Seasonal Effect pasar Saham

Beberapa hari terakhir ini saya baru membaca buku “Price Trends & Investment Probabilities” karya Thomas Dussault. Buku ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai broker & trader selama puluhan tahun. Bukunya lumayan kaya informasi, tetapi tidak tertulis dengan baik. Selain itu, banyak klaim yang dia buat tanpa didukung oleh hasil riset yang ditulis di dalam buku.

Dari berbagai informasi yang dibeberkan, ada 3 halaman yang membahas tentang efek kalendar. Untuk pasar saham di AS, menurutnya, disinyalir terdeteksi efek kalendar sebagai berikut beserta “teori”-nya:

  • Pukul 3pm – 4pm.

Efek: Jika suatu saham kuat selama sesi awal hari itu sampai dengan 3pm, maka selanjutnya dari 3pm sampai dengan 4pm (pasar tutup) saham itu akan semakin kuat. Demikian juga sebaliknya, jika suatu saham lemah selama sesi awal hari itu sampai dengan 3pm, maka selanjutnya dari 3pm sampai dengan 4pm (pasar tutup) saham itu akan semakin lemah.

Teori: Pemain profesional mengutak atik posisi dan strateginya sebagai persiapan untuk hari selanjutnya.

  • Jumat & Senin

Efek: Saham lebih sering naik pada hari Jumat dan lebih sering turun pada hari Senin dibanding hari-hari yang lain.

Teori: Pasar saham, sebagaimana masyarakat pada umumnya, menanti hari libur. Ketika mereka senang, harga-harga juga cenderung naik.

Teori yang lebih masuk akal & saya dengar dari tempat lain: Short-seller cenderung menutup posisi mereka dengan membeli saham yang dia short untuk mengurangi resiko jika terjadi apa-apa pada hari libur. Setelah hari libur, saham-saham yang tadinya naik akan turun kembali.

  • 2 Hari terakhir dan 2 hari pertama setiap bulan

Efek: Pasar saham umumnya naik pada 2 hari terakhir dan 2 hari pertama setiap bulannya.

Teori: Dipercayai bahwa para manajer institusional (seperti dana pensiunan, dll) mengubah posisinya setiap akhir bulan. Ketika mereka membeli saham-saham2 baru, maka pasar saham cenderung naik.

  • Minggu terakhir setiap kuartal

Efek: Saham-saham yang performanya bagus selama kuartal tersebut akan semakin kuat di minggu terakhir. Demikian juga sebaliknya, saham-saham yang lemah pada kuartal tersebut akan semakin jatuh.

Teori: Reksadana (mutual funds) wajib melaporkan laporan per kuartal kepada pemegang unit. Para manajer reksadana tersebut berusaha untuk melaporkan bahwa saham yang dikelolanya adalah mereka yang bagus-bagus dan kuat. Oleh karenanya, yang kuat dibeli sedangkan yang lemah dijual sebelum laporan.

Dalam istilah wall street, hal ini disebut “window dressing”.

  • September & Oktober

Efek: Bulan september dan Oktober cenderung bulan yang lemah dibanding bulan-bulan yang lain.

Teori: Kebanyakan reksadana mengakhiri buku tahunannya pada bulan Oktober. Di AS, kerugian dalam pasar modal bila direalisasikan bisa dipakai untuk mengurangi pajak. Oleh karena itu, kerugian investasi yang terjadi segera direalisasikan pada bulan Oktober atau sedikit sebelumnya dengan menjual saham-saham yang turun.

  • Sebelum libur berkala seperti Natal (25 Des) & Hari Kemerdekaan (4 Juli)

Efek: Saham cenderung naik sebelum hari-hari libur.

Teori: Sama seperti efek “Jumat & Senin”

  • 2 Tahun pertama vs. 2 Tahun terakhir masa jabatan Presiden AS

Efek: 2 tahun terakhir cenderung lebih baik buat pasar saham dibanding 2 tahun pertama.

Teori: Di AS, masa jabatan presiden adalah 4 tahun. Pemerintah yang baru terpilih cenderung untuk melakukan kebijakan-kebijakan korektif pada 2 tahun pertama. Selanjutnya, pada 2 tahun terakhir, fokusnya adalah kembali memenangkan pemilu berikutnya.

Percaya dengan berbagai efek yang dikemukakan di atas? Jangan menutup mata & telinga. Tapi, cek sendiri terlebih dahulu.

Pos ini dipublikasikan di Market Timing, PROSES INVEST.. Tandai permalink.

11 Balasan ke Seasonal Effect pasar Saham

  1. edratna berkata:

    Ada beberapa saran seperti tsb…kalau hari Senin, tunggu dulu…siangnya harga akan naik…(dalam kondisi normal).

    Jual saham pada akhir tahun, karena banyak perusahaan yang window dressing, untuk mempercantik laporan keuangan…. kenyataannya di Indonesia malah menurun (khusus tahun ini).

    Kenyataannya? Sangat dipengaruhi oleh situasi ekonomi makro dan mikro…seperti saat sekarang.
    (berharap harga saham naik lagi……)

  2. Poltak Hotradero berkata:

    Mungkin saya bisa referensikan juga buku: “Stock Trader’s Alamanac 2008” yang disusun oleh Jeffrey A. Hirsch dan Yale Hirsch. Secara singkat buku ini menggambarkan betapa “gila”-nya orang Amerika terhadap statistik hingga dibahas ke satuan hari, minggu dan bulan.

    Contoh: “Every down January on the S&P since 1950, without exception, preceded a new or extended bear market, or a flat market (page 42); six election years followed suit”

  3. ihedge berkata:

    salah satu referensi dari buku yang saya baca itu memang “Stock Trader’s Alamanac 2008″, bung Poltak.

  4. bego berkata:

    Halo mas Bahar, ini tambahan bacaan klasik buat para saham player “Reminiscences of a Stock Operator” oleh Edwin Lefevre

  5. anymatters berkata:

    bung ihedge, January Effect itu serius ga sih?

  6. Bangun berkata:

    January Effect? kata sumber lebih lanjut sih bener. dari 50 kali test cuman 1 kali klo ga salah aku baca gagalnya.

  7. Cah Tuban berkata:

    Mas, bisa minta bantuan mengenai riset yang akan saya kerjakan g?
    dengan judul
    “pengaruh hari perdagangan terhadap return saham dan volume perdagangan”
    sebelumnya terima kasih banyak.

  8. a berkata:

    gmn ? september bsk crash dalemmmm ga idx ?

  9. joan berkata:

    q pengen bermain saham,tapi q blm tau bgmana caranya.
    bisa bantu?
    Kalau ada yg mau bantu YM-an saat jam kerja.
    joanjonathan@yahoo.co.id utk email n YM

  10. esha berkata:

    mas, saya bikin skripsi soal “pengaruh hari perdagangan thd return saham utk th 2007”. hasilnya justru kebalikan, senin tertinggi, jumat terendah. tp saya bingung kenapa itu bisa terjadi? dosen saya minta alasannya secara logis…
    jika ada yg tau, mohon bantuannya…

  11. ihedge berkata:

    efek2 periodik seperti ini tidak bisa diandalkan kelanggengannya karena jika langgeng maka pasar sangat tidak efisien. Tak heran jika sudah tidak ada efek seperti itu. kalau memang ternyata ditemukan kebalikannya, bisa saja temuan itu “statistically insignificant”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s