Kemana Tempe dan Tahu?

Baru saja membaca berita di Jakarta Post bahwa tempe dan tahu menghilang dari hidangan kota Jakarta. Sebagai orang Indonesia, saya termasuk penggemar tempe. Tanpa tempe paling tidak seminggu sekali, rasanya makan ada yang kurang.

Membaca artikel itu, saya langsung teringat bahwa harga soya bean (kedelai) terus menjulang tinggi sejak oktober tahun 2007. Hal ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini.

Sebagian besar kedelai Indonesia di impor dari luar negeri. Pemerintah Indonesia tidak punya kontrol terhadap harga kedelai dunia.

Walaupun berkurangnya tempe cukup disayangkan, kita tidak bisa menyalahkan pemerintah atas fenomena ini, paling tidak dalam jangka pendek. Sudah bagus pemerintah menghilangkan import duty buat kedelai.

Dalam jangka panjang, solusi buat Indonesia adalah untuk menanam lebih banyak kedelai.

Pos ini dipublikasikan di INDONESIA. Tandai permalink.

13 Balasan ke Kemana Tempe dan Tahu?

  1. aussie berkata:

    Memang pemerintah gak bisa sepenuhnya disalahkan… terlalu banyak faktor2 yang bersifat global yang mendorong kenaikan harga kedelai. Setelah baca sana-sini, sepertinya 3 faktor utama kenaikan harganya adalah:
    1. Kekeringan yang melanda banyak tempat di dunia, terutama Brazil dan US sebagai penghasil soybean terbesar dunia.
    2. Naiknya demand corn dan soybean untuk kebutuhan pangan dan industri di negara2 yg sedang berkembang pesat seperti China.
    3. Bertambah populernya ethanol, sehingga demand untuk corn (bahan baku ethanol) melejit pesat. Hal ini menyebabkan sebagian petani yang mengalihkan produksinya dari corn menjadi soybean, sehingga turut mendorong naiknya harga soybean.

    (Source: http://www.marketwatch.com/news/story/cotton-nears-four-year-high-crop/story.aspx?guid=%7B103FE3D6-8215-4FB1-B482-B93757CB51E1%7D)

  2. edratna berkata:

    Kebetulan penelitian saya dulu kedelai dan jagung. Tanaman kedelai harus ditanam pada saat musim hujan, tapi juga tak terlalu basah, pada ph sekitar 7 (netral, tidak asam, tidak basa).

    Jika seperti di Bogor, yang kebanyakan tanahnya jenis Latosol coklat kemerahan yang bersifat asam, harus dilakukan pengapuran agar menjadi netral. Pada saat panen, harus pada musim kemarau, agar produktivitasnya bagus.

    Memang, komoditi pertanian sangat tergantung pada alam, jika terlalu banyak hujan juga produktivitas menurun, demikian juga jika terlalu kering (kemarau). Tahun kemarin musim kering, dan sekarang diprediksi banyak hujan….ini akan mempengaruhi hasilnya.

    Yahh sementara tempe menjadi barang mewah deh.

  3. ihedge berkata:

    @aussie: makasih buat info-nya. Buat poin 3, mungkin kebalik – dari soya bean menjadi corn. Tapi harga corn juga naik pesat tuh.

    @edratna: Oh iya, bu Enny dulu dari teknik pertanian yang mbalelo ke perbankan yah Bu?

    Iya, sekarang tempe jadi barang mewah buat sebagian besar orang Indonesia.

  4. Resi Bismo berkata:

    sebenarnya jika pemerintah punya visi mensejahterakan rakyat, mau kedele dipasaran dunia naik, kek ato turun, tidak akan banyak mempengaruhi harga dipasaran.

  5. Poltak Hotradero berkata:

    @Resi Bismo: Ya jelas mustahil. Supply itu semata-mata faktor harga – dan faktor harga akan menemukan equilibrium sekalipun pasar berusaha disekat-sekat.

    Solusinya? Kita memang sudah seharusnya berhenti berharap terlalu banyak pada pemerintah.

    Dan pemerintah juga harus fokus pada bidang yang mereka kuasai – yaitu soal hukum dan peraturan. Kalau dua hal itu saja nggak bisa – ya yang lain juga akan gagal.

  6. Budi berkata:

    Untuk Amerika sebagai eksportir utama kedelai ke Indonesia, memang Ethanol adalah faktor utama menggilanya harga komoditas pertanian, termasuk kedelai. Simple saja, luas pertanian mereka terbatas. Sejak di naikkannya kadar Ethanol dalam bensin yang dijual di Amerika, harga Jagung yang digunakan sebagai bahan baku Ethanol ikut menjulang (silly considering that it takes more energy to convert corn into ethanol than the amount of energy ethanol can produce, but that’s a long discussion on its own).
    Petani jelas akan menanam komoditas yang harganya tinggi, maka semua menanam jagung sehingga alokasi lahan untuk produk lain juga turun drastis, yang efeknya menaikkan harga.
    Efeknya sangat luas. Harga jagung yang naik, menaikkan harga makanan karena jagung digunakan sebagai pakan ternak, pemanis makanan dan minuman, dst dst. Harga komoditas lain melonjak karena supply turun.

    Sekedar menyalahkan pemerintah akan hal ini menurut saya adalah simplistik karena masalahnya lebih rumit dari sekedar penunjukan importir kedelai. Mau ada 100 importir kalau harga barang yang diimpor mahal tidak selesai juga kan masalah.

  7. Priyadi berkata:

    Dalam jangka panjang, solusi buat Indonesia adalah untuk menanam lebih banyak kedelai.

    ini gak bakalan banyak pengaruh juga. kalau seandainya harga pasaran dalam negeri lebih rendah daripada di luar negeri. penanam kedelai pasti akan lebih suka jual ke luar negeri. kalau mereka ‘dipaksa’ gak bisa jual ke luar negeri, mereka gak akan nanam kedelai.

  8. aryahidayat berkata:

    Saya pernah denger di Commodity Outlook DJI, alasan utama harga jagung dan kedelai akan meroket tahun ini adalah pertumbuhan populasi di dunia meningkat sangat pesat.

    (According to the International Programs Center, U.S. Census Bureau, the total population of the World, projected to 01/25/08 at 14:56 GMT (EST+5) is 6,646,312,155)

    keuntungan untuk Indonesia, bisakah makanan kaya protein dari sda indonesia ikut meningkat harganya? maksud saya ikan dan udang..

    mungkin nggak ya suatu saat harga ikan dan udang ada pasar komoditasnya ?

  9. vivid trader berkata:

    bung ihedge…. blog anda sangat bagus… lumayan buat nambah ilmu… saya suka maen saham.. biasanya pake analisa teknikal dan sedikit fundamental karena buat saya analisa teknikal lebih asyik. Ada pertanyaan nih…
    1. bung ihedge bisa sharing tentang analisa teknikal??
    2. hedge fund tempat anda bekerja apa invest juga di pasar modal indonesia??
    3. tempe sekarang koq rasanya gak enak ya?? apa gara2 mbungkusnya pake plastik?? harusnya pake daun pisang tuchhhhh…

  10. RVer berkata:

    bro..udah pernah denger comment-nya PM thailand kemarin ngga…untuk beat inflation disana, disarankan untuk lebih banyak konsumsi ayam daripada pork..disana harga pork dua kali lipatnya dan konsumsi pork sangat besar.

    untuk indo..gw juga agak bingung..tempe dan tahu..itu udah kaya makanan pokok..apalagi harga bahan dasar indomie juga naik mulu..

  11. ihedge berkata:

    Eh, RVer muncul lagi.😀 Sayangnya saya lagi banyak kerjaan jadi kurang waktu buat nulis.

    Wah, nggak tahu tuh tentang komentarnya Samak, lebih tertarik sama komentarnya chairman Bernanke. Hehehe..

  12. RVer berkata:

    pusing baca market bro…local rates seem to be directionless…ada aja negative news..tadi hbos katanya liq problem…the good thing..visa ipo was priced better than intial range..demand was big as well…

  13. ihedge berkata:

    yea, a lot of uncertainties now. I believe reducing exposure by holding more cash is wise now.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s