Interest Rate Swaps – Perkenalan

Beberapa artikel tentang kontrak derivatif telah dibahas di sini. Sejauh ini, kita telah melihat Options, Futures, dan Forward. Lahirnya kontrak-kontrak derivatif itu didorong oleh keinginan untuk mentransfer resiko dari satu pihak ke pihak lain. Itulah sebabnya, kontrak derivatif seharusnya dipandang lebih sebagai alat untuk hedging daripada alat untuk spekulasi. Dalam artikel ini kita akan membahas satu lagi kontrak derivatif yang disebut interest rate swaps.

Swaps pada dasarnya adalah kontrak antara dua pihak di mana mereka akan menukar beberapa cash flows di masa depan. Ada banyak tipe Swaps.

Jenis swaps yang paling populer dan paling simpel adalah plain vanilla – interest rate swaps (sebut saja interest rate swap). Di kontrak ini, yang dipertukarkan adalah bunga dari suatu nominal dana: satu pihak menerima bunga yang tetap (fixed) dan membayar bunga tidak tetap (floating) sedangkan pihak lain menerima bunga yang tidak tetap (floating) dan membayar bunga yang tetap (fixed) untuk beberapa periode mendatang. Simpel kan?

Contoh: Misalnya Indosat memasuki kontrak interest rate swaps dengan Bank A di mana, setiap tanggal 10 Juni (setahun sekali), Indosat akan membayar 10% dari nominal kontrak kepada Bank A dan Bank A akan membayar sebesar SBI rate yang berlaku kepada Indosat setiap tanggal 10 Juni. Nominal kontrak sebesar Rp 2 triliun. Kontrak berlaku selama 10 tahun kedepan dan berakhir pada tahun 2017.

Bagaimana efek dari transaksi ini bagi Indosat bila skenario berikut berlaku.

      Nominal = Rp2000 Milyar
Skenario 1          
Tanggal SBI yg berlaku Bunga Tetap Indosat Bayar Indosat Terima Untung/Rugi
10 Juni 2008 9.00% 10.00% Rp200 Rp180 -Rp20
10 Juni 2009 8.00% 10.00% Rp200 Rp160 -Rp40
10 Juni 2010 7.00% 10.00% Rp200 Rp140 -Rp60
10 Juni 2011 8.50% 10.00% Rp200 Rp170 -Rp30
10 Juni 2012 9.50% 10.00% Rp200 Rp190 -Rp10
10 Juni 2013 8.50% 10.00% Rp200 Rp170 -Rp30
10 Juni 2014 7.50% 10.00% Rp200 Rp150 -Rp50
10 Juni 2015 6.50% 10.00% Rp200 Rp130 -Rp70
10 Juni 2016 5.50% 10.00% Rp200 Rp110 -Rp90
10 Juni 2017 4.50% 10.00% Rp200 Rp90 -Rp110
           
Skenario 1          
Tanggal SBI yg berlaku Bunga Tetap Indosat Bayar Indosat Terima Untung/Rugi
10 Juni 2008 10.00% 10.00% Rp200 Rp200 Rp0
10 Juni 2009 11.00% 10.00% Rp200 Rp220 Rp20
10 Juni 2010 10.50% 10.00% Rp200 Rp210 Rp10
10 Juni 2011 12.00% 10.00% Rp200 Rp240 Rp40
10 Juni 2012 13.00% 10.00% Rp200 Rp260 Rp60
10 Juni 2013 14.50% 10.00% Rp200 Rp290 Rp90
10 Juni 2014 17.00% 10.00% Rp200 Rp340 Rp140
10 Juni 2015 16.00% 10.00% Rp200 Rp320 Rp120
10 Juni 2016 15.00% 10.00% Rp200 Rp300 Rp100
10 Juni 2017 14.00% 10.00% Rp200 Rp280 Rp8

Di skenario pertama, ternyata SBI rate terus turun beberapa tahun kemudian. Dalam kasus ini, Indosat rugi dalam transaksi Swaps ini. Di skenario kedua, Indosat untung karena ternyata SBI rate naik beberapa tahun kemudian.

Bagaimana sebuah kontrak Swaps bisa digunakan untuk hedging?

Misalkan PT Telkom telah mengeluarkan surat obligasi dengan kupon yang tidak tetap sebesar SBI rate + 2% (floating rate bond) dan dibayar setahun sekali setiap 5 Maret selama 10 tahun dengan nilai nominal 2 triliun. Jadi setiap 5 Maret, PT Telkom akan membayar kupon kepada pemilik obligasi sebesar (SBI rate+2%) x 2 triliun.

Buat PT Telkom, besarnya kupon yang harus dibayar pertahun tidak pasti. Kalau tiba-tiba SBI rate naik drastis karena pemerintah menaikan harga minyak atau karena hal lain, maka PT Telkom harus membayar kupon yang naik drastis juga. Ini merupakan sumber resiko bagi neraca keuangan PT Telkom. Apa yang bisa PT Telkom lakukan untuk menghilangkan resiko itu?

PT Telkom bisa memasuki Interest Rate Swaps dengan pihak lain di mana ia menjadi pihak yang membayar fixed x% dan pihak lain membayar floating sebesar SBI rate yang berlaku. Berapa besar x% itu? PT Telkom harus bernegosiasi dengan dengan pihak lain tersebut.

Dengan memasuki kontrak tersebut, maka cash flows PT Telkom akan berubah menjadi (x% – SBI + SBI + 2% ) x 2 triliun = (x% + 2%) x 2 triliun per tahun. Karena x itu tetap, maka PT Telkom telah mengubah cashflow yang tadinya tidak menentu, menjadi cashflow yang tetap. Resiko naik turun SBI rate telah dihilangkan.

Pos ini dipublikasikan di DERIVATIF. Tandai permalink.

20 Balasan ke Interest Rate Swaps – Perkenalan

  1. edratna berkata:

    Untuk kaitan dengan sektor riil..

    Misalkan perusahaan X bergerak di industri kertas. Bahan baku pulp, majalah/koran bekas diimpor dari luar negeri. Sedangkan hasil produksi dijual secara ekspor 80% dan lokal 20%.

    PT X bisa memilih mengunakan natural hedging, karena hanya 20% di jual di dalam negeri, sehingga risiko cukup rendah. Tetapi, untuk amannya maka PT X bisa memilih menggunakan swap….dia akan kontrak untuk membeli dolar dalam jangka waktu 3 bulan ke depan (yang diperkirakan, waktu dia harus beli dolar , untuk membayar biaya untuk impor).

    Pada saat PT X membuka L/C impor, PT X selain membayar fee impor, hanya membayar sebesar marge storting 10%, dan 90% nya akan dibayar saat barang atau dokumen tiba…inilah waktunya dia harus bayar dengan dolar. Dengan demikian PT X mendapat kepastian akan membeli dolar pada kurs yang telah disepakati…pada saat kurs dolar terhadap rupiah tinggi, maka PT X akan untung, tetapi jika kurs dolar terhadap rupiah riil nya lebih rendah dibanding harga yang disepakati maka PT X akan rugi. Namun ini merupakan upaya untuk mengelola risiko apabila terjadi lonjakan selisih kurs yang sangat besar.

  2. Ping balik: Mengenal Hedge Funds Cross Currency Swaps - Perkenalan «

  3. Ping balik: Mengenal Hedge Funds Menilik Transaksi Derivatif Indosat «

  4. Bahar berkata:

    Makasih atas contoh dari sektor riil-nya Bu!๐Ÿ™‚ Mungkin contohnya lebih tepat masuk ke bagian kontrak Forward?

  5. Betul juga…saya kecepetan ya….

    Transaksi derivatif menarik ya, untuk hedging…dan bisa untuk “make money”

  6. edratna berkata:

    Wahh maaf…masih an anakku…..baru bangun tidur sih….sorry…

  7. wesid557054 berkata:

    Penjelasannya sangat bagus dan mudah dicerna (terutama dengan tabelnya)๐Ÿ™‚. Lebih mudah dipahami daripada textbook Corporate Finance saya๐Ÿ˜€.

    Saya masih ada pertanyaan. Kalau dilihat contoh PT Telkom tersebut, tujuan PT Telkom memasuki Interest Rate Swap adalah untuk hedging resiko fluktuasi SBI yang tak menentu (diswap dengan fixed interest). Kalau begitu, apakah sajakah tujuan counterparty PT Telkom dalam contoh di atas? Apakah tujuan mereka hanya untuk spekulasi berdasarkan harapan akan turunnya SBI, atau adakah kemungkinan tujuan2 lain? Terima kasih atas infonya…

  8. Aussie berkata:

    Eh maaf, lupa logout… postingan di atas tadi masih login pake personal blog saya…๐Ÿ™‚

  9. Aussie berkata:

    Eh maaf, lupa logout… postingan di atas tadi masih login pake personal blog saya…๐Ÿ™‚. (Bisa diedit tidak ya?)

  10. Bahar berkata:

    Counter party dari hedger (dalam contoh ini PT Telkom) biasanya adalah sebuah investment bank.

    Kok investment bank mau memasuki kontrak itu? Karena dia mendapatkan margin dari transaksi tersebut. Mengikuti contoh di atas: dalam interest swap, PT Telkom akan menerima floating SBI rate dan membayar fixed x%. Di lain pihak, Bank A membayar floating SBI rate dan menerima fixed x%. Sebelum memasuki kontrak ini, PT Telkom dan Bank A akan bernegosiasi berapa besarnya x%. Financial Engineering memungkinkan kita untuk mengira-ngira nilai wajar x% tersebut. Misal nilai wajarnya 5%. Bank A harus dikompensasi agar mau mengambil resiko fluktuasi SBI, misal dengan mematok x% = 5% + 0.5% = 5.5%.

  11. doeytea berkata:

    Mas Bahar, salam kenal. Saya ingin tahu apakah praktek ini sudah dilakukan di Indonesia. Bagaimana dengan aspek legalnya, apakah ada payung hukumnya. Terus perusahaan apa yang bisa menyediakan jasa ini? Apakah semua bank bisa melakukannya, atau hanya yang berijin saja? Bagimana dengan praktek di Singapura?

  12. RVer berkata:

    kalau interest rate swap (IRS) udah banyak banget dilakukan oleh oleh perusahaan di indonesia.

    karena sifatnya OTC, aspek legalnya adalah perjanjian bilateral yang dirangkum di dalam ISDA (International Swaps and Derivatives Association).

    dalam prakteknya team legal kedua belah pihak yang akan me-review apa yang disebut termsheet. di beberapa lembar termsheet ini perjanjian antara payer (biasanya fixed) dan reciever (biasanyaa float) termuat semua seperti: notional amount, rate, day count, fixing, dll. transaksi apapun juga yang dilakukan oleh bank harus mendapat persetujuan dari BI (untuk produknya) adalah BI berhak meminta detail transaksi apabila dibutuhkan.

    perusahaan yang menyediakan jasa IRS, Cross Currency Swap (CCS) biasanya adalaah bank-bank di Indonesia. yang lebih aktif lagi adalah bank asing di jakarta.

    yang pasti untuk setiap perusahaan di indonesia akan dilihat credit risk-nya oleh counterparty (bank). apabila lebih baik, pastinya akan memiliki apa yang John Hull bilang comparative advantage. artinya, akan mendapatkan rate lebih baik.

    untuk spore market, bro bahar pastinya lebih tau…

  13. ihedge berkata:

    Penjelasan yang bagus๐Ÿ™‚ For anything about OTC derivatives contract, ask our sell-side expert.

    sama saja kok di Spore. Pakai ISDA juga.

  14. agung berkata:

    mas bahar..
    bole tanya.. apakah bisa digabungkan dengan currency swap sehingga menjadi cross currency interest rate swap ? bagaimana skenarionya ? apakah terjadi perpindahan nominal kontrak atau tidak ?
    thanks in advance๐Ÿ™‚

  15. ihedge berkata:

    dalam kontrak derivatif (OTC contract) antar 2 pihak, apapun bisa dinegosiasikan.

    Untuk skenario interest rate swap + cross currency swap, tinggal digabung saja cash-flowsnya masing2.

    Masalah nama gak terlalu penting.

  16. RVer berkata:

    kalau udah CCS kan pastinya menukar cash flow dua currency yang berbeda dengan melihat suku bunga dua currency tersebut.

    Company A terbitin obligasi di USD (harus bayar kupon di USD) tapi pendapatannya di IDR. Company A akan masuk ke transaksi CCS dengan maturity yang disamakan dengan umur obligasi USD-nya.

    Company A jadi payer (bayar) IDR untuk recieve (terima) USD. (remember, obligasi USD-nya kan bayar kupon dollar dan mereka terima income di IDR.

    Bank B akan terima IDR (recieve) dan bayar (payer) USD. cash flow yang sebenarnya adalah kebalikan dari Company A.

    beda dengan IRS, CCS biasanya akan involve perpindahan principal di awal swap dan pas mature, pastinya dengan currency rate yang udah ditentukan.

    sama seperti IRS, rate untuk CCS bisa fixed to fixed ataupun fixed to float (misalnya libor against SBI).

  17. Leni berkata:

    tks for the info, cukup simple dan mudah dimengerti…tapi kalau ada lagi penjelasan yang lebih detail..boleh dong..di input juga, kebetulan saya kerja di money broker yang harus trading irs dengan dealer of tresury dealing room. terimakasih.

  18. Zizi berkata:

    Salam kenal,
    dimanakah saya bisa mendapatkan data swap rate Rp terhadap USD.

  19. NOERDIN berkata:

    MANTAP PENJELASANNYA, TERIMA KASIH

  20. tifffany berkata:

    thanks, sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s