Perlukah kita tahu “Mengapa”?

Di antara dua kasus di bawah ini, mana yang lebih mungkin terjadi:

  1. Gelombang tsunami di suatu pelosok tempat di Indonesia yang menewaskan lebih dari 100 ribu orang.
  2. Gempa dahsyat tepat di selatan pulau Sumatra yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan lebih dari 100 ribu orang.

Kasih komentar di sini yah. Ndak usah kasih alasan mengapa memilih 1 atau 2. Sambil survey.😀

PS: Anda tidak perlu tahu tentang geologi, per-tsunami-an, atau per-gempa-an untuk menjawab survey ini.

* Inspired by Kahneman & Traversky

Pos ini dipublikasikan di TANYA KEMBALI. Tandai permalink.

36 Balasan ke Perlukah kita tahu “Mengapa”?

  1. arya berkata:

    Menurut saya ini yg paling mungkin “Gempa dahsyat tepat di selatan pulau Sumatra yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan lebih dari 100 ribu orang.”.
    Tumben Mas Bahar buat survey yg spt ini…

  2. ihedge berkata:

    Siip. Thanks buat jawabannya. Lagi menunggu komentar lainnya.😀

  3. edratna berkata:

    No.2 dong…kan udah lebih jelas.

    Survey nya untuk apa? Mau jadi pak Rovicky ke dua?

  4. ihedge berkata:

    Thanks bu buat komentarnya. Pak Rovicky yang ahli geologi itu? Malah ndak tahu kalau beliau bikin survey seperti ini.

    Tujuannya sih buat melihat bagaimana narasi mempengaruhi manusia dalam memperkirakan “probabilitas”.

  5. Poltak Hotradero berkata:

    Numpang tanya:
    Pada pilihan nomer 1 – definisi pelosoknya seperti apa? pelosok terhadap titik mana?

    Batam mungkin tergolong pelosok bagi Jakarta — tetapi tentu tidak bagi Singapura.

  6. rezayazdi berkata:

    narasi mempengaruhi manusia dalam memperkirakan “probabilitas”. ???
    Mmhhh….

    Btw, saya pilih no. 2

  7. Poltak Hotradero berkata:

    Manusia memang tidak didesain untuk menghitung probabilitas secara kontinue – sebagaimana pada komputer.

    Keunggulan otak manusia adalah pada “pattern recognizing”, karena memang survive-nya manusia di masa lampau tergantung pada aspek itu. (misalnya membedakan kerbau atau macan dalam keadaan remang-remang. Yang satu mangsa – yang satu lagi pemangsa)

    Repotnya, pattern recognizing berarti juga kemampuan “mengisi” bagian-bagian data kosong dengan “sesuatu” – biasanya imajinasi. Dan imajinasi adalah produk kolektif manusia – di mana salah satu cara penyampaiannya adalah via narasi. Proses Evolusi selanjutnya hanya akan menyisakan otak-otak yang sedemikian tanggap terhadap narasi.

    Ini yang bikin otak manusia tidak di-wired untuk menghitung probabilitas secara sungguh-sungguh obyektif.

  8. ihedge berkata:

    @Poltak Hotradero: Buat memperjelas, pelosok Indonesia berarti semua tempat di Indonesia.🙂 Makasih juga buat penjelesannya yang komprehensif tentang “pattern recognizing features of brains.” Sangat relevan dalam pertanyaan di atas. Acungan jempol.

  9. papabonbon berkata:

    kahneman dan traversky yah. wah, riset decision making nih🙂 awalnya yah, mikirnya langsung nomer dua. tapi setelah membaca komen demi komen, aku baru menyadari kalau manusia justru “suitable” dengan nomer satu.

    intuisi ambil nomer satu, rasio mengambil nomer dua. :p

  10. neen berkata:

    50:50
    *ABSTAIN*

  11. fau berkata:

    no 1 ah..
    *alasannya disimpen, krn ngga ditanya*

  12. Ra! berkata:

    sebenernya waktu liat 1, langsung nganggep mungkin.
    tapi begitu ada yang 2, terlihat lebih logis (karena ada alasan kali yaaa…), jadi ya pilih 2.

    cukup kah bang?
    hehe…

  13. em-em berkata:

    pilih no 2

  14. Cay Indra berkata:

    Seperti kata Papabonbon, saya mengikuti intuisi saja. Nomer satu.

  15. Poltak Hotradero berkata:

    Kepadatan penduduk di seluruh Indonesia: 134 orang per km².
    Kepadatan penduduk di Sumatera: 96 orang per km²
    Kepadatan penduduk di Selatan Sumatera (anggap propinsi Lampung saja) : 190 orang per km²

    Untuk menghasilkan korban 100 ribu orang — maka untuk seluruh Indonesia diperlukan terpaan bencana seluas 746 km² (0,003% luas wilayah), untuk Sumatera perlu 1041 km² (0,2% luas wilayah), dan untuk Lampung 526 km² (1,4% luas wilayah).

    Karena wilayah Lampung cuma 1,8% dari wilayah Indonesia dan diasumsikan bahwa gempa dan tsunami tersebar secara random — maka pilihan nomer 1 (gempa di wilayah Indonesia menewaskan 100 ribu orang) adalah yang lebih mungkin terjadi.

  16. nindityo berkata:

    yang kedua mas.
    (sambil mikir buat apaan yach??)

  17. Aussie berkata:

    Pertama kali baca saya mikirnya “lho, bedanya apa”. Setelah dibaca lagi baru nyadar, oh memang beda!
    Awal2nya sempet bingung dengan kata “pelosok”, soalnya kan kalau membicarakan “pelosok” biasanya langsung terbayang daerah yang bener2 mencil.
    Hehe, intronya panjang, tapi saya pilih nomer: 2

  18. st. of darkness berkata:

    perlu banget, i think…

  19. andri berkata:

    saya pilih satu karena pertanyaannya mana yang lebih mungkin terjadi.

    dengan teori set, kita bisa melihat bahwa pilihan kedua adalah subset dari pilihan pertama, atau dengan kata lain, jika pilihan kedua terjadi maka pilihan pertama juga terjadi. tetapi jika pilihan pertama terjadi, pilihan kedua belum tentu terjadi.

  20. jasjus berkata:

    gw pilih no 2. selatan pulau sumatra berarti di lautnya kan? bukan sumatra bagian selatan? jd klo gempanya di laut, mungkin banget donk terjadi tsunami. hehehe

  21. almascatie berkata:

    2

    @ihedge
    Kasih komentar di sini yah. Ndak usah kasih alasan mengapa memilih 1 atau 2. Sambil survey

    *kok banyak yang ngikuti petunjuk pengisian ya*😦

  22. AnangYp berkata:

    no satu lebih mungkin…. mungkin…

  23. Kang Tutur berkata:

    Salam kenal…(Indonesia)
    Numpang promosi nih!
    Ada yg mau kuliah dengan beasiswa? Belajar Wirausaha?
    Main ke blog kampusku – Makasih ya!

  24. the23wind berkata:

    yang kedua aja dech, lebih mayoritas

  25. fahmi berkata:

    menurut saya yg probabilitasnya lebih besar:
    # Gelombang tsunami di suatu pelosok tempat di Indonesia yang menewaskan lebih dari 100 ribu orang.

  26. wimpie berkata:

    saya pilih 2

  27. Yari NK berkata:

    Ya jelas No. 2 dong!

  28. Ping balik: Skeptical Empiricist Skeptical Empiricist? «

  29. ihedge berkata:

    Walaupun sampel-nya sedikit dan mungkin sebagian memberi komentar berdasarkan komentar-komentar sebelumnya, ternyata apa yang kita lihat memang seperti hasil percobaan Kahneman & Traversky. (Mungkin juga beberapa orang yang memberi komentar pertama kali mengartikan kata pelosok sebagai daerah terpencil – itu salah saya)

    Yang pilih no:1 (6 orang)
    Yang pilih no:2 (15 orang)

    Yang lebih mungkin terjadi tentunya pilihan no:1. Silakan lihat komentarnya Andri & Few atau Conjunction Fallacy.

  30. Aussie berkata:

    Yang jawabnya bener dapet hadiah gak bang?😛

  31. ihedge berkata:

    Apa yah? Hmm… Di traktir makan malam di Singapura (Hawker Center)😛 . Hadiah paling lambat diambil hari minggu ini.

  32. papabonbon berkata:

    aussie kan milihnya nomer dua. jadi gak dapat makan malam dong ..😀

  33. azrael berkata:

    Yang paling mungkin yang pertama.

    Tidak disebutkan secara spesifik baik tempat maupun penyebabnya, jadi probabilitasnya lebih tinggi.

    Ini juga alasannya kenapa banyak “peramal” atau “ahli nujum” yang menggunakan kalimat2 yang terkesan general, tidak spesifik (masih perlu ditafsirkan) dalam ramalannya, karena dengan demikian akan “selalu” tampak benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s