Krisis Finansial [6]: Memahami Tindakan Bank Sentral[1]

Di artikel ini, kita melihat bahwa bank sentral AS (the Fed) dan bank sentral Euro area (ECB) menyuntikan dana ke money market. Penyuntikan dana ini dilakukan dalam upaya untuk menormalkan kembali kondisi money market.

Money market adalah pasar global di mana urusan pinjam-meminjam aset finansial dalam jangka sangat pendek ditransaksikan.

Dalam money market, transaksi terjadi antara berbagai institusi keuangan, terutama bank-bank.

Mengapa Bank Perlu Meminjam Dana Melalui Money Market?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu kembali untuk memahami sistem fractional reserve banking. Ketika mendapatkan deposit dari nasabah, bank bisa menggunakan uang tersebut untuk dipinjamkan ke nasabah lain. Tapi, sebagian (a fraction) dari deposit tersebut tidak boleh dipinjamkan ke pihak lain tetapi disimpan sebagai cadangan (reserve).

Ada 2 macam reserve yang dimiliki bank: uang kertas atau logam yang disimpan sendiri (vault cash) atau deposit bank tersebut di Bank Sentral (reserve account). Reserve account di the Fed tidak mendapatkan bunga (Tapi reserve account di ECB memperoleh bunga).

Karena reserve account di the Fed tidak memdapatkan bunga, maka bank-bank di AS memiliki insentif untuk sebisa mungkin memperkecil saldo reserve account-nya — hanya cukup untuk memenuhi batas minimal ditambah buffer sedikit. Bila ternyata reservenya di bawah minimum, bank itu akan dikenakan denda yang signifikan.

Suatu ketika — misalnya karena penarikan dana nasabah — sebuah bank akan kekurangan reserve. Di lain pihak, bank lain kelebihan reserve. Bank yang kekurangan reserve akan meminjam dari yang kelebihan. Transaksi reserve ini terjadi di money market. Itulah sebabnya mengapa bank perlu meminjam dana melalu money market.

Ketika pasar modal ambruk, banyak orang yang ingin menjual aset-asetnya dan menggantikannya dengan cash (flight to safety). Di saat inilah, beberapa bank akan kekurangan reserve karena dananya ditarik nasabah. Bank yang saat itu tidak kekurangan reserve juga khawatir kalau suatu saat tiba-tiba akan kekurangan. Disamping itu, tingkat kepercayaan satu bank dengan yang lain juga menurun. Bagaimana kalau bank yang diajak transaksi tiba-tiba bangkrut? Dalam kondisi yang kacau, hal ini bukan mustahil terjadi.

Akibatnya, money market tidak berjalan secara normal. Bunga pinjaman pun menjadi berfluktuasi besar.

Di saat-saat seperti ini, datanglah bank Sentral. Ia datang meminjam uang kepada bank yang membutuhkan, lender of last resort.

Bagaimana Bank Sentral Menyuntikan Dana ke Money Market?

Bank Sentral menyuntikan dana dengan cara memasuki transaksi Repo (Repurchase Agreement). Dalam transaksi Repo antara pihak A dan B, pihak A “membeli untuk sementara” jaminan (collateral) yang dimiliki pihak B dalam jangka waktu tertentu, misalnya 1 hari. Pada hari ke-1 nanti, pihak B akan “membeli” kembali jaminan tersebut dengan harga yang sama + bunga.

Misal pada tanggal 10 Agustus, the Fed menyuntikan dana sekitar 37 milyar dolar AS dengan memasuki transaksi repo dengan jaminan yang berbentuk mortgage back securities (lihat chart di artikel sebelum ini). Bank-bank yang membutuhkan dana “menjual dengan sementara” jaminan mereka kepada the Fed.

Pada hari-hari biasa, transaksi Repo yang dilakukan the Fed berkisar antara 2-20 milyar dolar AS.

Dari Mana Dana yang dikeluarkan oleh Bank Sentral?

Bank Sentral tidak meminjam dana dari mana-mana, ia tinggal mengkredit (menambah) saldo reserve untuk bank yang memasuki Repo.

Pos ini dipublikasikan di KRISIS. Tandai permalink.

15 Balasan ke Krisis Finansial [6]: Memahami Tindakan Bank Sentral[1]

  1. edratna berkata:

    Saat dapat pelajaran, bagaimana Bank Sentral mengelola moneter disuatu negara, jika sampai suatu Bank membutuhkan dana dan meminjam Bank Sentral, itu sudah merupakan fasilitas terakhir atau lender of the last resort.

    Dan pada saat krismon di Indonesia hal ini banyak terjadi…dan beberapa orang dari beberapa Bank kemudian ditempatkan di Bank-bank yang mengalami bleeding tsb untuk mencegah agar tak terjadi perdarahan lebih lanjut…yang dibutuhkan adalah orang yang mempunyai keahlian dibidang Treasury…..karena likuiditas adalah memang “darah” suatu Bank.

  2. ihedge berkata:

    the Fed kembali menambah likuiditas money market hari Kamis kemaren. Kali ini dengan 3 kali melakukan transaksi Repo. Total sebesar 17.25 milyar dolar AS (8.98 milyar dari itu, menerima mortgage backed securities).

    Things are not settled yet.

  3. ricky berkata:

    tujuan Fed nyuntik dana membantu bank dalam kondisi likuiditas, initnya cuma satu, jangan sampai terjadi instabilitas di financial system dan contagion effect. Kalau ini tdiak dilakukan, akan terjadi krisis. Dalam hal ini the Fed telah melakukan fungsinya sebagai lender of the last resort tapi baru dari sisi pinjaman jangka pendek. Kenapa Fed turun, karena likuiditas di money market sudah tidak mencukupi. Kenapa tidak mencukupi, kaerna memang dana tidak mencukupi atau si bank sendiri sudah tidak mendapat credit line lagi dari market sehingga dia lari ke Fed. Konsekuensinya bank harus membayar mahal dan dengan collateral yang sangat likuid.

    Dalam hal knteks ini, Indonesia tahun 2005 telah menyusun framework yagn sama, apabila terjadi kondisi yang sama dikemudian hari, pertama dalam konteks “normal” dan konteks “darurat”. Dalam konteks normal, bank-bank yang tidak memiliki line lagi kepasar money market, akan meminjam ke bank sentral dengan bunga sangat mahal dan dijamin dengan collateral high quality. Dalam konteks darurat, seprti kasus BLBI dulu, banks entral harus turun dalam kondisi simalakama “lender of the last resort, desisiconnya nukan day to day lagi, tapai second per second karena yang ditakuti adalah collapsnya financial system dan paymet system yang berujung hilangnya kepercayaan masyarakat. Bagi masyarakat awam, ini lah yang tidak dimengerti kenapa harus keluar duit sekian triliun, dan ini terjadi di hampir semua negara, argentina, brazil, thailand, sebut saja dimana krisis terjadi, penyelamat hanya bank sentral karena berdasarkan best practice dan UU dia mempunyai wewenang untuk itu.

    Dari mana datangnya dana di bank sentral, mereka adalah kasir pemerintah dan penjaga cadangan devisa yang dikelola juga untuk mendapatkan keuntungan. Sumber lain adalah fee (RTGS, kliring) serta pemasukan lain seperti denda dari bank.
    Disamping itu bank senetral juga mempunyai permodalan pada tingkat tertentu. Oya sebagai informasi, cukup banyak bank sentral dengan permodalan defisit seeprti di Chili dan Ceko dan mereka teteap menjalankan fungsinya.

    Terkati dengan suntuikan dana the Fed. Mirip kasus BLBI ynag kemudian menjadi marak, karena ketidak mengertian orang dan ditambah dengan intervensi politik. Coba kontrak BLBI antara pemerintah/BI dan obligor dilaksanakan sesuai hukum dan tidak diobok-obok dulu, tidak akan begitu parah kondisi ekonomi saat ini.

    Sekarang coba liat, berapa banyak duit orang Indonesia diparkir di Singapore. Coba diliat, siapa korporasi besar yang muncuk setelah krisis, tidak ada, semua diparkir di BPPN dan tidak pernah selesai, kenapa, karena politik sudah mencampuri ekonomi.

    Subprime mortage tidak berdampak langsung ke Indonesia kenapa, karena perbankan sebagai investor utama subprime dilarang oleh BI untuk melakukan business ini.

    Oya untuk megnetahui kondisi Indonesia terkait degnan financial system stability, coba buka website BI, diaman BI sudah mulai concern terhadap instability bukan hanya sibuk masalah ngawasain bank dan jaga moneter. Setiap semester BI udah nerbitin kajian stabilitas keuangan. Coba baca ulasan no 1 dan isu di terbita no.8. Ternyata kondisi Indonesia sudah jauh lebih baik.

  4. ricky berkata:

    Terlepas dari itu, yang sedikit dikhawatirin adalah sudden revesal dari investor asing. Namun demikian selain dari saham, mereka juga banyak invest di SBI yang notabene kalau ditarik investor (khususnya SBI) tidak terlalu bermasalah, kenapa, karena bank sangat banyak investasi di SBI yang sebagian besar diindikasikan punya investor asing.

    Sumber permasalahan apabila subprime mortagge makin parah, dari sisi domestik, tidak akan berasdsal dari perbankan yang sebagai dominan player dalam financial system.
    Perkembangan kredit KPE pun yang akan disalurkan perbankan juga tidak akan terpengaruh. Disamping itu industri subprime masih dalam bentuk benih di Indonesia, pilot project rencananya BTN.

    Capital market adalah dapat menjadi sumber utama contagion efffect apabila sudden reversal. Be carefull aja dari sisi sini. Tapi kata buffet, jagnan ikut pasar, berpikir sebaliknya, disetiap kesulitan akan timbul kesempatan baru.

    Namun demikian apapun kondisinya, saya yakin BI akan ada dipasar.

  5. ihedge berkata:

    @ricky: salam kenal (dari BI kan?). good to have BI people here. thanks buat komentarnya yang komprehensif.

    Menarik juga untuk diskusi tentang situasi stabilitas sistem keuangan di Indonesia. Btw, saya rasa BI sekarang di isi orang2 yang menurut saya capable.

    Saya sendiri masih belum sempat melanjutkan topik Bank Sentral & Subprime mortgage ini.

    Komentar & diskusi menyusul nanti… (a bit tight now)

  6. RVer berkata:

    Mas Ricky ini pasti orang BI…seperti dugaan Bahar juga….hehehhee..Selamat dateng Mas…

    Gw tertarik dengan dengan kondisi darurat mengunakan BLBI seperti jaman dulu. kenapa panik? itu kan sebenarnya karena terjadi rush di sektor perbankan…

    BLBI turun, hanya segelintir orang yang ngerti. gw inget waktu krisis, temen2 cerita bawa duit cash dari bank satu ke bank lain dengan jumlah yang tidak sedikit untuk mendapatkan suku bunga yang lebih tinggi.

    yang menarik sekarang kalau di ke KC bank2..udah ada sticker LPS dimana-mana. mudah2an bukan cuman sticker tapi bener2 dijamin.

    sebenarnya LPS itu kan memberikan asuransi atas deposito kita. kalau di academic studies, yang mungkin pertama kali bilang kalau rush di sektor perbankan bisa di minimkan dengan menggunakan deposit insurance adalah Diamond and Dybvig (kebetulan nih pernah baca papernya buat thesis dulu).

    mereka bilang bahwa bank yang sehat banget pun, kalau ada persepsi buruk akan menyebabkan rush yang apalagi kalau market share-nya gede, bisa jadi krisis. nah adanya LPS ini yang mudah2an udah bisa membuat orang yang suka rush untuk tidak ikut2an (self-fulfulling prophecy). belum pernah di tes, tapi kalau dari teman2 yang sudah jauh lebih tua menganggap deposito itu sangat aman dengan adanya LPS. let’s see.

    tapi kalau capital market products memang tidak ada yang dijaminkan (kecuali masuk dalam bentuk terstruktur). contagion effect juga terjadi apabila bukan sudden reversal. US naik, jci naik. sentimen di US membaik, JPY balik ke lvl 116an

    (USD/JPY ini menarik untuk me-monitor carry trade yang sering menjadi mainannya hedge fund. pinjem JPY itu paling murah sedunia. jadi mereka harus jual JPY dan beli USD atau short JPY against USD. ini bisa dilakukan dengan berbagai swap products. kalau JPY melemah artinya udah banyak lagi yang melakukan carry trade. kalau JPY udah menguat lagi berarti banyak yang unwind atau lepas posisi).

  7. ihedge berkata:

    buat monitor carry trade, mungkin lebih jelas liat NZD/JPY atau AUD/JPY.

    Selain JPY, Swiss Franc juga kadang-kadang dipakai buat carry trade.

  8. RVer berkata:

    not major cross-rates…but yes, a lot of ppl, esp HFs, have massive charts in their launchpad on these pairs. a must to monitor too..nice holding since 2005 bro..

  9. ihedge berkata:

    yea, sure. the major ones are the USD-EUR-JPY triangle.

    but these NZD, AUD, and CAD are supposedly higher yield currencies from developed markets, hence the carry trade.

  10. RVer berkata:

    betul bro..safe carry trade…and still a handsome profit..

    boleh tuh membahas carry trade bro..

    ini untuk memulai dari wikipedia…

    Carry(investment)

  11. RVer berkata:

    Mas Ricky punya overall point menarik dari tulisannya, dimana BI (atau CBs in general) will be in the market. What happens to the free market believers? Kata mereka, Adam Smith free hand of capitalism should determine winners and losers (terinspirasi dari LEH piece yesterday). Cuman bank disini punya privileged. SAVE FINANCIAL SYSTEM, yang kayanya punya cost jauh jauh lebih besar dari SAVE THE WORLD’s campaign.

  12. ihedge berkata:

    yea… “save the financial system” sebenarnya merupakan salah satu bentuk intervensi free market yang seharusnya memberi financial reward kepada winners dan punishment kepada losers.

    Sayangnya, buat financial institutions, kebangkrutan mereka bisa mengakibatkan kerugian di pihak lain yang sebenarnya tidak terlibat dalam transaksi2 yang merugikan financial institutions tsb. Maka, kadang2 mereka di-bail out “for the sake of the economy”. Hmm… enak yah mereka…

    Kutipan pidato Bernanke:

    “It is not the responsibility of the Federal Reserve–nor would it be appropriate–to protect lenders and investors from the consequences of their financial decisions. But developments in financial markets can have broad economic effects felt by many outside the markets, and the Federal Reserve must take those effects into account when determining policy.”

  13. Kaena berkata:

    Isi blog-nya bagus.
    Mencerahkan dan semoga tetap konsisten dengan semangat berbaginya.

    Saya mau nimbrung komen dikit aja tentang respon bank sentral. Maap kalo udah basi, Maklum saya barusan nyasar tiba di blog ini waktu mau cari ref ttg pengukuran level segmentasi di suatu pasar (barangkali ada yang bisa bantu?).

    Kembali ke soal tindakan bank sentral dunia.

    Dalam pemahaman saya, kata kunci (implikasi/pelajaran yang dapat dipetik) dari gonjang-ganjing tersebut adalah bagaimana bank sentral menyikapi isu financial stability tanpa mengganggu kredibilitas kebijakan moneternya (policy rate-nya).

    Dalam konteks itulah the FED hanya memberikan respon temporer (kucuran likuiditas) dalam bentuk pembelian repo untuk beberapa jenis surat berharga.

    Hal ini tidak lain menyiratkan upaya the Fed untuk tidak mem-bail out investor yang telah membuat ’bad bets’.

    Ini bagian dari edukasi pasar….tidak ada investasi yang tidak berisiko!

    Dengan injeksi likuiditas tadi, suku bunga pasar uang di Amerika sono kembali stabil bergerak di sekitar policy rate. Dan dasar pemikiran yang kurang lebih sama tampaknya juga melatari respon kebijakan bank sentral yang lain.

    Dalam hal kemudian kondisi pasar keuangan AS diperkirakan dapat bergulir menjadi tidak solvabel, tentunya kebijakan moneter bukanlah panacea. So, harus ada kebijakan lain yang bermain.

    Dalam konteks itu pulalah maka selanjutnya penurunan discount rate yang dipilih bukan policy rate. Bila selanjutnya kita sama-sama lihat bahwa akhirnya policy rate diturunkan, tentunya nggak lepas dari tekanan inflasi yang sedikit meredup.

    Segitu dulu dan salam kenal,
    Kaena

  14. ihedge berkata:

    salam kenal juga Kaena. Thanks buat insights-nya.

  15. I have been reading your articles Krisis Finansial [6]: Memahami Tindakan Bank Sentral[1] | Skeptical Empiricist and they are too much useful for me to learn something new and special. And You can also visit our website also all hyip monitors http://www.hyipreward.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s