Menilai Pernyataan

Pernahkah Anda mendengar pernyataan peramal seperti di bawah ini:

A. “Anda akan segera bertemu seseorang yang akan mengubah hidup Anda”
B. “Sabtu ini, Anda akan bertemu seorang pemborong yang akan membeli kedondong di rumah Anda”

Atau pernyataan dari komentator pasar:

A. “Saya pikir IHSG akan naik. Saya bullish.
B. “Saya pikir IHSG akan naik paling tidak 5% dari level sekarang tanpa turun 1% duluan sebelum akhir bulan ini. Saya bullish.

Atau pernahkah Anda mendengar ceramah dari seminar teknikal analisis seperti ini:

A. “Setiap kali harga mendobrak resistance level ke atas, maka itu artinya bullish“. Si pembawa seminar berkata begitu sambil menunjukan beberapa contoh chart yang mendukung pernyataannya.
B. “Setiap kali 10 days moving average crossed over 25 days moving average, maka ada 60% chance harga akan ditutup naik 5 hari mendatang.”

Pernyataan A, bisa langsung masuk ke tong sampah. Pernyataan B, bisa dipertimbangkan. Kenapa?

Pertanyaan A masuk tong sampah bukan karena kurang detail, tapi karena pernyataan A tidak bisa disalahkan. Semua pernyataan yang tidak bisa disalahkan tidak memiliki nilai informasi dan tidak mampu menambah ilmu pengetahuan kita => Karl Popper

“Anda akan segera bertemu seseorang yang akan mengubah hidup Anda”.

Kapankah segera itu? Apa yang diubah? Dari apa menjadi apa? Kalau 1 tahun lagi Anda kembali ke peramal itu dan berkata bahwa Anda belum bertemu dengan seseorang yang mengubah hidup Anda, si peramal akan mengelak: “Anda masih harus bersabar menunggu”, atau “Anda sudah bertemu kok cuma Anda tidak menyadari perubahan dalam hidup Anda.”

“Saya pikir IHSG akan naik. Saya bullish.

Kapan akan naik? Seberapa besar? Kalau tiba-tiba IHSG crash dan diikuti 1 bulan kemudian naik 10% dari level semula, mungkin si komentator akan berkata: “Tuh kan, apa saya bilang, crash kemarin cuma koreksi dan IHSG tetep naik, akhirnya.”

“Setiap kali harga mendobrak resistance level ke atas, maka itu artinya bullish“.

Anda menyodorkan beberapa chart yang kelihatannya bertentangan dengan pernyataan dia atas. Si penceramah mungkin mengelak, “Oh, resistance level-nya bukan di situ, tapi di sini”, atau “Dobrakannya kurang jelas.”

Pernyataan B memungkinkan kita untuk menyalahkan isi dari pernyataan di dalamnya. Oleh karenanya, pernyataan B patut dipertimbangkan.

“Sabtu ini, Anda akan bertemu seorang pemborong yang akan membeli kedondong di rumah Anda”. Kalau ternyata pernyataan ini terbukti salah, Anda tahu kalau Anda tidak perlu datang ke peramal ini lagi.

“Saya pikir IHSG akan naik paling tidak 5% dari level sekarang tanpa turun 1% duluan sebelum akhir bulan ini. Saya bullish.” Pernyataan seperti ini memungkinkan kita untuk mencatat track record si komentator. Seberapa akuratkah prediksinya.

“Setiap kali 10 days moving average crossed over 25 days moving average, maka ada 60% chance harga akan ditutup naik 5 hari mendatang.” Pernyataan ini memungkinkan kita untuk mengetes ke-valid-annya di masa lampau.

Tingkatan nilai pernyataan:

1. Tak bernilai => Tidak bisa disalahkan.
2. Lebih bernilai => Bisa disalahkan, dan terbukti salah.
3. Bernilai => Bisa disalahkan, dan tidak terbukti salah.

Kita belajar pengetahuan baru, bukan dari apa yang terbukti benar, tapi dari menyingkirkan satu-satu apa yang terbukti salah. Pernyataan yang tidak bisa disalahkan tidak memberikan kesempatan bagi kita untuk belajar pengetahuan baru.

Pos ini dipublikasikan di TANYA KEMBALI. Tandai permalink.

10 Balasan ke Menilai Pernyataan

  1. edratna berkata:

    Mas Bahar,

    Sebenarnya memperkirakan harga saham naik atau turun…mirip dengan analisa kredit ya. Kalau kita amati, misal melalui http://www.etrading.co id…kemudian kita lihat secara total pergerakan harga saham…dan kemudian kita lihat saham tertentu, maka kita bisa memperkirakan harga saham seminggu kedepan (dengan catt. tak ada yang bikin shock…pernyataan2 yang tak perlu dari pejabat). Untuk investor asing, mereka lebih percaya pada analisis, tingkat kesehatan perusahaan/emiten….lihat aja saham 2 Bank, sekarang bertaut agak banyak, padahal biasanya saling mengikuti…ternyata mereka menilai Bank yang satu (harga saham lebih rendah) LDR nya masih rendah…sedang lainnya kuat di sektor ritel, LDR di atas rata2 perbankan Indonesia, laba triwulan I meningkat. Bener nggak nih analisisku?

    Sedang analisis kredit, juga akan memperkirakan apakah perusahaan A akan dapat mencapai target penjualan, sehingga dia memerlukan tambahan modal kerja. Atau pabrik X, kapasitas produksi di atas 80 %, padahal permintaan pasar sangat banyak, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas dengan pembelian mesin baru, yang berarti diperlukan kredit investasi.

    Ketrampilan dua hal di atas berbeda, tapi tetap bisa dilatih.

  2. Bahar berkata:

    Sebenarnya memperkirakan harga saham naik atau turun…mirip dengan analisa kredit ya.

    Ada benarnya Bu. Ada kaitan antara memperkirakan harga saham (lebih jangka panjang) dengan analisa kredit. Apalagi kalau kita membandingkan analisis kredit dengan analisis harga saham secara fundamental.
    Dari penjelasana Ibu, tersirat bahwa Ibu akan memberikan kredit kepada perusahaan yang benar-benar segera membutuhkan dana segar untuk ekspansi usahanya. Jadi tersirat bahwa kredit diberikan ke perusahaan yang memang sedang tumbuh. Perusahaan yang sedang tumbuh berkembang (growth companies) juga adalah salah satu tipe jenis perusahaan yang disukai sebagian investor. Buat investor seperti mereka, mereka percaya dengan potensi growth companies dan tentunya berharap harga saham growth companies ini akan outperform saham-saham lainnya di jangka panjang.
    Saya kesulitan mencari kaitan antara analisa kredit dengan melihat pergerakan saham-saham misalnya melalui etrading.co.id. Dengan melihat harga total pergerakan saham-saham di sana, bisa dibilang Ibu berusaha mengukur tingkat sentimen pasar. Kemudian Ibu zoom in dan melihat pergerakan saham-saham tertentu. Saya tidak tahu saham-saham mana yang dilihat. Mungkin bisa dibilang Ibu sedang melihat sentimen ke saham-saham tersebut. Bisa juga Ibu sedang melihat tipe saham-saham yang sedang aktif diperdagangkan. Aktivitas Ibu ini bisa dibilang sebagai analisa teknis (walaupun tidak menggunakan metode-metode analisa teknis pada umumnya). Analisa teknis dan analisa kredit menurut saya melihat hal yang berbeda.

    Untuk investor asing, mereka lebih percaya pada analisis, tingkat kesehatan perusahaan/emiten…

    Ini juga tergantung dari tipe-tipe investor asingnya. Kalau kita berbicara tentang investor asing dari institusi-institusi keuangan (institutional investor), mereka cenderung untuk lebih terikat oleh “best practices” yang mengharuskan mereka untuk mengikuti analisis-analisis tertentu. Kalau kita berbicara tentang investor asing yg berupa hedge funds, tentu mereka lebih percaya dengan analisa mereka sendiri, yang bisa berupa fundamental, teknikal, keduanya, atau yang lain2. Ada juga investor asing yang berupa retail investors. Mungkin mereka akan menggunakan lebih sedikit analisa-analisa terstruktur.

    lihat aja saham 2 Bank, sekarang bertaut agak banyak, padahal biasanya saling mengikuti…ternyata mereka menilai Bank yang satu (harga saham lebih rendah) LDR nya masih rendah…sedang lainnya kuat di sektor ritel, LDR di atas rata2 perbankan Indonesia, laba triwulan I meningkat. Bener nggak nih analisisku?

    Mungkin analisa Ibu (melebarnya gap antara 2 bank yang biasanya bertautan adalah karena perbedaan level LDR dan laba triwulan I) betul, mungkin juga salah. Yang paling debatable di sini adalah bagian setelah kata “karena”. Untuk sebagian investor, “karena” tidak terlalu penting.

  3. timotius berkata:

    tmpi katanya suspend sampai hari selasa,,jangan heran kalo wkt buka tdk ada yg ngebid karna selama ini bid dan offer hanya tipuan belaka lagipula bahaya untuk repo2 yg mendekati harga cut

  4. Bahar berkata:

    Hoho… ada insider info yah bro?😀

  5. herman berkata:

    Semua pernyataan tautologous adalah benar secara logika, tapi tidak semua yang secara logika benar adala tautologous.

  6. Bahar berkata:

    care to elaborate more?

    kebanyakan pembaca di sini mungkin tidak paham dengan maksud pernyataan bung Herman. akan lebih mudah dimengerti kalau penjelasannya tidak memakai tabel logika.

    cheers.

  7. Dani berkata:

    MAs Bahar,

    Menarik sekali pembahasannya, tapi bisa bagaimana mengenai psikologi berinvestasi/trading?
    selama ini walaupun pake metodologi FA, TA tetep aja kadang lupa disaat2 saham2 melejit/dibanting.
    Segala macem PER/PEG, ataupun MACD, MA,nggak dipake sama sekali, :p
    oh ya salam kenal sebelumnya..

  8. Bahar berkata:

    salam kenal juga mas Dani. Mungkin pada saat-saat yang disebutkan PER/PEG, ataupun MACD dan MA gak perlu dipakai.

  9. Adi berkata:

    “Jadi tersirat bahwa kredit diberikan ke perusahaan yang memang sedang tumbuh”

    ngomong2 soal expansi jadi inget peristiwa “dot-com boom” di amerika tahun in mid 90s. Banyak perusahaan2 online yg membangun capital lewat IPO hanya utk jadi kaya dalam waktu yang singkat karena menciptakan “image” di pasar modal..kok bisa ya major IB berhasil raise capital pada saat itu, padahal business model perusahaan2 .com ini gak begitu jelas?

    Mas bahar, Sebenernya tau kalo stock itu overstated ato understated tuh gimana seh, “rule of thumb” nya klo dari fundamental persspecive, kan P/E ratio yg dipake ya?

  10. ihedge berkata:

    @Adi: Tentang booming dot.com itu, menurut saya major IB berhasil menarik dana karena mereka berhasil menjual “janji”, suatu “janji” yang sangat muluk tentang “new economy” dan tentunya sebagian besar orang tidak akan tahu bagaimana “new economy” itu akan terjadi. Yang penting buat investor, bukanlah apakah harganya terlalu mahal atau terlalu murah, tetapi apakah akan bisa menjual dengan lebih mahal lagi. Dengan sentimen yang berkembang waktu itu, kemungkinan untuk menjual saham yang dibeli waktu itu dengan harga yang lebih mahal bukanlah hal yang mustahil.

    Mungkin episode itu mirip-mirip dengan kasus The South Sea Company di London ratusan tahun yang lalu.

    Tentang rule of thumb: hmm… mungkin agak simplistik untuk menggunakan PE sebagai patokan. Kalau pun tetap mungkin ingin menggunakan PE sebagai rule of thumb, menurut saya lebih baik kalau membandingkannya dengan rata-rata PE di industri tersebut. Setiap industri cenderung memiliki rata-rata PE yang lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s