Mengamati, bukan menghakimi

Pasar bekerja bagaimana ia berkerja, bukan bagaimana kita pikir seharusnya ia bekerja.
Bagi seorang pemula, anggaplah kita sebagai orang yang sedang berkenalan dengan seseorang yang berbahasa asing.

Bagaimana kita mulai berkomunikasi dengan orang yang tidak berkomunikasi dalam bahasa kita? Kita amati. Dan kita amati dengan kepala dingin. Dan bukan menghakimi: “pasar tidak rasional”, “seharusnya begini”, “seharusnya begitu”.

Perlahan-lahan, sebagian dari apa yang ingin disampaikannya akan kita pahami.

Bagaimanapun cara kita memahaminya, tidak menjadi soal.

Pos ini dipublikasikan di FILOSOFI INVEST.. Tandai permalink.

9 Balasan ke Mengamati, bukan menghakimi

  1. edratna berkata:

    Memang, sebaiknya kita mengamati dulu…baru nanti mempelajari dari hasil pengamatan itu. Tahu nggak, awalnya saya dulu suka bingung…apa yang dimaksud dengan pasar? Bagi orang awam (seperti saya), pasar seolah-olah adalah pasar riil, tempat pertemuan pembeli dan penjual, dan barang yang diperdagangkan produknya terlihat jelas.

    Pelan-pelan belajar, ternyata produk tak hanya terlihat saja, demikian juga halnya dengan pasar….Hmm ternyata mengamati adalah hal yang menarik, sama dengan merenung. Karena sering berpikir realistis, merenung seolah-olah tak ada gunanya. Saya belajar banyak dari anak saya, bahwa merenung banyak gunanya…bahkan hasil renungan menghasilkan sesuatu.

    Mari kita amati perkembangan pasar…terutama pasar finansial. Menarik sekali…harga saham tertentu sudah mulai kembali normal (padahal baru beberapa hari yg lalu, teman bilang…ini saatnya beli).

    Di Indonesia (kompas) lagi membahas tentang banyaknya anggaran pemda yang tertanam dalam SBI sampai Rp.96 triliun. Mau mencoba mengulas? Entahlah, sebenarnya pengin nulis, tapi tugas buat laporan belum selesai…jadi blogwalking aja dulu.

  2. RVer berkata:

    dulu gw memulai karir sebagai investment analyst. tugas pertama adalah membuat laporan weekly mengenai pasar dan forecast seminggu kedepan untuk para investor. bos gw lebih ngerjain yang lebih long-term.

    disitu gw dipaksa untuk bisa membaca pasar dan kemudian memberikan input kepada investor. apabila salah, sudah pasti gw ngga ditelpon-telpon lagi atau lebih buruk lagi, investor ngga mau jual-beli aset lewat kantor gw. itulah risiko kerjaan menjadi analis. dan ingat, seorang analis yang ok memiliki disclaimer yang menyatakan salah satunya bahwa dia tidak akan melakukan sesuatu dimana dia memberikan rekomendasi.

    pernah juga ngerjain trading (trader merupakan salah satu tipe investor). buat salah (rugeee) udah pasti donk di marahin ama bos. buat menghindari argumen mulut dengan bos (daripada kena told off), senjata yang paling ok adalah mengirimkan email. di email itu gw harus menjustifikasi kenapa gw ambil posisi seperti itu dan apa yang gw harapkan sebenarnya dari posisi itu. terus, kenapa bisa melenceng dari apa yang gw harapkan.

    pernah juga nulis di koran mengenai pasar atau melakukan tindakan sebagai pengamat. kata editor di koran itu, inget jangan terlalu dalem membahasnya. nanti malah kita (koran itu) yang bingung jawab email pertanyaan. hehehehhe….

  3. psb berkata:

    tentang mengamati, coba amati DJI ama JKSE. Di koran2 katnaya sema market turun karna imbas dari mortgage tp DJI yg sumber mortgage atau tempat mortgage itu sendiri bernaung cuma turun 10% an, nah jkse turun ampe 20%. setau saya indo gak terlalu tergantung ama amrik lg tp kenapa jkse turun dalem gitu. memang sepanjang sejarah klo diamati sebuah bursa itu turun separah2nya berkisar di angka 20 – 30%. klo di fikir2 lg, mestinya dow yg turun 20-30% ini malah jkse, lucu… apa saya yg salah tafsir ya , hehehehehe maklum, new bie😀

  4. ihedge berkata:

    @psb: coba baca komentarnya RVer di sini “dari-subprime-kemana-mana/#comment-958”

    sistem keuangan global saat ini terkait satu sama lain karena aset manager juga membeli/menjual aset di berbagai tempat.

    suatu masalah tidak boleh dilihat secara linear. Contoh: bila masalah subprime mortgage paling parah berurutan di tempat A>B>C, bukan berarti koreksi paling parah juga A>B>C.

    Selain itu, ada juga isu membuang aset-aset beresiko di saat-saat genting. Saham emerging market dipandang sebagai aset yang lebih beresiko.

    @RVer: pernah nulis di koran tho…😀

    @Bu Edratna: Wah, saya nggak mengikuti kasus anggaran pemda yang numpuk di SBI Bu. Mungkin perlu ada UU yang dengan jelas memisahkan proses pengaliran dana mana yang bisa dikategorikan korupsi dan proses mana yang tidak. Kalau prosedurnya jelas, mungkin rasa ketakutan pemda akan berkurang (asumsinya: dana ditaruh di SBI karena kalau bikin proyek takut dikira korupsi).

  5. 9uBr4K5 berkata:

    – Pasar bekerja bagaimana ia berkerja, bukan bagaimana kita pikir seharusnya ia bekerja. <—
    Dan kita amati dengan kepala dingin. Dan bukan menghakimi: “pasar tidak rasional”, “seharusnya begini”, “seharusnya begitu”.
    ===
    aku sepakat dengan statement kamu…

    ibarat pasar = demands & kita = supply. supaya bisa ketemu di 1 titik maka hrs ada saling mengamati, pengertian & memahami, entah siapa yg memulainya lebih dulu atau entah bagaimana caranya itu gak jadi soal…
    😀

  6. Arya Hidayat berkata:

    Pasar itu seperti saat kita mengirimkan lowongan pekerjaan ke suatu perusahaan, faktor apa yang membuat offer kita match dengan keinginan mereka. Tergantung skill, knowledge, attitude and luck atau jangan -jangan anda jual rugi, he he he…

    Take what the market gives U..

  7. Hardono Arifanto berkata:

    Quote: “@Bu Edratna: Wah, saya nggak mengikuti kasus anggaran pemda yang numpuk di SBI Bu. Mungkin perlu ada UU yang dengan jelas memisahkan proses pengaliran dana mana yang bisa dikategorikan korupsi dan proses mana yang tidak. Kalau prosedurnya jelas, mungkin rasa ketakutan pemda akan berkurang (asumsinya: dana ditaruh di SBI karena kalau bikin proyek takut dikira korupsi).”

    Talking about ironic …

    http://www.google.com.sg/search?q=Ke+Mana+Larinya+Dana+Hasil+Korupsi

    Kayaknya kita pernah bahas deh Har (ama kamu apa ama Bang Bono yak ..), kalo Indonesia UU/PP udah bejibun.. cuman pelaksanaannya diwarisin ke generasi berikutnya (yang mungkin sama generasi berikutnya di warisin ke generasi berikutnya berikutnya .. hehe)

  8. ihedge berkata:

    Hehehe… itu masalah lain. Implementasinya nggak jalan bukan berarti aturannya gak diperlukan. Yah, mudah-mudahan saja implementasinya segera lebih bagus.

  9. Heru berkata:

    “Pasar bekerja bagaimana ia bekerja, bukan bagaimana kita pikir harusnya bekerja”
    Setuju, meskipun saya berharap sesuai keinginan saya (karena saya punya kepentingan) he..he..
    Yg pasti pasar bukan hanya pure tempat ketemunya pembeli dan penjual saja (ada copet juga disitu) yg pasti siapa aja yg mau ambil profit di pasar.
    Mungkin saya ambil posisi beli beli/jual, mungkin cuma nongkrong sambil liat sekitar, mungkin jg jd makelar, bisa jg jadi penunjuk jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s