Mengalokasikan Dana Pensiunan

Saya mendapat pertanyaan dari seorang teman. Beliau menganjurkan untuk menaruhnya di blog supaya teman-teman yang lain ikut belajar dan ikut menambahkan. So why not..

Maaf nih menganggu untuk urusan sepele. Tak lama lagi saya akan mendapat pencairan dana dari DPLK di atas Rp.100 juta. Jika saya tak melakukan opsi apapun, oleh perusahaan akan dialihkan menjadi dana yang bisa diambil setiap bulan secara anuitas (kemungkinan reksadana berpendapatan tetap ya?). Hasilnya sih nggak banyak, kemungkinan hanya sekitar Rp.300.000,- per bulan, jadi tak ada pengaruhnya untuk menambah uang pensiun.

Nahh karena uangku sendiri, apa tak sebaiknya saya investasikan ke reksadana saham saja…mungkin harus mencari manajer investasi yang bagus ya(saya bisa nanya teman2 treasury). Dan anggap saja itu uang lebihan, syukur kalau menguntungkan…serta untuk investasi jangka panjang.

Saya coba menjawab dari kacamata seseorang yang tidak aktif bermain di pasar modal. Selain itu, mungkin ada alternatif lain yang pembaca bisa tambahkan.

Makasih sudah mau bersusah-susah menulis panjang lebar di tengah kesibukannya yang luar biasa. Masalah bagaimana menggunakan dana DPLK bukan urusan sepele kok.

Mengenai dana yang akan segera datang, saya coba liat berbagai opsinya. Bagaimana memilihnya tergantung situasi dan keperluan:

1. Tetap ditaruh di program Annuity.
Keuntungan:

  • Biasanya program annuity akan berjalan sampai holder program tersebut meninggal dunia. Jadi, dijamin dana akan mengalir terus sampai hari tua. Coba bu di cek program annuity-nya itu berlaku sampai kapan? Apa cuma terbatas beberapa tahun saja.

Kerugian:

  • Dana yang dikucurkan perbulan jumlahnya tetap. Hal ini bermasalah karena inflasi akan menggerus nilai dari kucuran per bulan tersebut.
  • Kalau saya hitung, kucuran per bulannya relatif kecil. Kalau kita anggap dana asal Rp 100jt, maka Rp 300rb hanya 0.3% per bulan, atau 3.6% per tahun.
  • Dana terpatok di situ, tidak likuid.

2. Membeli ORI (Obligasi Ritel Indonesia)
Keuntungan:

  • Dana dijamin pemerintah. Resiko boleh dibilang gak ada.
  • Bunga cukup besar dan lebih besar daripada deposito. Terakhir kalau tidak salah bunganya 9.5% per tahun yang dibayar bulanan.

Kerugian:

  • Dana terpatok di situ, tidak likuid. Seperti deposito, ORI merupakan investasi jangka panjang.

Buat mereka yang tidak perlu memperbesar dana dan tidak muda lagi, menurut saya ini pilihan paling bijak. Bunga lebih besar dari deposito, lebih aman, dan transparan.

3. Membeli reksa dana obligasi
Keuntungan:

  • Kemungkinan kenaikan nilai unit ada, walau tidak besar.
  • Dana cukup likuid. Bisa ditarik setiap saat walaupun ada biaya penarikan.
  • Bisa dibilang cukup aman.

Kerugian:

  • Kemungkinan penurunan nilai unit juga ada.
  • Kurang transparan. Kita tidak tahu dengan pasti saham-saham apa yang dibeli, bagaimana manajer mengelolanya, dsb.
  • Saya melihat kemungkinan turunnya interest rates dalam jangka beberapa tahun ke depan tidak besar. Sumber2 inflasi dunia lambat laun akan menyeruak. Kemungkinan the Fed minggu ini akan menurunkan interest rates untuk menghindari krisis kredit. Tapi setelah itu, mungkin tidak akan turun lebih banyak lagi. Ketika interest rates naik, harga obligasi turun. Bila misalnya the Fed mesti menurunkan rates lebih jauh lagi untuk menghindari krisis, bukan berarti bonds di Indonesia otomatis naik, karena risks aversion investor internasional bahkan mungkin lebih tinggi. Tapi who knows the future.

4. Membeli reksa dana saham
Keuntungan:

  • Kemungkinan apresiasi nilai unit besar.
  • Dana cukup likuid. Bisa ditarik setiap saat walaupun ada biaya penarikan.

Kerugian:

  • Kemungkinan penurunan nilai unit juga besar.
  • Kurang transparan. Kita tidak tahu dengan pasti saham-saham apa yang dibeli, bagaimana manajer mengelolanya, dsb.

Kalau dalam jangka panjang, paling tidak 5 tahunan misalnya, maka menaruh sebagian di reksadana saham cukup bijak. Tapi ya itu, harus long term. Kecuali kalau mau sibuk memonitor pasar.

Untuk reksadana obligasi, campuran, ataupun saham, Anda mesti mencari manajer investasi yang jujur dan terpercaya. Dari berbagai aset manager, tentu akan ada yang under performing dan outperforming. Jadi meskipun pasar obligasi atau saham naik, belum tentu semua reksadana obligasi naik.

5. Membeli beberapa saham unggulan secara langsung di BEJ.
Keuntungan:

  • Kemungkinan apresiasi nilai unit besar.
  • Dana cukup likuid. Bisa ditarik setiap saat walaupun ada biaya penarikan.
  • Transparan. Kita tahu exactly saham apa yang kita beli.
  • Kalau cukup diversified, saham-saham unggulan merupakan sarana investasi yang cukup aman. Tapi mesti diversified. Diversified, berarti saham2 ungguluan tersebut berasal dari berbagai sektor, bukan cuman membeli banyak saham.

Kerugian:

  • Kemungkinan penurunan nilai unit juga besar.

Saya menyarankan untuk membeli saham-saham unggulan dengan asumsi pemilik dana tidak ingin aktif memonitor pasar modal. Bukan berarti saham unggulan akan memberi untung lebih besar, tapi lebih dilihat dari segi resiko yang cenderung lebih kecil.

#============================
Jadi:

  1. kalau tidak mau mengambil resiko dan tidak perlu mengembangbiakan dana => Beli ORI.
  2. kalau mau sedikit mengambil resiko dan tidak mau berususah-susah => Beli sebagian ORI dan sebagian reksadana saham dari manajer terpercaya.
  3. kalau mau sedikit mengambil resiko dan mau berususah-susah => Beli sebagian ORI dan sebagian beberapa saham unggulan secara langsung.
  4. kalau mau mengambil beresiko dan dananya tidak diperlukan dalam jangka panjang => beli beberapa saham unggulan dan biarkan saja.

Semoga bermanfaat.

Silakan buat rekan-rekan buat menambahkan berbagai saran. Tentu yang tinggal di Indonesia lebih tahu berbagai instrumen keuangan yang tersedia buat publik.

Pos ini dipublikasikan di PERSONAL FINANCE. Tandai permalink.

20 Balasan ke Mengalokasikan Dana Pensiunan

  1. kakha kaladze berkata:

    Bingung nih, yg ttg annuity. Setau saya, buat ngitung dana yg dikucurkan per bln, bukannya sudah memperhitungan inflation rate (discount factor)? Atau blon? mohon penjelasannya.
    Klo benar begitu, bukannya lebih baik ambil annuity, trus dr dana tersebut bs dollar cost average reksadana, dsb.

  2. Doddi Priyambodo berkata:

    Menurut saya, jika dilihat dari umur. Jika sudah hampir pensiun saya sarankan ambil 80jt di reksadana pendapatan tetap dengan melakukan pemecahan investasi dengan beberapa manajer investasi yang cukup terpercaya (ex: Schrodder,Fortis,Trimegah,Panin,dll).
    Lalu sisanya 20jt, masukkan ke dalam pasar saham unggulan (ex: telkom, aneka tambang, bri, dll) beli secara langsung atau jika tidak mau repot masukkan saja ke reksadana saham.
    Intinya adalah mendiversifikasi resiko dan juga memaksimalkan keuntungan.

  3. Ida Bgs Budi berkata:

    Mas,
    tolong donk nulis plus minus investasi di Unit link Vs Reksadana

  4. edratna berkata:

    Boleh juga tuh Bahar saran Doddi Priyambodo, tapi 20 juta tak artinya untuk beli saham seperti BRI yang harganya sudah di atas Rp.6000,- per saham.

    Plus minus Unit Link udah pernah dimuat di Kompas…tapi begitulah…korannya udah lupa ditaruh mana…jadi perlu juga ditulis di Blog.

  5. mriyandi berkata:

    Bang Bahar…
    Kalo buat Pegawai yang masih bujangan dan belum punya tanggungan, tapi memiliki penghasilan yang lebih (asumsikan sebulan bisa nabung 1-2,5 juta), sebaiknya duit tabungan di bank daripada di diamkan lebih baik diinvestasikan, trus investasi seperti apa yang harus dijalankan???

  6. Irwan Yusriadi berkata:

    Wah, kalau saya punya Rp 100 juta, ga bakal invest ke reksadana atau obligasi lagi, kapok deh. Ga likuid buanget gitu loh. Reksadana yang katanya likuid, likuid sih likuid, tapi faktanya bisa likuid dalam waktu 2 minggu.
    2 minggu??? Lha wong butuhnya paling lambat 2 hari, masa’ harus nunggu 2 minggu? Ketik C [spasi] D ajah……. CAPE DEH😦

    100 juta ya invest ke Options donkz. Likuiditas buat saya nomor wahid. Trus, dananya bisa kita manage sesuka hati, risk management kita yang atur, profit kita targetkan sendiri, terakhir harus tetap bisa buat kita tidur nyenyak.
    Itu kalo saya.

    Buat Anda yg kontra atau skeptis Options, tentu punya pilihan masing-masing🙂

  7. Priyadi berkata:

    masih tergantung umur dong. kalau gak salah paling cepat umur 45 tahun sudah ada yang bisa mencairkan DPLK, tergantung kontrak awalnya seperti apa. umur 45 tahun jelas masih produktif. kalau masih produktif, sudah pasti lebih baik jangan dimasukkan ke anuitas. lebih baik diputer dulu. soal mau diputer dimana ini tergantung selera masing2.

    ngambil anuitas sebaiknya ditunda sampai kita sudah gak punya tanggungan dan kewajiban, dan sudah tidak produktif lagi.

  8. Wardhana berkata:

    Kenapa gak ada option buat buka usaha sendiri ya? well, kalo saya mah kayknya di diversify aja.. jadi sebagian masuk ke securities.. terus sebagian lagi buat modal usaha. Yang securities kan lumayan bisa buat long term. Dan tidur bakal tetep nyenyak. Nah yang usaha ini lumayan bisa buat makan sehari2… Kalo misalnya ntar usahanya berhasil, kan securitiesnya bisa di liquidkan buat memperbesar usaha.. heheheee…

  9. ihedge berkata:

    @kakha kaladze: Mungkin tergantung dari produknya yah. Sebagian mungkin memperhitungkan inflasi, sebagaian lagi tidak.

    Maksudnya dollar cost averaging di sini apa? Saya tahu istilah itu, tapi kayaknya konteksnya lain.

    @ Irwan: Kamu fans berat sama Options kayaknya. Good if you truly have found an edge there.

    @Wardhana: Nah, sang penanya lebih bertanya tentang opsi dari segi aset finansial soalnya. Kalau memang ada peluang usaha, malah lebih bagus. As long as you know what you are getting into.

  10. Paijo berkata:

    Kalau tidak salah, dana pensiun DPLK harus dibelikan anuitas. Kalau tidak salah juga, yang boleh diambil tunai maksimal 20 atau 25 persennya saja. Ketentuan tentang itu ada di undang-undang no.11 tahun 1992 tentang dana pensiun. Tapi sepertinya undang-undang tersebut sudah akan diperbarui lagi. Terimakasih dan salam eksperimen.

  11. Natal Hutabarat berkata:

    studi kasus baru dong bung bahar,

    kalau asumsi saya punya uang lebih perbulan 10 jt. kira2 investasi yang paling tepat utk ini apa ya? apa reksadana? atau deposito?
    tlg kasih beberapa pilihan dong?
    sori nie kalau nanyanya banyak ya, soalnya masih awam bgt dengan investasi euy. selama ini tahunya nabung di rekening bank biasa aja euy.
    Terima kasih

  12. Surya berkata:

    Reksa dana lagi naek tuh, klo mo beli sekarang rada ngeri soalnya dah tinggi harganya. Adik sy beli pas 3500 di Trim**ah n dah jadi 5000 nilainya. Mau masuk sekarang mending tunggu dulu pas nilainya di split sampe 2000an lagi🙂

  13. aidi berkata:

    allow mas Bahar, saya di suruh mengelola dana pensiun ortu ni.Rp 100 jt.untuk ke dpn nya menurut analisa mas bahar alokasi nya k mn ya?klau inves ke ORI minimal brp ya mas?n klau ke forex brp baik nya dr 100 jt.thx’s

  14. De Paris berkata:

    Mau tanya, ada yang bisa kasih saran…?
    Kasus:
    Cewek, single,
    Dapat pinjaman dari kantor Rp150 juta dengan bunga 3%…
    Rumah, sama ortu, kendaraan, lebih senang pake busway atau kereta🙂.
    Mending diinvestasikan lagi..tapi masih bingung diinstrumen apa aja..
    Trims

  15. Haryotos berkata:

    Dear Mas

    Mohon pencerahannya tentang Jenis Reksadana yang baru, yaitu ETF :

    1. Apa perbedaan yang mendasar dengan reksadana konvensional.
    2. Bagaimana prosedure pembelian dan penjualannya.
    3. Bagaimana prospek EFT ini di bandingkan dengan reksadana
    konvensional.
    4. Lembaga yang menjual reksadana ETF ini ?

    Mohon pencerahan dari rekans semua.

    Salam
    Haryotos

  16. Bangun berkata:

    Schroder sama Fortis untuk Jakarta yang selama ini paling bagus yah. Cuman untuk yang aggressive bersiap-siap aja turun 20% dalam sebulan. Tapi klo dititung risk-adjusted returnnya. tetep worthed buat diambil. IMHO.

  17. raha berkata:

    permisi,.,.,
    numpang nanya,,,,
    saya mo blajar main saham tapi bingung mo mulai dari mana????????
    saya skrang masih menjabat sebagai mahasiswa fakultas ekonomi di universitas islam di kota Yogyakarta,,,,
    sy ucapkan trima kasih bnyak klo ada yg mo bantu or ngajari saya,,,,

    my email,,raha_ogamas@yahoo.com

  18. bagus wijonarko berkata:

    untuk De paris

    itu bunga 3% per bulan atau per tahun? klu per bulan gile bener…tp klu per tahun boleh juga tuh. Cuma klu mau pinjam sebesar itu..harusnya bukan di investasikan di pasar saham atau reksadana…karena resikonya terlalu tinggi apalagi belum pernah….perlu saya informasikan klu mau invest di reksadana/saham itu merupakan investasi jangka panjang mungkin cocoknya 10 tahunan,krn klu u/ hasil bulanan dengan kondisi volatile begini..berat..bisa2 nombok hutang.
    Sebaiknya De Paris punya rencana usaha dulu yang bisa menghasilkan di atas 3%, baru lakukan peminjaman…jangan pinjem dulu..bingung untuk invest ke mana,banyak kendaraan invest yang bisa dilakukan tdk hanya lewat paper aset,bisa property atau bisnis ok,mungkin ini hanya sharing saja jika cocok bisa dipertimbangkan..klu tidak ya forget it ok

    Salam Dahsyat

    Bagus w

  19. bagus wijonarko berkata:

    Klu ndak salah jika terjadi splitting harga berarti jumlah penyertaan kita juga jadi lebih banyak..misal awal 2000 jumlah penyertaan 1000 unit, kemudian di di split jadi 1000 berarti penyertaan kita juga jadi 2000,memang tergantung pertimbangan masing2,semua keputusan ada di diri sendiri, yang lain hanya u/ pertimbangan aja. Cuma yang perlu saya sampaikan investasi baik di saham maupun reksadan itu tepatnya u/jangka panjang 10 tahun lah,minimal 5 tahun…karena pergerakannya bisa naik turun drastis..cuma klu bermain reksadana/saham jangan diliat tiap hari bisa2 klu jantungnya ndak kuat..bahaya he he. eh yang saya sharing ini reksadana saham krn kebetulan sy sdh invest di reksadana tersebut…meski baru mulai he he..ok deh ini,hanya sharing cocok ambil..ndak cocok for get it

    Salam dahyat

    Bagus

  20. Agus berkata:

    Peraturan dari DPLK menurut UU kepmen keuangan tentang dana pensiun diatas 100 juta memang wajib di anuitas kan..dr total Dana anda setelah di potong pajak progresif dan masih diatas 100 jt (yg 80%nya Anuitas dan 20%nya bisa diambil tunai)
    Tetapi klo anda mau mau cairkan atau diganti dgn investasi lain…Saya bisa bantu tanpa menyalahi prosedur……

    Agus Koni S
    Pt.BRIngin Life
    08159779708

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s