TMPI: Saham Gorengan?

Tadi sore saya dikasih tau teman di Jakarta tentang saham TMPI. Hari ini, saham itu turun 24.84%. Kalau Anda termasuk yang sial membeli saham itu beberapa menit sebelum jatuh, mungkin Anda telah rugi 36.6% hanya dalam beberapa menit saja. Kalau Anda membelinya dengan margin di harga itu, ruginya bisa berlipat lagi.

TMPI.2

Apa itu saham gorengan? Mungkin definisi yang cukup realistis adalah saham yang dijadikan ajang spekulasi sehingga pergerakan harganya seolah-olah terpisah dari faktor-faktor fundamental perusahaan tersebut dan terpisah dari sentimen pasar secara keseluruhan. Rumor selalu bertiup. Satu atau beberapa “bandar” dan kawanannya bekerja sama untuk berusaha menggiring pergerakan saham. Biasanya, saham-saham yang dipakai adalah saham yang bukan blue chips atau saham berkapitalisasi kecil dan memiliki cerita yang menarik untuk dihembuskan. Saham blue chips sulit untuk digoreng karena (a) jumlah saham yang beredar biasanya jauh lebih banyak sehingga sulit untuk memonitor pergerakannya (b) pemiliknya bervariasi dari investor dalam negeri dan luar negeri dan mungkin tidak tertarik goreng-menggoreng (c) mungkin tidak ada satu pun pemegang mayoritas yang bisa berperan sebagai bandar.

Kalau Anda biasa melihat chart saham, mungkin Anda akan merasa ada yang aneh di chart harian saham TMPI. Terlalu rapih dan teratur untuk sebuah harga saham yang tidak dimanipulasi.

After the fact, mudah untuk berkomentar dan mungkin menjelaskan mengapa TMPI jatuh. Before the fact (sebelum TMPI jatuh), sulit untuk memprediksi kapan saham ini akan jatuh, kecuali kalau Anda masuk dalam inner circle di saham ini (the big boys atau bandar). Saya tidak akan berspekulasi mengapa TMPI jatuh tadi sore.

Kalau Anda tidak masuk di dalam circle tersebut, menurut saya akan lebih bijaksana untuk membatasi dana Anda di saham-saham seperti ini.

Kalau Anda berpikir bahwa stop loss order bisa mengurangi resiko Anda, coba lihat betapa cepatnya harga jatuh (3 menitan). Stop loss Anda tidak akan efektif.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di INDONESIA. Tandai permalink.

18 Balasan ke TMPI: Saham Gorengan?

  1. timotius berkata:

    ini sesuatu yg direncanakan karna ada beberapa org yg telah menjual saham2 tmpi beberapa saat sebelum turun…tmpi kenapa hampir selalu tutup di harga tertinggi??karna yg main ya org yg sama.
    hari ini mgkn yg selamat ialah org yg analisisnya fokus kepada candlestik…ini seperti kasus pgas.

  2. edratna berkata:

    Bahar,

    Nulis tentang transaksi derivatif dong. Akhir-akhir ini, juga di Kontan, diberitakan tentang kerugian Indosat akibat transaksi derivatif. Sebetulnya transaksi derivatif bukan salah, ini merupakan salah satu pilihan agar dana tak idle, dan memang ada risiko untung ataupun rugi.

    Ingat nggak case salah satu Bank BUMN yang rugi besar gara2 tak segera cut loss, akibat transaksi derivatif, yang terjadi sebelum krisis moneter?

  3. Bahar berkata:

    Iya Bu, rencananya mau nulis tentang kasus Indosat itu. Tapi sebelum membahas kasus itu, perlu mengenalkan Cross Currency Swap & Interest Rate Swap dulu.
    Baru baca kasusnya kemaren setelah diingetin sama salah satu pembaca di sini. Tapi sampai Sabtu ini lagi sibuk banget dan agak kecapekan.. :(

  4. edratna berkata:

    Tulisannya aku tunggu. Saya paham bidang treasury, tapi sekedar memahami karena sehari-hari nggak melaksanakan. Karena kasus Bank BUMN dulu, di BUMN ada batasan delegasi wewenang untuk melakukan transaksi derivatif, dan tiap sore harus closed. Jadi semua tercatat, apa hasil akhirnya, rugi apa untung.

    Benar juga sih, memang harus ditulis dari prinsip dasarnya dulu, nggak apa-apa bertahap. Ternyata sulit ya menulis, agar orang lain memahami. Dan tulisan di blog harus di buat sedemikian rupa, untuk mudah di baca, tak bertele-tele…walau kadang hasilnya jadi kurang mendalam.

  5. Bahar berkata:

    “Ingat nggak case salah satu Bank BUMN yang rugi besar gara2 tak segera cut loss, akibat transaksi derivatif, yang terjadi sebelum krisis moneter?”

    Wah, gak inget nih. Waktu itu kan masih SMU… hehehe.. :)

    “Karena kasus Bank BUMN dulu, di BUMN ada batasan delegasi wewenang untuk melakukan transaksi derivatif, dan tiap sore harus closed.”

    Mungkin ini adalah solusi atas masalah yang kurang dipahami. Dengan dibatasi kayak gini sebenarnya BUMN jadi kurang fleksible. Tapi memang orang yang melakukan transaksi ini buat BUMN mesti tau apa yang dia lakukan sih.

  6. edratna berkata:

    Memang Bahar saat itu masih SMU…tapi biasanya bukankah case-case seperti ini jadi bahan pembelajaran? Seperti case Bearing…yang mengakibatkan Bank nya tutup?

  7. Bahar berkata:

    Kalau Nick Leeson dengan Barings Bank tahu. Buku-buku yang saya baca gak mencantumkan kasus BUMN yg di Indonesia itu, mungkin karena impact global-nya gak terlalu besar, atau karena buku2 itu ciptaan orang2 barat…
    Ada referensi yang akurat tentang kasus itu Bu? Bank apa sih? Tahunya sih pas tahun 97an itu ada beberapa bank yang dilikuidasi, cuma gak tahu kalau salah satunya akibat transaksi derivatif yg bukan untuk tujuan hedging.

  8. edratna berkata:

    Salah satu dari Bank yang akhirnya di merge menjadi Bank Mandiri. Kasusnya sebelum tahun 97 (entah tahun 95 atau 96), kebetulan CEO tempatku kerja dulunya pernah kerja di Bank tsb dan sangat terpukul. Dulu dealer dari Bank tsb sangat terkenal kepiawaiannya…Bank asingpun menaruh hormat pada mereka.

    Memang risiko dari transaksi derivatif karena manusia sering emosi…kalau rugi masih berpikir, ini hanya sementara…lama-lama menumpuk sehingga saat cut loss sudah sangat terlambat. Juga untuk orang tertentu, yang dianggap kualifikasinya tinggi, kewenangan sangat besar bahkan unlimited.

    Transaksi derivatif untuk tujuan hedging, ada batasan waktunya, dan memang diperlukan. Kasus yang saya ceritakan bukan untuk tujuan hedging, tapi untuk “make money”…kenyataannya bukan untung yang didapat.
    Masalahnya , permasalahan di perusahaan korporasi ataupun Bank, terutama yang sudah go public bisa menyeret reputasi auditor nya, terutama jika auditor tak memberikan catatan.

    Belajar dari kasus tsb, Bank BUMN diminta membenahi peraturan di bidang Treasury, Bank Indonesia juga aktif memonitor, karena selain mendapat fee besar bidang ini juga sangat berisiko (mana ada ya bidang di lembaga keuangan yang tak berisiko???).

    Ingat Dicky Iskandardinata? Kalau tak salah kasus nya juga transaksi derivatif, saat menjadi Wadirut di Bank Duta.

  9. Bahar berkata:

    “Juga untuk orang tertentu, yang dianggap kualifikasinya tinggi, kewenangan sangat besar bahkan unlimited.”
    Biasanya sih kasusnya seperti itu. Seseorang entah karena skills atau luck dianggap kualifikasinya tinggi dan diberi kewenangan yang luar biasa. Sampai akhirnya bad luck menghampiri… Nick Leeson juga dulu sangat dipercaya oleh Barings Bank.

  10. abing berkata:

    @ timotius, bukankah dari dulunya juga TMPI ada yg jual?
    kalo gak ada yg jual mana mungkin pernah ada transaksi…

    TMPI ga pantas disamain dengan PGAS…

    dengan MITI barangkali ya..(kejadian hari ini MITI auto reject)…

    TMPI belum aman dibeli >2000 kalo melihat mayoritas pemegang saham ini yg di kisaran 1400-1600 an.

    dgn menjual di 2000an aja mereka udah cuan..

  11. arul berkata:

    pengen tau banyak tentang jual beli saham… :)

  12. papabonbon berkata:

    Kasus Bank Duta, Dicki Iskandardinata, salah satu cucunya Otto iskandar Dinata [pahlawan nasional],s alah satu kasus financial terbesar dasawaarsa itu.

  13. papabonbon berkata:

    kasus yg lebih rumit ari bank duta berkaitan dgn derivatif yg super komplek adalah jebolnya indeks Nikei karena kasus yamaichi bankrut. padahal yg transasksi bukan yamaichinyalangsung, tapi anak perusahaannya.

  14. sam berkata:

    fasilitas stop loss order apakah benar2 ada ??

    kalau ada…. dimana ?? dan bagaimana cara kerjanya ??

    terima kasih

  15. ihedge berkata:

    Ya ada. Tanyakan saja sama broker-nya.

    Misal posisi Anda LONG. Kalau harga aset turun lebih rendah dari STOP LOSS level yang Anda set, maka sell order akan di-trigger. Broker Anda akan menjual aset Anda, tentu harga penjualan belum tentu sama dengan STOP LOSS level yang Anda set.

  16. zay berkata:

    aku pengen tahuapa sihc saham itu?di tv sering diomongin soal saham.emang saham itu apa?aku nggak mau dibilang kuper soal ginian.

  17. basten berkata:

    sama kaya arul, pengen tahu lebih banyak soal saham and pasar modal.
    and pengen ikut bermain dalam jual beli saham.
    but like this case, there’s so many big risk to join….

  18. gunadi berkata:

    butuh info mengenai pemehang saham bank duta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s