Kredit Karbon: Potensi Indonesia

Selain Biodiesel, topik menarik yang dibahas dalam konferensi itu adalah kredit karbon.

Mungkin saat ini kita sudah merasakan efek dari perubahan iklim glolal dari amburadulnya masa penghujan, semakin buasnya Tornado, naiknya rata-rata temperatur dunia, dsb. Walaupun masih banyak perdebatan, salah satu sebab dari perubahan iklim tersebut diyakini adalah hasil dari aktivitas manusia terkait dengan pembuangan gas-gas rumah kaca (green house gasses). Salah satu dari gas tersebut adalah gas karbon.

Sebagai upaya untuk meredam tingkat pembuangan gas-gas tersebut, ditanda-tanganilah Kyoto Protocol. Negara-negara yang meratifikasi (annex-1 countries – AS dan Australia tidak masuk) berkomitmen untuk mengurangi emisi gas karbon berdasarkan sampai pada tahun 2012. Mereka mengalokasikan berapa besar emisi gas yang boleh dibuang setiap tahunnya.

Negara-negara Uni Eropa (EU), menciptakan sistem alokasi di mana perusahaan-perusahaan di dalam EU dialokasikan berapa besar emisi karbon yang dikeluarkan perusahaan tersebut. Bila melebihi alokasinya, maka mereka akan dihukum dengan membayar uang. Kalau tidak ingin dihukum, perusahaan tersebut bisa membeli alokasi dari perusahaan lain yang tidak terpakai. Maka terciptalah sistem perdangangan alokasi karbon Uni Eropa (European Union Allowances).

Ada tempat lain di mana perusahaan yang melebihi alokasinya bisa membeli kredit (bayangkan sebagai isi pulsa) karbon dari proyek-proyek yang terbukti bisa mengurangi emisi karbon. Proyek-proyek ini bisa dilakukan di mana saja di dunia ini. Proyek tersebut harus disetujui oleh negara yang ditempati dan disetujui oleh suatu badan di PBB. Contoh proyek: misalnya pabrik semen Tiga Roda sekarang memakai batu bara untuk mengelola semen. Batu bara terkenal banyak mengeluarkan gas karbon. Proyek untuk mengganti batu bara dengan energi matahari (terlepas dari bisa dijalankan atau tidak) tentu akan mengurangi emisi gas karbon. Proyek penggantian tersebut bisa diajukan sebagai proyek pengurangan gas karbon. Dalam pengajuan tersebut, tentu perlu konsultan untuk menghitung berapa besar pengurangan karbon. Selanjutnya perlu persetujuan dari pemerintah Indonesia. Lalu diajukan ke PBB. Setelah disetujui PBB, maka akan mendapat Sertifikat Pengurangan Emisi (Certified Emission Reductions – CER). CER inilah yang bisa dijual kepada perusahaan di Eropa yang melebihi alokasinya atau kepada pihak lain yang ingin membelinya dengan tujuan untuk dijual ke pihak lain.

Semua proses di atas bisa dilakukan bekerja sama dengan suatu perusahaan yang pekerjaannya memfasilitasi perolehan CER ini, misal Ecosecurities.

Di mana potensi Indonesia? Yo jelas Indonesia punya banyak ruang untuk mengurangi emisi yang dikeluarkan pabrik-pabrik ataupun kebakaran hutan-hutan. Indonesia sekarang negara ke-3 di dunia yang paling banyak mengeluarkan gas karbon!

Tolong dikoreksi kalau ada informasi di atas yang kurang akurat.

Pos ini dipublikasikan di INDONESIA. Tandai permalink.

5 Balasan ke Kredit Karbon: Potensi Indonesia

  1. edratna berkata:

    Padahal pernah dibahas batubara sebagai salah satu alternatif untuk energi.

    Klien saya (pabrik kertas) di Surabaya menggunakan batubara sebagai alternatif energi dari PLN, karena dulu sempat (sekitar tahun 90 an) terjadi krisis listrik, sehingga persyaratan untuk investasi adalah bahwa industri harus mempunyai genset.

  2. ihedge berkata:

    Betul Bu. Di tulisan tentang Dunia di Atas Sebarel Minyak ini memang pernah dibahas batubara sebagai sumber alternatif energi. Di situ juga ditulis kalau riset untuk teknologi pengolahan batubara yang mengeluarkan sedikit gas karbon perlu dicari sebelum dipakai secara masal.

    Memang ada untung ruginya sih. Secara ekonomis sekarang batu bara jelas lebih murah. Tapi kalau kebanyakan digunakan bakal banyak gas karbon yang dikeluarkan. Kalau suatu saat ada teknologi yang bisa mengelola batubara sehingga emisi gas karbonnya kecil, tentu akan lebih baik.

    Sekarang juga sepertinya banyak di Indonesia yang menggunakan batubara. Kalau nggak salah PLN juga sedang mengalihkan sebagian pembangkit listrik dari minyak ke batubara karena lebih murah.

  3. randi berkata:

    how about nuclear energy for electricity?

  4. ihedge berkata:

    I am supportive!🙂

    I think nuclear technology is much safer now. But then, if something goes wrong it can be terrible. But the cost of not using it can be much bigger in the long run.

    Btw, uranium prices is going up…😀

  5. Raymoon silaban berkata:

    bagaimana cara kita menghitung emisi karbon tersebut,,,,,,,,,,,,,,,?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s