Siklus Ekonomi & Siklus Industri

Hidup ini seperti putaran roda. Kadang di atas. Kadang di bawah.

Itu bukan hanya pernyataan klise, tapi merupakan hal yang kita amati di bidang ekonomi. Topik ini saya angkat setelah sempat berbincang-bincang sejenak dengan salah satu pendiri YesBank yang berbasis di Mumbai, India. Dia mengamati bahwa akhir-akhir ini terjadi pemendekan putaran siklus suku bunga bank. (Saat ini Indonesia bisa dikatakan sedang dalam siklus penurunan suku bunga.) Buat seorang banker seperti dia, siklus suku bunga sangat penting dalam kaitannya dengan pengaturan assets dan liabilities. Saya tanyakan apakah dia berpikir bahwa percepatan siklus itu hanya sesaat atau ada faktor fundamental yang membuatnya untuk akan tetap bertahan. Menurutnya, percepatan siklus suku bunga ini disebabkan oleh faktor fundamental akibat globalisasi perekonomian dunia. Shocks yang terjadi di suatu ekonomi besar lebih mungkin untuk terasa di negara-negara lainnya.

Apa hubungannya siklus suku bunga dengan siklus ekonomi? Bank sentral, menggunakan tingkat suku bunga sebagai salah satu alat untuk menjaga kestablian harga barang-barang di suatu negara. Biasanya (walaupun tidak selalu), kalau perekonomian sedang lesu dan harga barang-barang jatuh, bank sentral akan menurunkan suku bunga, demikian juga sebaliknya. (Terkadang, bisa juga perekonomian lesu dan harga barang-barang naik dan bank sentral belum tentu tahu harus berbuat apa.)

Kembali ke masalah mendasar, apa itu siklus ekonomi? Bahasa simpelnya, siklus ekonomi adalah putaran kegiatan perekonomian. Kadang kegiatan ekonomi lesu – banyak pengangguran. Kadang kegiatan ekonomi bergairah – pengangguran kecil – produktivitas naik. Lalu, apa itu siklus industri? Putaran kegiatan di suatu indusri. Kadang kegiatannya lesu – supply melebihi demand – harga produk-produk industri itu jatuh – PHK banyak – margin usaha kecil. Kadang kegiatannya bergairah – demand melebihi supply – harga produk-produk industri itu naik – pekerja-pekerja ahli dibajak.

Apa yang menyebabkan terjadinya siklus tersebut? Ada yang bilang karena pelaku industri sering membuat kesalahan proyeksi demand, sehingga kadang-kadang membanjiri pasar, kadang-kadang kekurangan pasokan. Ada yang bilang karena kesalahan pemerintah karena mengeluarkan kebijakan yang jelek. Ada yang bilang karena tindakan bank sentral dengan mengatur pasokan uang di masyarakat. Betulkah seperti itu?

Menurut saya, siklus terjadi karena cepatnya perubahan supply dan demand di suatu industri. Cepatnya perubahan demand mungkin disebabkan oleh faktor-faktor yang sulit diprediksi seperti bencana alam, perubahan cuaca, dsb. Cepatnya perubahan supply lebih menarik untuk dianalisa. Motivasi utama yang mendorong pelaku industri untuk dengan cepat mengubah supply adalah kompetisi dalam rangka mencapai keinginan untuk menjadi pemimpin di industrinya (market leader). Pelaku industri tidaklah bodoh (sering melakukan kesalahan dalam proyeksi demand) dalam menentukan supply. Mengapa mereka ingin menjadi leader? Karena menjadi leader menghasilkan premium tersendiri terhadap produk yang dijualnya. Sewaktu membeli HP, kenapa Anda membeli Nokia? Karena kebanyakan orang membeli nokia? Atau karena Anda telah membandingkan fitur-fitur Nokia dengan HP yang lainnya dan membandingkan harganya dengan HP yang lainnya? Yup, kebanyakan orang ingin membeli produk dari market leader.

Kenapa kompetisi untuk menjadi leader membuat perubahan supply produk menjadi cepat? Karena bila suatu perusahaan percaya bahwa produk barunya itu superior (entah karena teknologi baru, fitur baru, design baru, dll), maka ia akan melepas barang sebanyak-banyaknya untuk mematikan lawan usahanya. Ketika banyak dari mereka melakukan hal itu, tak khayal akhirnya hanya segelintir perusahaan yang akan sukses sementara supply melimpah dan harga-harga jatuh. Itulah saatnya industri secara keseluruhan (kecuali yang menang) lesu. Perusahaan yang kalah tutup, diambil alih, atau mengurangi biaya produksi dengan PHK dsb. Itulah masa konsolidasi. Lalu muncullah pemain-pemain baru dengan ide-ide atau teknologi baru dan berlomba-lomba untuk menjadi leader yang baru. Demikian proses berulang dan terjadilah siklus industri.

Siklus berbagai industri kadang-kadang terjadi bersamaan dan berkaitan dan membentuk siklus ekonomi secara keseluruhan.

Kalau hipotesa di atas benar, maka industri yang sulit untuk dimasuki (high entry barrier) tidak akan mengalami siklus yang berarti. Industri yang mudah dimasuki akan mengalami siklus yang serius dan lebih sering.

Pernyataan di atas membawa kita kepada pertanyaan: Apa yang membuat suatu industri sulit dimasuki pemain baru? Modal-kah? Teknologi-kah? Atau yang lain?

Apa relevansi dari mengetahui siklus industri? Itu akan membantu kita untuk memahami rotasi sektor di pasar saham.

Pos ini dipublikasikan di FILOSOFI INVEST.. Tandai permalink.

11 Balasan ke Siklus Ekonomi & Siklus Industri

  1. edratna berkata:

    Untuk memahami siklus industri, kita harus memisahkan industri pada beberapa sub sektor industri yang mempunyai karakteristik hampir sama. Apa yang merubah siklus industri? Tentu karena perubahan supply dan demand…dan dengan adanya globalisasi perubahan keinginan konsumen semakin cepat, apalagi komunikasi tak terbatas. Hal ini memaksa pelaku industri harus beberapa langkah didepan keinginan konsumen, agar konsumen tak lari ke pesaingnya.

    Jadi memang bagi pelaku sektor industri harus pandai membaca zaman…industri yang dulu entry barrier nya tinggi, dengan perubahan kebijakan, bisa berubah total, menjadi sangat mudah untuk dimasuki, mis. asalkan punya modal besar…dan perubahan ini akan selalu terjadi. Kalau pelaku industri tak bisa mengikuti perubahan, maka merekalah yang akan tergilas oleh mesin perubahan tersebut.

    Menilai saham, sama dengan menilai perilaku industri…ini saya sepakat. Tapi kadangkala industri yang sejenis, bisa berbeda hasilnya…mengapa? Karena manajemennya berbeda..jadi unsur manusia sangat menentukan.

  2. ihedge berkata:

    wah, cepat sekali masuk komentarnya Bu. Baru saja artikelnya selesai ditulis.😀

    Setuju Bu! Apa yang dulu dianggap entry barrier, sekarang sudah tidak lagi. Berubah seiring waktu. Leaders yang terlalu keenakan dengan posisinya lambat laun akan tergilas pesaing baru.

    Namun ada beberapa entry barriers yang sulit untuk diturunkan, mungkin kita akan diskusi nanti.

    Dalam satu industri, tentu ada saham yang naik pesat dan ada juga yang tidak atau malah turun. Selain analisa dari segi subindustri/industri/sektor tentu perlu analisa per perusahaannya juga (entah itu secara fundamental, teknikal, atau lainnya). Dalam industri kami, itu namanya mencari alpha.

  3. edratna berkata:

    Berarti kita sama-sama lagi didepan kompie.

    Wahh, saya harus baca lagi analisis portfolio karangan pak Suad Husnan, atau bahan kuliahnya pak Go Siauw Hong, supaya bisa mengikuti diskusinya Bahar.

    Karena sebetulnya kita harus bisa menghitung cost of equity masing-masing industri…nahh dalam praktek nyata caranya bagaimana? Untuk mempermudah, dalam menilai kelayakan sering dibandingkan nilai suku bunga bank, padahal ini kurang tepat.

  4. ihedge berkata:

    Iya, betul. Lagi sama-sama di depan kompie. Hehehe…

    Pardon my ignorance, saya gak tahu nih pak Suad Husnan dan pal Go Siauw Hong.

    Btw, kadang-kadang teori-teori di textbook sering memakai teknik seperti membandingkan dengan suku bunga bank yang Ibu bilang dan mungkin memang kurang tepat. Makanya nggak cukup hanya dari membaca textbook yah. Dunia luar jauh lebih kompleks.

  5. edratna berkata:

    Bahar,

    Justru dalam aplikasinya dipermudah…untuk menilai kelayakan suatu investasi, nilai internal rate of return dibandingkan dengan suku bunga bank. Yang benar harusnya dengan cost of equity…tapi menilai cost of equity untuk masing2 industri kan sulit…apalagi kalau investasi kecil2, UKM dan tersebar diwilayah-wilayah…jadi itu atas saran konsultan (saya lupa yang mana).

    Pak Suad Husnan, Guru Besar Ekonomi UGM, penulis beberapa buku ekonomi, jabatan terakhir (selain dosen) adalah Deputy Meneg BUMN, jadi bosnya bos ku. Sedang pak Go adalah analis sekuritas yang terkenal, dan sekarang punya usaha konsultan GSH.

    (Udah mulai ngantuk nih….sambil nunggu anak…mau baca dulu)

  6. ihedge berkata:

    Mungkin aplikasinya lain Bu.

    Buat bank, mungkin dipermudah.

    Buat manajemen investasi, kita nggak terlalu menyederhanakan masalah tapi berusaha untuk melihat realitas apa adanya (no dimension reduction). Internal Rate of Returns (IRR) terlalu problematis untuk dipakai secara langsung.

  7. edratna berkata:

    Hehehe…kok kita jadi diskusi berdua ya…

    Memang kesulitannya bagi nasabah kecil, bagaimana bisa dihitung cost of equity nya…lha wong laporan keuangan aja nggak punya.

    Memang berbeda dengan manajemen investasi, karena persyaratan perusahaan bisa go public, kan harus lapkeu transparant…bahkan untuk bisa go public harus due dilligence dulu, terus menunjuk konsultan untuk menilai legal aspek, fixed assets dsb nya. Bahkan tiap triwulan lapkeu dipelototi oleh para investor, ada investor meeting…juga jika terjadi isu seperti “flu burung”…investor langsung minta klarifikasi, berapa besar pengaruhnya terhadap perusahaan go public tersebut.

    Dan perusahaan harus melaporkan lapkeu bulanan ke Bapepam…ada istilah long dan short financial statement dsb nya…karena memang berhubungan dengan debitur besar, yang risikonya juga besar.

    Hmm ya..perhitungan pembiayaan juga berbeda, untuk perusahaan besar memang harus dipelototi, makanya kita mengenal ada forensik accounting, artinya untuk menilai apa yang ada dibalik lapkeu tsb.

    Nasabah kecil? Kalau kita datang, langsung disuruh lihat sendiri ke gudangnya (kalau ada gudang), ngobrak abrik bon2nya…malah kita yang ngajari buat lapkeu agar debitur bisa melihat perkembangan perusahaannya.

    Dan memang, dalam perhitungan, lebih baik mendasarkan pada NPV (yang dihitung atas dasar cash flow), dibanding dengan IRR….sesuai teori dalam Corporate Finance.

    Wahh sorry, jadi panjang lebar….ehh lihat blog calon mantuku juga ya

  8. ihedge berkata:

    yah, memang mesti menyesuaikan yah antara nasabah kecil dan besar.😀

    Dah liat blog-nya Lis Bu. Masih sedikit isinya. Ada yang pernah takut mau lihat calon mertua. hehehehe…😀 Lucu deh tulisannya.

  9. arya berkata:

    Ini tulisan yang lagi saya cari, mudah dicerna dengan bahasa yang sederhana.
    Terima Kasih….. Mas Bahar.

  10. diche berkata:

    mampir nyari teori siklus hidup produk..
    bagi yang punya info, let me know..
    mohon bantuannya…
    tq

  11. suupushian berkata:

    wah, saya telat nimbrung diskus nya..
    Om Bahar, bukannya kalo ekonomi lesu n harga barang naik = inflasi, berarti Bi bakal naikin suku bunga dunk?? kok dibilang nurunin suku bunga??
    Ajari dunk gimana analisis Bi rate sebagai acuan siklus ekonomi Indo…thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s