin satu artikel khusus segala. hehe🙂

    Hore regional turun hari ini !! anyone subscribed??

  8. Bahar berkata:

    Kok hore? hehehe… seems like it was just a temporary dip…

  9. sonny berkata:

    boleh nanya gak? gw ada tugas basic investment… trus pertanyaannya market return rate tahun ini (recently) itu boleh tau berapa ya…….. thankyou

  10. Bahar berkata:

    yang anda maksud dengan market itu apa yah? market yang mana?

    salah satu cara mewakili market adalah dengan peng-index-an. Contohnya buat market di BEJ, kita ada IHSG, LQ45, JII, dll – tergantung dari bagian mana dari market yg ingin kita fokuskan.

    market return-nya berubah setiap saat. kalau buat IHSG misalnya, market returnnya = (Level Sekarang)/(Level Awal Tahun) – 1

  11. reslian berkata:

    hi bahar,
    of course you can’t just compare the economy growth par to par with the index growth. it’ll bee too simple of an analysis.

    it’s all about expectation … there are some models, despite its ineffectiveness, on how to calculate or determine stock prices such as divident growth model or price earning ratio, etc. you should factor the expectation on growth assuming the companies live forever (ongoing concern).

    the hot money is very real. i dont think the government quite know what to do with the current monetary regime. for the market with the size as small as Indonesian, liquidity plays a very, very crucial factor. it could bring down the biggest bank or the mutual fund industry. just a few of the examples. the hot money is all about liquidity, untamed liquidity one may say. and that is very dangerous.

    that just what i thought.

    best regards.

  12. Bahar berkata:

    hi reslian – thanks for your comments!
    of course what I wrote in the article is a rudimentary analysis. my point is actually for us NOT to compare the two (economic growth v.s capitalization weighted stocks index) par to par🙂
    well, reslian, actually i am no fan of dividend growth model (perhaps you are referring to dividend discount model) and its related kinds.
    firstly, i feel that the majority of investors are not so concerned about dividend payments far in the future.
    for those which are concerned, estimation of these future dividend levels is highly inaccurate.
    perhaps more fundamental is the question of whether there is such a thing as fair value (because the whole exercise of dividend discount model is trying to establish fair value of securities)
    like what you said, it may all be about future expectation. but the issue is what we mean by expectation and how we can gauge it at reasonable confidence. I believe there are complex factors driving future expectation, ranging from technical, fundamental, to players behaviours. These factors interplay with one another (some becoming more important than other at certain point in time).

    the hot money is very real. i dont think the government quite know what to do with the current monetary regime. for the market with the size as small as Indonesian, liquidity plays a very, very crucial factor. it could bring down the biggest bank or the mutual fund industry. just a few of the examples. the hot money is all about liquidity, untamed liquidity one may say. and that is very dangerous.

    I agree that liquidity is a very, very crucial factor – especially in driving asset prices.
    But I am not very sure whether liquidity is very dangerous. Let’s just assume that we are talking about the danger of liquidity (or more specifically: short term money migrated from outside the country) to the national economy of a relatively small country like Indonesia. I am no expert in this area. Nevertheless, I’ll share my opinion here.
    To me, by itself, liquidity is not dangerous. Whether or not liquidity is dangerous depends on the state of “financial connections among financially important institutions” in the country. For a country like Indonesia, I would identify the financially important institutions as:
    1.The central bank, Bank Indonesia. It manages our reserves, issues short term bills, and influences interest rates.
    2.Finance Ministry, Depkeu. It manages government’s bonds
    3.Commercial banks. Most companies rely on commercial banks to finance their business. Alternative sources of financing (equity offerings, bonds offering, private equity, VCs, etc) are not yet developed.
    4.Big corporate importers or exporters. Their activities implies movement of capital across borders
    5.Big domestic corporations if they have big foreign currency obligations.
    6.Mutual funds. I think they are big equity players now.
    7.Retail equity investors. I think this player is getting bigger now. More and more of my friends are getting involved.
    8.Long term foreign financing institutions like the JBIC, world bank, IMF, etc.
    9.Short term foreign financial institutions bringing “hot” money.
    By financial connections, I am referring to any financial arrangements between key institutions. For example: now commercial banks are strongly connected with the central bank through SBIs and central bank’s ability to influence interest rates.
    So, how are the short term financial institutions bringing hot money (player no. 9) currently connected with our financial system? I do not have accurate data, but my sense is that they are currently heavily connected through SBIs and equity. If they pull out from SBIs, the ones likely impacted first will be the commercial banks since they also heavily invested in SBI. Will it do serious damage? Perhaps the commercial banks will reduce their exposure to SBIs and even put through more loan for the real sector.
    If they pull out from equity, the ones affected most will be retail investors and those investing through mutual funds. I think the number of retail investors are not big enough yet to cause serious damage to the economy. I am not familiar with the profile of mutual funds investors in Indonesia. Should the equity market crash, these investors will feel the heat. But we should not forget that a substantial players in Indonesian equity players are also foreigners. The problems associated with equity price declines will be shared by foreigners too… Not entirely Indonesian.
    What about the effect of exchange rate depreciation if there’s a massive pullout of hot money? The key players affected will be corporate importer/exporter and those with foreign obligations. Currently, I think we export more than we import. The net effect will not be so bad.
    Fortunately, I think now our corporations do not have massive foreign currency borrowings like they did during 1997 crisis. Therefore their exposure to rupiah decline is limited.
    So, I think the movement of hot money does not automatically implies that they spread dangers around the world. How the system is presently interconnected is a crucial factor.
    The reason why Greenspan want to save LTCM was precisely because LTCM was heavily interconnected with key banks in the US at that time.
    comments and counter arguments will be very much appreciated.🙂
    Those with accurate data are most welcome🙂

  13. reslian berkata:

    hi again … i think you miss my point:

    “To me, by itself, liquidity is not dangerous. Whether or not liquidity is dangerous depends on the state of “financial connections among financially important institutions” in the country.”

    i was not arguing about liquidity per se … the problem that i tried to bring up was the liquidity brought by hot money. that’s what i was referring to as dangerous. it is dangerous because it’s short term and the the relatively small size of indonesian market.

    i just wrote down an article on this … please read it in http://ecosocrights.blogspot.com

    best regards,
    rp

  14. Bahar berkata:

    “Let’s just assume that we are talking about the danger of liquidity (or more specifically: short term money migrated from outside the country) to the national economy of a relatively small country like Indonesia”

    Hi Reslian… perhaps i should replace the word liquidity with liquidity brought by hot money because in my reply i had the notion of liquidity brought by hot money in my head when talking about the liquidity.

    I was arguing that the fact that liquidity brought by hot money is short term does not necessarily imply that it is dangerous.

    You have written an interesting article on your blog. I’ll put some comments later. Hope we can have a fruitful discussions.

  15. bayu berkata:

    kenaikan IHSG yang terjadi akhir – akhir ini menandakan bahwa minat investor untuk menanamkan modalnya juga semakin tinggi, tapi mengapa kenaikan yang terjadi pada IHSG tidak diikuti oleh pergerakan PDB yang semakin tinggi. padahal salah satu tujuan didirikannya pasar modal kan untuk meningkatkan perekonomian suatu negara. mengapa pertumbuhan IHSG yang terus merangsak naik dari tahun 2003 – 2007 tidak diimbangi dengan pertumbuhan PDB? tolong jelaskan…..Thank you……….

  16. ihedge berkata:

    First thing first. Setuju kalau salah satu tujuan akhir dibentuknya pasar modal adalah untuk meningkatkan perekonomian suatu negara. Dalam mencapai proses akhiri ini, ada proses penengahnya: yaitu menyediakan tempat alternatif bagi perusahaan yang ingin mencari dana secara lebih murah sesuai kebutuhan mereka. Hal ini bisa terjadi karena berbagai dana dari masyarakat yang tersebar bisa berkumpul jadi satu di pasar modal.

    Sekarang kita lihat apakah pasar modal kita sudah berhasil dari segi menyediakan alternatif pembiayaan. Dari segi ini sepertinya pasar modal kita belum berhasil. Jumlah IPOs baru masih sedikit (saya gak ada data pastinya).

    Satu poin lagi: Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pergerakan rata2 pasar modal. Prospek pertumbuhan PDB hanya satu faktor internal. Faktor2 lain dari dalam negeri dan luar negeri juga berpengaruh.

  17. Sugiarto Sumas berkata:

    Pertanyaan yang mendasar adalah ada tidak hubungan antara pasar modal dengan perekonomian Indonesia. Apa ya kira kira sumbangsih pasar modal terhadap perekonomian Indonesia. Untuk menjawab hal tersebut, berikut adalah hasil analisa berdasarkan data pasar modal yang terbatas. Sebab tidak mudah mengakses ke Bursa Efek Jakarta, karena harus berlangganan atau bayar. Kapan ya barang publik seperti ini bisa gratis. Padahal Bursa Efek Indonesia berdasarkan undang undang bukan lembaga mencari keuntungan.
    Nah, berikut hasil analisanya. Secara teoritis kaitan pasar modal dengan perekonomian adalah melalui transmisi modal sebagai sumber pembiayaan investasi. Dengan nilai kurs dunia r* tertentu, maka modal yang didapatkan dari pasar modal akan menggeser kurva investasi I ke kanan, dan menggeser pengeluaran yang direncanakan ke atas pada kurva Keynesian Cross, dan menambah pendapatan Y = (▲I) / (1-MPC), serta menggeser kurva IS* ke kanan.

    Pendekatan teoritis lainnya tentang kaitan pasar modal dengan perekonomian adalah melalui permintaan uang riil (M/P)d. Kita ketahui bahwa terdapat hubungan terbalik antara permintaan uang dan permintaan aset. Ketika permintaan uang turun, aset saham dan aset obligasi naik. Selanjutnya, karena (M/P)d tetap, maka suku bunga turun, dan investasi geser ke kanan, sehingga pada tingkat bunga tertentu, jumlah investasi naik, kurva investasi geser ke kanan, dan pendapatan nasional naik.

    Dari perspektif perekonomian nasional tidak seluruh perdagangan efek dapat dihitung sebagai investasi nasional. Perdagangan pasar primer, contohnya pembelian terhadap initial public offering (IPO), memenuhi syarat sebagai sarana meningkatkan investasi nasional. Sementara kegiatan pasar skunder, melalui arbitrase, yaitu kegiatan membeli / menjual efek agar mendapatkan keuntungan dari selisih hasil, tidak dapat digolongkan sebagai investasi nasional yang akan menghasilkan pertumbuhan perekonomian nasional.

    Secara empiris, kinerja pasar modal di Indonesia terhadap perekonomian nasional masih relatif kecil dan agak tertinggal dari negara lain. Keadaan ini sekaligus memberikan signal tentang masih terbuka lebarnya peluang memajukan pasar modal di Indonesia.

    Dari analisa diskriptif terhadap data pasar modal yang berhasil dikumpulkan, terdapat kaitan antara pasar modal dan perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat diamati dari fluktuasi pasar saham dan aktivitas ekonomi yang cendrung bersamaan. Secara konkret pergerakan pertumbuhan kapitalisasi saham dan pertumbuhan PDB hampir bersamaan. Juga, terdapat keselarasan fluktuasi antara pertumbuhan IHSG dan pertumbuhan kapitalisasi obligasi.

    Meskipun dari sisi pertumbuhan terdapat keselarasan fluktuasi antara pasar saham dengan PDB, dan antara IHSG dan kapitalisasi obligasi, namun tidak ada hubungan antara kapitalisasi saham sektor dengan jumlah PDB sektor. Hal terakhir ini tentunya ada kaitannya dengan rasio kapitalisasi pasar saham dan jumlah GDP yang masih kecil, sebagai contoh tahun 2004 hanya sebesar 28 %, sementara Hongkong 497 %, Singapore 195 %, Malaysia 156 %, Amerika Serikat 129 %, Jepang 81 %, Thailand 68 %, dan Korea 51 %. Data terakhir ini diambil dari blog Skeptical Empiricist Lho.

  18. yadiwidjaja berkata:

    Diskusi yang menarik dan mencerahkan. Sorry pertanyaan yang sedikit OOT dengan judul.

    Kalau bicara IHSG bukankah salah satu faktor ialah Price to Earning (PE) ratio yang menentukan kemampuan Earning dibanding Price yang kita bayar.

    1. Bagaimana analisa PE IHSG dibanding bursa saham negara lain.
    2. bila PE sangat tinggi bisakah ini jadi sinyal bubble economy?

  19. nadhya berkata:

    mau tanya.. saya mau bikin skripsi dan mau mengangkat masalah tentang ini “pertumbuhan ekonomi vs IHSG pd sektor rill” bisa bantu gak dimana bisa cari reverensi jurnal2nya… udah buntu bgt soalnya.. nyari kemana2 gak dapet.. makasih ya..

  20. anton berkata:

    mas bahar.

    saya kan saat ini kerja di qatar yg mata uangnya QR (qatari riyal) di peg thd US$ dgn nilai 3.645, juga di negara2 arab GCC lain spt UAE, saudi, bahrain, dan oman, kecuali kuwait. saya masih bingung dasar keputusan ini… kawan2 kolega saya (org indo sih mereka, dan bukan ekonom ;-)), lebih banyak mengkaitkan ini dalam kaca mata politik, yg menurut mereka bertujuan memperkuat ekonomi US. memang ada pengaruhnya tdh ekonomi AS dr pegging valas neg lain dengan US$ ?

    saya tidak punya pretensi apapun thd suatu negara, jadi terus terang saya tidak bisa mempercayai pendapat, mengingat setahu saya mata uang cina Yuan pun nilainya di pegging ke US$, terkait dgn besarnya trasaksi cina ke zona dollar. apakah ini jg yg mendasari negara GCC (gulf country council) mem-peg mata uang mereka ke US$ ? bahkan, setelah nilai currency GCC terdepresiasi akibat pelemahan dollar (gaji gua ikutan turun neh mas :)), mereka belum berencana men-depeg thd dollar dan hanya berencana me-revaluasi, juga menuju rencana singgle currency di GCC.

    gimana sih nih mas, apa analisa anda kedepan. thanks atas penjelasannya.

  21. aswien berkata:

    mohon info data diatas/fakta-fakta diatas itu bisa qt dapat dimana ya….
    terimakasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s