Mengikuti Trend atau Melawan Trend?

Ada ungkapan “trend is your friend”, terutama buat mereka yang percaya trend following strategy. Buy high and sell even higher. Beli aset yang sedang melesat dengan harapan kenaikan akan berlanjut.

Ada juga yang bilang “buy low and sell high”, terutama buat mereka yang percaya counter trend atau contrarian strategy. Beli aset yang sedang terperosok jatuh dengan harapan harga akan segera berbalik.

Mana yang lebih bagus?

Dua-duanya lebih bagus dari pada membeli saham yang selama ini diam di tempat. Secara rata-rata, kedua kondisi ekstrem itu memberi reward-risks rasio yang lebih bagus daripada aset yang ada di tengah.

Namun, profil resiko kedua-nya berbeda. Maka, cara mengelola resiko keduanya juga harus berbeda.

Ketika kita membeli aset yang baru jatuh, kemungkinan untuk berbalik memang besar. Tapi… bila harga berbalik arah lagi (jatuh lagi)… kali ini turunnya harga bisa sangat parah.

Pos ini dipublikasikan di Assets Selection, FILOSOFI INVEST., Market Timing. Tandai permalink.

10 Balasan ke Mengikuti Trend atau Melawan Trend?

  1. psb berkata:

    Saya sendiri cenderung mengikuti trend. Karna dg mengikuti trend , kerjaan jd simple dan gak ruwet2 amir. Setelah trend terbaca, maka saya akan jalankan strategy buy or sell dg berdasarkan kepada break ( break up / break down).

  2. edratna berkata:

    Bahar,
    Ada yang mengatakan bahwa orang Indonesia kalau jadi investor cenderung untuk mendapatkan capital gain…(hehehe, termasuk saya), tapi kalau investor asing tujuan membeli aset adalah untuk investasi jangka panjang.

    Akibatnya saham perbankan, begitu harganya naik, investor yang lebih menyukai capital gain segera menjual sahamnya…jadi rata-rata saham Bank di Indonesia yang saat ini go public di atas 90% kepemiliannya dipegang asing.

    Dari beberapa kali mendengar paparan para ahli, sarannya adalah sebaiknya kita menjadi investor untuk jangka panjang, maka naik turunnya harga saham tak terlalu terasa, karena setelah sekian tahun hasil bersihnya akan untung. Bagaimana pendapatmu?

    O, iya sebentar lagi saya akan mendapatkan dana dari DPLK, ada beberapa opsi. Ada yang menyarankan langsung dinvestasikan kembali, dengan reksadana berpendapatan tetap…ada juga yang menyarankan gabungan dari obligasi dan saham. Bisakah Bahar memberikan saya beberapa saya opsi plus keuntungan, kerugian dan risiko-risikonya…..uangnya cukup worthed sih (bagi saya)…kalau ditaruh deposito cuma dapat 5% pa. Atau jawabannya japri aja? Thanks.

  3. edratna berkata:

    Ehh sorry, komentarku kok jadi tak ada hubungannya….karena saya tak terlalu memahami, dan uangnya tak banyak sekali, saya cenderung ikut trend…sambil deg2an tentunya….hehehe

  4. reksa berkata:

    Banyak orang-orang terkaya dunia seperti Bill Gates, Warren Buffet merupakan investor jangka panjang dan fokus pada saham-saham tertentu saja. Bahkan Menneg BUMN Sofyan Djalil selama 3 tahun menjabat sebagai menteri kekayaannya bertambah Rp. 4 M. Menurutnya, uang itu hasil dari investasi di saham…

  5. hamid berkata:

    hmm, sebagai orang awam masalah ginian, saya maunya beli saham yang sedang naik dan PASTI tetap akan naik lagi, dan beli saham yang turun dan PASTI akan mulai naik…. hehehe… dan itu gak mungkin… so it is related to the “tag” od stock exchange rite? “High Risk High Return?”

    Well, jadi kepikiran karena lagi ngambil HRM dengan rujukan buku Blue Ocean Strategy, jadi sebenernya menurut saya value yang di jual di pasar saham itu harapan. Harapan harga akan naek so bisa dapat profit :p

    tapi apakah ada Blue Ocean exist di pasar saham? or totally Bloody Red Ocean?

  6. anisa berkata:

    Bagi type investor tentu lebih cocok buy low sell high dengan FA sbg panduan.
    Sedangkan type trader lebih cocok trend is your friend dengan TA sbg panduan.
    Keduanya diperlukan pasar modal, yang pasti “no pay no gain”

  7. RVer berkata:

    overall..be a discipline trader..know when to cut loss and of course when to have profits in hand…greed is good but lossing moments is also ruining ur bonus…..

  8. ihedge berkata:

    @Bu Edratna: Japri aja bu. Maaf baru sempat nengok ke sini lagi. Akhir2 ini ada kerjaan yang cukup menyita waktu.

    @Hamid: secara umum, high risks high return. Tapi ada celah2 (suatu aset di suatu saat) dimana reward risks profile tidak sama.

    “tapi apakah ada Blue Ocean exist di pasar saham? or totally Bloody Red Ocean?”

    Dari yang saya tangkap, “Blue Ocean” muncul kalau kita menciptakan medan baru (bukan berarti jenis barangnya harus baru). Di pasar modal saya percaya ada blue ocean. Tapi ya itu, bakal cepat berubah warna juga.

    @RVer: ya, disiplin itu penting. tahu di mana harus cut loss (dan benar2 menurutinya) dan mengambil profit will keep you in the game.

    Kadang2 karena emosi (mungkin karena losing streak), kita melakukan trade yang berbalik arah dengan intuisi di saat2 normal. Hal2 seperti itu menurut gw berbahaya.

  9. bego berkata:

    Pengikut trend jangka panjang kata kuncinya adalah “akumulasi” atau dollar cost averaging (investor) tapi bagi pengikut trend janka pendek atau day trader atau scalper trend berarti “buy high sell higher (beli/long) dan buy low sell lower(jual/short)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s