Belajar Dari Pasir

Bayangkan setumpuk pasir di atas meja. Pelan-pelan, kucurkan pasir di atasnya. Tumpukan pasir itu akan berbentuk kerucut seperti gunung. Teruslah mengucurkan pasir di atas tumpukan pasir itu. Kita akan mengamati bahwa sebagian kerucut pasir itu tiba-tiba akan runtuh setelah melewati kondisi kritisnya.

Terkadang runtuhannya kecil, terkadang runtuhannya besar.

Besar kecilnya runtuhan tersebut mengikuti power law. Artinya, jumlah besarnya runtuhan yang lebih besar dari X berbanding lurus dengan ^(- Skala) seperti gambar di samping. Kalau kita membaca tulisan ini, runtuhan pasir tersebut termasuk penduduk Medexton.

So what? Ternyata fenomena power law ini terjadi di banyak hal baik di alam maupun dalam dunia sosial.

Di bidang biologi berbagai hal seperti metabolisme rate, umur mahluk hidup, tingkat pertumbuhan, detik jantung, tingkat substitusi DNA nucleotide, panjang aorta dan genome, tinggi pohon, kepadatan mitokondria, konsentrasi RNA, dll mengikuti distribusi seperti itu. Yang lebih hebat lagi, berbagai hal yang disebutkan di atas memiliki skala yang merupakan kelipatan dari 1/4. Kalau masih belum merasakan “arti” dari yang baru Anda baca, bayangkan bahwa ternyata banyak hal di alam mengikuti hukum yang simpel dan universal walaupun kalau dilihat dengan mata, mereka terlihat begitu berbeda dan ruwet. Adakah sesuatu di balik sana?

Bagaimana dengan bidang sosial? Jumlah penduduk suatu kota, jumlah kekayaan seseorang, jumlah kata-kata yang dipakai di suatu bahasa, jumlah pemakai suatu bahasa, banyaknya hits suatu website, jumlah penjualan buku, dll ternyata juga mengikuti power law.

Oh yea, besarnya pergerakan harga-harga aset seperti saham, mata uang, dsb ternyata juga mengikuti power law.

So what? Di sinyalir, fenomena power law adalah jejak kaki dari suatu sistem kompleks yang mengatur diri sendiri (self-organizing complex system). Dengan mempelajari jejak yang ditinggalkan tersebut, kita berharap untuk bisa memahami sistem yang bekerja di dalamnya. Buat yang tertarik silakan menjelajahi Santa Fe Institute.

Ah, ternyata kita bisa belajar banyak dari pasir, bahkan untuk mempelajari dinamika pasar modal!

Pos ini dipublikasikan di COMPLEX SYSTEMS. Tandai permalink.

14 Balasan ke Belajar Dari Pasir

  1. Jennie berkata:

    There are many things that we can learn from everyday occurrences. Tiny and overlooked things may not mean much tangibly, but we can find layers and dimensions in many things.

    That’s why there are millions of books in the market and new things are being discovered everyday. These “new” things are merely “new perspectives.”

    And I thank you for this posting, Bahar.

  2. ihedge berkata:

    yea, you’re absolutely right Jennie. There are many things that we can learn from everyday occurrences if we are willing to adopt new perspectives.

  3. randi berkata:

    berarti buat memahami turun naik harga saham emang sangat complex karena ada system yang mengatur. (power law)

  4. ihedge berkata:

    itu kalau di lihat dari salah satu perspektif (yakni self organizing complex system). Tentunya itu bukan satu2nya cara pandang.

    Tidak memahami perspektif ini bukan berarti tidak bisa memahami dari perspektif lain, yang mungkin lebih simpel.

    Coba tanyakan sama “expert” yang sudah berpengalaman bertahun2 trading, kalau kita menyebut tentang self organizing complex system ini, mungkin mereka akan mentertawakan, “Gitu aja kok di bikin rumit”. Mereka bisa memahami dengan cara mereka sendiri.

  5. Ce_gairah berkata:

    Setujuuuuuuu Ihdge….
    Setuju 1. Gitu aja kok di bikin rumit.
    Setuju 2. Setiap trader mempunyai cara dalam menilai

  6. edratna berkata:

    Bahar,
    Artikelnya menarik…betull…kalau mikirnya rumit banget, bisa2 tak pernah memutus/deal…. ada dealer yang tak pernah “deal”..ya akhirnya harus pindah divisi lain (padahal nilai dia bagus, tapi terlalu njlimet)….diperlukan berani memutus pada waktu tepat, tapi tak ngawur. Belajar dari pasir, kita emang seperti itu ya…:D

    Hmm Bahar, ada permintaan Orangemood di blog saya…sebaiknya Bahar yang bahas ya, tentang reksadana dan investasi, soalnya saya hanya sekedar tahu, karena kompetensiku dari sisi aset (loan). OK, setuju?? Saya tunggu di artikel berikutnya ya.

    Thanks

  7. Fuad Muftie berkata:

    sama kayak teori MESTAKUNG-nya Prof Johanes Surya. Dalam kondisi kritis alam seMESTA akan menduKUNG segala sesuatu kembali ke kondisi yg stabil.

    Salam
    Fuad Muftie

  8. yanti berkata:

    Emang pasir udah jadi guru ? kan minimal guru itu lulusan sarjana ?

  9. mariska berkata:

    bagus sekali falsafahnya…
    ringan namun cerdas..
    klo belajar ststistik hukum rerata pasti mengikuti distribusi normalitas… bentuknya ya kaya pasir itu…..
    salut…

  10. andr10 berkata:

    salam wirausaha
    bagus tuh ak setuju dengan palsafahnya ………….

  11. nindityo berkata:

    apa kah sama dengan teori Chaos yang disebut berulangkali oleh Michael Chricton dalam novel-novelnya seperti Jurassic Park dan The Lost World ?

  12. ihedge berkata:

    @Ce_gairah: Yup. Traders punya cara-cara mereka sendiri buat menganalisa pasar, dari TA, FA, SA, QA, dll. Berbeda-beda cara untuk mencoba melihat hal yang sama. (Mungkin seperti berbeda-beda cara beragama untuk melihat Tuhan yang mungkin sama). Salah satu contoh hedge fund yang sukses menerapkan scientific methods (di dalamnya tentu menganalisa ttg complex systems) dalam investment ialah Jim Simmons dari Renaissance Technologies Corp. Dia adalah hedge fund manager dengan pendapatan paling besar sedunia, jauh di atas George Soros dkk. Hebatnya lagi pendapatan fund mereka konsisten (tidak tiba2 anjlok kalau pasar turun)!

    @Bu Endratna: Suatu saat nanti Bu, kalau bisa, tak tulis tentang reksadana. Pernah disinggung sedikit di Hedge Funds vs. Mutual Funds vs. Unit Trusts. Mutual funds = reksadana.

    @Fuad Muftie: Mungkin mirip konsep Mestakung-nya Pak Yo. Bedanya, di sini kita nggak berharap kondisinya akan kembali stabil. Kita menerima apa adanya dan bertindak sesuai dengan yang kita lihat.

    @nindityo: Chaos merupakan salah satu kemungkinan yang terjadi, tapi tidak selalu. Self-organizing complex system menghasilkan dinamika yang non-linear. Dalam kondisi tertentu, dinamika ini bisa berwujud chaos.

  13. Khairil Anwar berkata:

    Hmm.. sederhana bagi siswa SD, mungkin terlalu rumit untuk difahami anak TK.
    Sederhananya anak SMP, mungkin terlalu kompleks dan hanya bisa difahami segelintir siswa senior SD.
    Sederhana bagi anak SMU, mungkin masih terlalu sulit untuk diurai dan difahami kebanyakan siswa SMP.

    ..
    .
    Dan begitu banyak fenomena alam serta kehidupan yang terlihat ‘begitu rumit, kompleks, seakan tidak berpola’, padahal pada dasarnya mengikuti aturan atau kaidah tertentu.. e.g. power law..
    Tinggal seberapa tajam mata, fikiran, serta hati kita dalam mengurai dan memaknai fenomena tersebut.. Seperti juga yang ditulis dalam blog ini banyak yang kompleks dalam perspektif saya, ternyata ‘begitu fasih’ disampaikan Bung Bahar🙂

  14. aribowo berkata:

    alam memang menyimpan banyak ilmu yang belum kita ketahui

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s