Mengurangi Membaca & Mendengar Berita

Semenjak kecil, saya terbiasa menonton berita di TV – bersama bapak. Sejak SMU, saya terbiasa membaca koran Kompas. Waktu itu, saya merasa bahwa semakin banyak membaca berita baik di TV atau koran akan semakin menambah wawasan kita. Dengan banyak mengetahui berita terkini, seolah-olah saya merasa lebih tahu. Seolah-olah saya memahami apa yang terjadi.

Akhir-akhir ini, kebiasaan membaca dan mendengar berita di media massa saya kurangi. Pertama, saya tidak yakin bahwa semakin banyak berita yang kita masukan ke kepala akan membuat kita lebih memahami sekeliling kita. Kedua, kita cenderung merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya kita tahu. Ketiga, informasi yang biasa muncul di media massa cenderung biased dan tidak representatif. Misalnya, berapa dari kita yang takut naik pesawat setelah melihat berita jatuhnya pesawat (di mana beritanya tersebar di seluruh dunia) tetapi tidak takut naik kereta karena alasan keamanan? Padahal, apakah naik kereta lebih aman daripada naik pesawat? Keempat, waktu yang terpakai untuk membaca dan mendengarkan berita bisa dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Apakah Anda pernah dan masih kecanduan membaca dan mendengar berita?

Pos ini dipublikasikan di TANYA KEMBALI. Tandai permalink.

17 Balasan ke Mengurangi Membaca & Mendengar Berita

  1. rezayazdi berkata:

    Ketika kita berbicara media massa, kita berbicara industri. Dan orang media sendiri sangat sadar bahwa mereka sedang menjalankan industri.
    Watak dasar industri, u know laaahh..

    Makanya, media alternatif menjadi sangat seksi akhir2 ini. Termasuk blog di dalamnya….

  2. priandoyo berkata:

    Setuju, dah mulai mengurangi juga nih. Justru mulai suka yang ringan2, macem acara makan-makan atau film😀 hohoho

  3. Poltak Hotradero berkata:

    saya nonton tv tidak lebih dari 15 menit sehari, karena nonton tv terasa seperti buang-buang waktu. Di kantor saya baca koran tidak lebih dari 30 menit – karena kebanyakan koran isinya sama atau mirip-mirip.

    Saya lebih sering menggunakan Google Reader untuk membaca berbagai blog dan RSS feeds ketimbang kegiatan lain.

  4. Aussie berkata:

    Malah kecanduan baca RSS feeds… not such a good thing😦.
    Tapi saya masih mencoba mengusahakan buat at least baca Times Magazine sama the Economist tiap minggu, biar masih bisa catch-up sama latest world news. Bacanya di Borders, biar gratis😀.

  5. Arya Hidayat berkata:

    Sekarang sudah jarang beli buku di Gramedia, lagi senang baca e-book, download di internet, baca literatur juga masih senang, biasalah kesenangan baru menghapus kesenangan lama…

    tapi yang dimaksud Bahar ini BACA BERITA, mmmm, kalo kita gak tau ada sesuatu yang baru di dunia ini nanti kita jadi seperti katak dalam tempurung dong??

    Bias on News, dulu waktu saya masih kuliah di surabaya (Thn 1998), judi bola marak di mana2, lalu ada seorang kawan memberitahu saya salah satu trik judi bola saat itu, Baca Tabloid Bola terbaru, lihat di halaman cover foto tim apa di situ, so kita bertaruh untuk lawannya… sounds like contarian investing he he he….

  6. Berita di koran juga, meski masih bisa diragukan, tetapi masih cukup menyenagkan untuk dibaca. Lebih baik daripada terpaku pada satu waktu, ketika membaca novel.😀

  7. Ping balik: “Membaca” Berita pun sekarang kerjaan komputer « Skeptical Empiricist

  8. ihedge berkata:

    @rezayasdi: yup, tak bisa dipungkiri bahwa media massa adalah suatu industri yang mengikuti permintaan konsumen. Sepertinya, konsumen kebanyakan sekarang ini kurang mengutamakan keakuratan & netralitas dan lebih suka mendengar hal-hal yang sensasional.

    @Anjar: Saya juga suka yang ringan-ringan sekarang. Ngurangin stress.😛

    @Bung Poltak: Mungkin isinya memang mirip2. Jadi langganan satu saja kali.

    @Arya: Bagusnya membaca buku, menurut saya, adalah idenya dikupas tuntas dari awal sampai akhir. Kalau berita, kita cuma tahu kulitnya. Dulu kekawatiran saya tentang “ketinggalan dengan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini” merupakan salah satu alasan mengapa membaca berita cukup rutin. Tapi, lama2 kita akan sadar bahwa walaupun kita membaca semua berita yang ada di media massa, tetap cuman sebagian kecil sisi dari permasalahan yang diulas.

    @Michael: Kalau membaca berita bisa menjadi hiburan ya… why not?😛

  9. edratna berkata:

    Sebetulnya, apapun yang kita baca atau kita dengar dan kita lihat harus dicerna, sehingga tak semua dimasukkan dalam kepala. Membaca merupakan hobi yang tak bisa lepas dari hidup sehari-hari…akibatnya pulang dari Jayapura langsung “skimming” koran sejak tgl.1 s/d 11 Agustus 2007. Maklum di Jayapura, kalau tak langganan tak bisa beli Kompas, dan koran lokal harganya Rp.5000,- itupun hanya berita lokal.

    Agar tak stres bacaan harus bervariasi, ada yang berupa berita, menambah wawasan, terkait dengan bidang kerjaan, dan hiburan. Bahkan menonton infotainment pun kadang menjadi hiburan…kok ya ada-ada aja orang mau cerita hal-hal yang bersifat pribadi.

  10. Khaidar berkata:

    sekarang aku lumayan kecanduan ama berita. tiap ada waktu luang selalu nonton al jazeera ama bbc. sekali2 nonton cnn buat perbandingan…

  11. macanang berkata:

    kalo saya kurang suka mbaca berita secara detil. kalau baca koran judul2 nya dulu, kalo ada satu dua yang menarik baru baca detil.
    Iya sih, kadang eneg juga kalo kebanyakan berita🙂

  12. Arya Hidayat berkata:

    masalahnya seringkali berita itu menjadi “knowledge” baru di kepala kita, yang menuntun kita membuat decision berdasar “knowledge” baru dengan sumber berita yang baru kita baca.

    Contoh terbaru, “issue” permen dan pasta gigi buatan cina berformalin, membuat kita memutuskan tidak akan memakai produk tsb. tapi bagaimana bila ternyata pasta gigi “Pepsodent” juga mengandung formalin ?? should we critizise BPOM ??

    saya pribadi melihat issue yang dihembuskan BPOM adalah issue pesanan US yang juga sedang gencar melakukan perang dagang dengan Cina, walaupun keyakinan pribadi saya ini hanya sekelas prejudice, tidak bisa saya buktikan tetapi hal ini tidak akan timbul kalo issue tadi tidak saya baca di media…

    menggunakan produk berformalin berbahaya??
    mungkin itu sudah resiko hidup di zaman ini ??

  13. ihedge berkata:

    bukan berarti sama sekali meninggalkan membaca berita. Saya merasa perlu dikurangi.

    Dan tentu ada berbagai sumber informasi lain yang bisa dipakai bila ingin mencari tahu tentang suatu hal.

  14. alle berkata:

    setuju..tapi kalo malah tidak mau membaca atau mendengar berita sama sekali itu yang lebih berbahaya kan ?

  15. RVer berkata:

    kalau nonton tv mah yang seru acara gosip dan pentas musik. acara kuis dan kompetisi kemampuan seni juga ok lah buat hiburan..hahaha…

    kalau baca koran, terutama kompas, iklannya keren2. keep dreaming to buy one of those tablet fujitsu..hehehe. halaman klasika juga enak..cek2 apakah value property udah sampe dimana..hehehe.

    kalau baca majalah, udah jarang. abis kantornya ngga kaya dulu…dulu mah royal..semua majalah berhubungan dengan finansial ada.

    kalau liat internet..blognya bahar donk yang dilihat dulu..hahaha…..wikipedia is a good site..i even put it up as a home page. sama googling anything la…termasuk klik images-nya…friendster juga keren..liat temen2 udah napain sekarang..

    kalau buku..gw seneng biografi..hahaha

    financial services media –> bloomberg..kalau ada t-shirt bertuliskan I love bloomberg…gw beli deh…hahahahha

    btw…ini ngomongin hobby gw atau apa yah…

    semua itu bagus..malah bisa mengolah kemampuan analisa dalam arti bagaimana kita men-justifikasi apa yang ada di depan mata kita.

    kalau ada yang bilang semua itu jauh dari relevan atau melebih2kan..artinya kita membaca sambil menjustifikasi..

    masih ada spirit hari kemerdekaan ngga nih..

    MERDEKA…..

  16. ihedge berkata:

    hehehhe…., itu spirit MERDEKA-nya masih sisa karena IHSG naik 7% yah? Hati2, it can turn for the ugly quickly too..

  17. Arya Hidayat berkata:

    Yaa, nanti 3 /4 hari ijo kita cash kan semua dana utk trading, yg untuk investasi biarin aja he he he…

    dalam news itu ada problem of induction, masih inget kan yg kita pelajari tentang cara berpikir induksi di SMA? Padahal faktanya lebih besar dari konklusi itu sendiri, mempercayai ataupun mengambil action berdasar kesimpulan yang ditarik oleh news bisa menimbulkan hindsight bias, so we get Fool by Randomness

    wah jadi ikutan kebiasaan Bahar nich, belajar sambil nulis, untuk bikin blog sendiri belum pe de jadi ngramein warungnya Bahar aja dech

    btw itu yg saya baca di FBR..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s