Krisis Finansial [4]: Dari Subprime Ke…Mana-mana

Mengapa masalah di suatu industri kecil seperti subprime mortgage bisa merembet ke bidang lain yang lebih luas?

Penjelasan simpelnya seperti ini:

  1. Penduduk Amerika Serikat dengan kredit rating yang relatif buruk membeli rumah melalui subprime mortgage. Terjadi transaksi individual antara peminjam dan pemberi mortgage (subprime lenders)
  2. Subprime lenders mengumpulkan berbagai mortgage dan menjual sekumpulan mortgage tersebut kepada bank komersial. Bank komersial kemudian menjual sebagian portfolio mortgage tersebut kepada investment bank.
  3. Subprime mortgage itu bisa juga dikumpulan dan dikemas ulang dalam bentuk Mortgage-Backed Securitites – MBS (projek akhir waktu kuliah dulu). MBS merupakan aset yang memiliki pendapatan: yaitu ketika pemimjam mortgage membayar bunga mortgage dan ketika mereka melunasi hutangnya. Pendapatan ini bisa dipilah-pilah menjadi beberapa tranches dengan tingkat senioritas yang berbeda. Semua bunga dari peminjam mortgage pertama kali akan dibayar sebagai bunga kepada pemilik MBS dengan senioritas paling tinggi. Kalau ada sisa, baru pendapatan itu masuk ke pemilik dengan senioritas lebih rendah. Demikian seterusnya. Bisa dilihat bahwa semakin rendah tingkat senioritasnya, semakin tinggi resiko dari MBS ini. Karena resikonya yang paling rendah, maka MBS paling senior harganya juga paling mahal.
  4. Rating agencies semacam Standard & Poor’s (S&P) memberikan rating terhadap MBS ini. Ternyata, rating AAA untuk MBS lebih besar resiko gagal bayarnya dibanding dengan surat hutang dengan rating AAA juga.
  5. Beberapa MBS ini, bersama instrumen utang lainnya, kemudian dikemas ulang lagi menjadi Collateralized Debt Obligations (CDOs). Sama seperti MBS, CDO juga merupakan aset dengan berbagai sumber pendapatan: dari pendapatan MBS, dan dari pendapatan instrumen hutang lainnya. CDOs juga dipilah-pilah lagi menjadi beberapa tranches dengan tingkat senioritas yang berbeda. Diperkirakan ada 100 milyar dollar AS aset CDOs yang kalau dirunut balik dijamin oleh subprime mortgages (dari perkiraan total CDOs sebesar 375 milyar dollar AS).
  6. CDOs ini kemudian dijual ke berbagai bank, perusahaan asuransi, hedge funds, reksa dana (mutual funds), dll baik di Amerika Serikat maupun di luar. Jadilah resiko subprime mortgage tersebar ke mana-mana.
Pos ini dipublikasikan di FIN ENGGR, KRISIS. Tandai permalink.

16 Balasan ke Krisis Finansial [4]: Dari Subprime Ke…Mana-mana

  1. RVer berkata:

    Nice piece bro..

    i know it’s about globalisation.. in fact mr globalisation is in the country, bali..i think..mr stiglitz…saw his picture with wify on kompas…

    ne’ way.. why what happens in the US has affected global markets..global asset managers in the developed countries, mungkin udah beli this so called CDOs and any assets related to subprime..tapi di Indonesia…who wud buy this scary thing..local banks…udah belikah mereka…wong rekap bonds aja kadang2 masih bikin pusing..hehehehe..

    remember..CDOs will be denominated in dollar..there won’t be any bank quantoed (produknya di convert dari USD ke IDR) it to IDR… so watchout those with more dollar assets…

    sebenarnya sih there is no structural change di emerging asia..ngga ada yang berubah..semua massih under control..yang bikin mereka turun itu adalah globalisasi..

    para global aset managers pusing gimana jualin subprime mortgage backed securities-nya ataupun derivatives-nya seperti CDOs. untuk yang cash market ngga ada bid…untuk yang derivatives, seperti CDOs..unwind price udah kemana tau..sampai di US sana susah banget cari likuiditas…kaya di indonesia aja…o/n rate bisa dari 3 sampai 14%…baru sekali ni..money market trader di amerika harus belajar ama yang di indonesia..

    alhasil yang mereka lakuin adalah menjual aset yang lebih likuid…apa yah..check aja yang masih untung..indo kali..thai kali…spore juga kena…di spore fixed income market…SGD local rates…big foreign bank disana jual gede2an..any bid..urs…another bid, urs..

    kemarin jumat si Bernanke udah cut discount rate..ini good sign..yang nyebab-in subprime crisis yah..tingginya suka bunga lah….kalau udah mulai diturunin..udah lebih cakep deh..cuman penurunan ini bukan fed funds rate..mestinya sih mengarah ke sini..yang penting bernanke bisa liat ngga ada ancaman inflasi apabila suku bunga diturunin…this guy is really a data minded…

    skenario yang ok nih…bernanke cut fed funds rate… wuih..market bisa rally kemana tau deh…ehehehhe…USTs bakalan naik lagi in price..yield differential dengan emerging rates akan trigger pembelian lagi bond-bond di asia..

  2. edratna berkata:

    Kalau menurut saya sih, walaupun Indonesia terkena imbas nggak akan seburuk krisis yang lalu. Karena pengusahapun, hanya menarik pinjaman jika sangat perlu, makanya kelonggaran tarik pinjaman sangat tinggi. Juga mereka berhati-hati untuk meminjam dalam bentuk valas, paling tidak menggunakan natural hedging…misal: pabrik kertas, bahan baku sebagian besar impor, penjualan juga hampir seluruhnya ekspor, sehingga risiko selisih kurs rendah (tetap ada tapi bisa dimitigasi).

  3. RVer berkata:

    setuju banget. tapi ini juga yang mungkin membuat lambatnya pertumbuhan. tapi siapa yang mau fast growth tapi fragile…kan ngga baik juga.

  4. Poltak Hotradero berkata:

    Saya rasa yang ikut memberi andil pada gejolak berbagai kelas asset di seluruh dunia – adalah kenyataan bahwa hedge fund sering melakukan trading dengan metode “spread”.

    Ambil “long” di CDO sambil “short” di Treasury (dengan volume asimetris dan digulung). “Short” di Yen Jepang sambil “long” di Bond Australia atau New Zealand. Tehnik yang dulu menjadi “mesin”-nya LTCM.

    Salah satu dugaan saya, ini juga yang terjadi pada asset di Indonesia, karena bisa dilihat pada spread Bond RI dengan US Treasury dengan jatuh tempo sama. Sehingga ketika terjadi “flight to quality” — Bond RI pun harganya jatuh cukup dalam. Spread bergerak dari 40 bps hingga ke atas 100 bps dalam waktu sangat singkat. Konsekuensinya? Instrumen equity Indonesia ya nyemplung harganya…

  5. RVer berkata:

    Kasihan yah HF. memang kalau ada masalah harus ada kambing hitam. hehehe

    kemarin ini saya juga sempet takut apakah ada HF yang menggunakan strategi convergence trades (exploit off the run and on the run USTs).. sempet nanya beberapa HF managers dan mereka bilang no need to worry.

    kalau kita liat, flight to quality ke USTs sangat besar. liat aja yield yang turun terus. kalau sampai masih ada convergence trader berkeliaran, mereka kan udah merana seperti LTCM.

    sedih juga kalau emang HF aja yang harus di jadikan HF. kalau di indonesia, kita kan ada pemberlakukan pajak yang sangat aneh antara indonesia dengan singapura.

    hal ini yang menyebabkan banyak investor yang naro duitnya di spore tanpa kena pajak. surga buat mereka. beli bond indonesia, terutama rekap bonds dan bayar 0% tax.

    hal ini pula yang menyebabkan tidak hanya HF yang membeli aset indonesia dan dibukukan di spore. contohnya suatu reksadana di inggris beli bond rekap namun memakai vehicle di spore, sehingga mereka dapet full dari nominal yield bond tersebut. hence when they buy 10yr bond at 10%, they get full 10% bond. if they bot the bond under their name in the UK, they’d have recieved 10% minus the tax agreement (normally 10 to 20%).

    peraturan inilah yang banyak menyebabkan tidak hanya HF yang membeli aset indonesia melalui spore vehicle, banyak juga dari real money managers (reksadana, asuransi, pension fund), bahkan individu untuk kebutuhan tax washing.

    jadi, mungkin ngga semua kesalahan ada di HF..hehehe…gw jadi ngebelain yang punya blog nih…

    metodenya sangat simpel, mereka bayar bunga LIBOR (+ spread) kemudian mendapatkan performance dari underlying asset seperti bond rekap.

    overal, there is no major structural change in the fundamental. once the problem resolved di amerika sana, appetite akan balik ke emerging market, terutama asia dan khususnya indonesia.

  6. Arya Hidayat berkata:

    Wah Bapak-bapak keep posting yaa, saya jadi ikutan belajar.. (walaupun udah gak ada target belajar..)

  7. Poltak Hotradero berkata:

    hmmm… saya tidak bermaksud memojokkan hedge fund, karena toh hedge fund memasuki suatu jenis strategi berdasarkan pertimbangan resiko. Siapa yang menanggung resiko tersebut? Ya hedge fund itu sendiri – terlebih karena antar hedge fund pun terjadi persaingan. Untuk setiap hedge fund yang ambil posisi “short” – bisa saja ada hedge fund lain yang ambil posisi “long”…

    Jangan lupa, secara umum bisnis hedge fund punya tingkat mortalitas yang tinggi.

  8. RVer berkata:

    cuman pengen kasih pandangan kalo ngga semua investor asing yang masuk ke indonesia itu adalah HF. kalau kita membagi asset managers dari luar indonesia menjadi dua…real money dan fast money atau HF.

    real money itu biasanya pension fund, insurance, mutual fund manager and private bankers. mereka tend to keep the assets longer and strategy-nya long-only walaupun ada beberapa fund manager (dari reksadana) yang punya fund namanya Bear fund. isinya ya ngeshort sana, ngeshort sini.

    untuk fast money biasanya consists of HF and prop trader. why are they called fast money? yah itu lah…karena nila setitik, rusak susu sebelanga…tapi nilanya kalau disini bukan setitik, sebelanga hahahaha…banyak dari HF dan prop trader yang cepet banget keluar masuknya. kalau di Indo yang common masuk beli bond dan equity adalah global macro dan fixed income arby.

    kalau global macro..mereka buddies lah..some of them keep their assets udah hampir 5 tahun..can u call them fast money???

    fixed income arby itu yang agak serem..mereka pake model portfolio yang katanya sih computer generated..that black box finds basically relative value di semua asset class…

    nah yang paling serem kalau udah mainin currency…karena mereka perlu underlying asset untuk main currency, sbi dan bonds yang jadi inceran utama. dan ini pula yang selalu digembor2kan bisa merusak cadangan devisa…hehehee

    tapi kalau calpers atau pimco change strategy to sell…wah…ngga pernah sampe dihujat abis2an.

  9. ihedge berkata:

    yoi, gak semua dana asing yang masuk itu HF. HF memang sering jadi sorotan media, terutama kalau lagi masa-masa bearish… Jadilah mereka jadi kambing hitam semua masalah… (walaupun memang ada yang menjadi trigger terbukanya masalah sih.)

    btw, fast money isn’t necessarily bad. Mereka menambah likuiditas pasar.

  10. Arya Hidayat berkata:

    Yang dimaksud Bang Poltak, trading dengan metode spread itu sama dengan statistical arbitrage ya?? masih belajar nih Bang..

    Penjelasan RVer sangat membantu, kita jadi lebih tahu hewan apa saja di dalam hutan belantara ini

  11. Poltak Hotradero berkata:

    Statistical Arbitrage? Ya kira-kira memang itu. Bagi yang belum jelas, contoh sederhananya adalah begini (secara garis besar):

    Saham perusahaan penerbangan biasanya bergerak berlawanan dengan harga minyak. Mengapa? Karena komponen terbesar (sekitar 45%) dari cost penerbangan adalah biaya bahan bakar. Atas hubungan yang korelasinya cenderung negatif ini – maka seseorang bisa memperoleh untung dengan cara melakukan “short” pada saham perusahaan penerbangan ataupun index transportasi — sambil melakukan “long” pada komoditi minyak.

    Kalau harga minyak makin naik – maka profit perusahaan penerbangan pun akan makin terkikis. Alhasil, selisih (“spread”) dari kedua instrumen akan cenderung melebar. Spekulator bisa membukukan profit di dua counter (harga minyak makin tinggi – dan harga saham penerbangan yang makin jeblok).

    Spread trading tidak harus berkorelasi negatif seperti di atas. Strategi spread juga bisa dilakukan pada salah satu counter yang harga salah satunya bergerak lebih lambat daripada yang lain (“long” yang cepat – “short” yang lambat). Ataupun salah satu yang cuma stasioner (sebagai contoh spread emas & US Bond pada masa sebelum 2002). Bisa juga pada perusahaan yang berkompetisi ketat (Pepsi Cola versus Coca Cola..?)

    Dalam praktek, ada banyak sekali variasinya.

  12. RVer berkata:

    kata kerennya contoh pak poltak adalah equity market neutral strategy karena ngambil posisi short ataupun long pada related stock, indices ataupun commodities.

    long/short equity strategy juga hampir mirip tapi belum tentu yang related.

    event driven strategy juga bisa masuk kesitu tapi information is really a key on this strategy instead of any statistical model.

  13. papabonbon berkata:

    seru seru … murni spekulasi banget yah. tapi kalo gak gini, sapa lagi yg menyerap resikonya …😀

    btw, akselerasi yg fragile ini yg membuat dunia timur tengah masih menolak skema penjualan hutang.

  14. RVer berkata:

    kalo di kerjaan gw, timur tengah (disini gw asumsi middle east dan north africa) lebih nyari aset daripada perlu financing..petro$ makes them rich and wealthy.

    tp dari business investment banking, raising money from capital market sih udah banyak juga. equity banyak dan bonds juga banyak…

    kalo bonds, mereka biasanya yang syariah compliant..banyak orang bilang islamic bonds atau sukuk bonds. mereka juga kena hit gara2 subprime issues. seperti dana gas dan saudi basic industries corp harus menunda penerbitan bondnya…

  15. ria berkata:

    Mas, denger2 di Indonesia PT SMF (Kalo gak salah kepanjangannya Sarana Multi Griya Finansial), mau nerbitin Residential Mortgage Backed Securities/RMBS. Kira2 prospeknya gimana ya? Kalo lembaga nonbank kayak pension fund beli RMBS, seberapa tinggikah risikonya?

    Btw, dunia timur tengah masih menolak skema penjualan hutang cara konvensional karena emang haramkan? Bonds syariah/sukuk itu kalopun diperjualbelikan harus di nilai nominalnya…

  16. ionischen berkata:

    Great work, pleased to have come across this place on blogs list.
    This is the kind of knowledge that should be provided online.
    You should really look at publishing more stuff
    like this on web 2.0 list. Shame on the search engines
    for not positioning this blog higher. If you’re interested, please come and pay a visit to my web site. Thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s