Dinamika Pasar, Krisis, Keputusan BI Menaikkan Suku Bunga

Ketika bank-bank sentral dunia bersama-sama menurunkan tingkat suku bunga, BI malah menaikkan suku bunga. Mengapa?

Mungkin BI punya 3 tujuan:

 

  • Mempertahankan rupiah,
  • Memberikan sinyal ke pelaku pasar bahwa kondisi Indonesia tidak seperti kondisi negara2 lain yang terimbas krisis keuangan, krisis kredit dan krisis kepercayaan sehingga Indonesia tidak perlu ikut menurunkan suku bunga,
  • Mengurangi laju inflasi.. (penjelasan standar)

Dalam kondisi normal, Bank Sentral menggunakan instrumen suku bunga untuk menstabilkan harga (menahan laju inflasi). Menaikkan suku bunga secara tidak langsung akan mengurangi jumlah uang yang beredar di pasar melalui dua mekanisme: memberikan insentif kepada orang untuk menabung dan mengurangi permintaan orang untuk mengambil kredit. Karena jumlah uang yang beredar berkurang, otomatis “nilai uang” bertambah sehingga “nilai barang” secara relatif menurun, dan harga barang2 pun menurun… sehingga laju inflasi bisa ditahan. Demikian juga sebaliknya dengan penurunan suku bunga.

Kira2 teori ekonominya seperti itu.. 

Tapi pasar finansial jauuuh lebih kompleks dari itu.. Indonesia tidak berdiri sendiri. Indonesia tidak menutup laju keluar masuknya modal dari dan ke luar negeri. Oleh karena itu, Indonesia merupakan satu titik dari jejaring pasar kapitalisme global. 

Bisa juga dibayangkan bahwa jejaring kapitalisme ini terdiri dari titik2, di mana tiap titik merupakan investor (bukan negara). Jaring-jaring terhubung antar titik melalui interaksi antar investor. Interaksi ini bisa dalam beberapa bentuk. 

Salah satu bentuk interaksi yang berpengaruh adalah interaksi kredit di mana satu investor meminjamkan modal kepada investor lain. Dari interaksi ini terbentuklah “jaringan kredit”. Bayangkanlah modal ini sebagai darah kapitalisme. Memberikan kredit sama dengan memberikan darah kapitalisme. 

Interaksi lain yang cukup penting adalah interaksi melalui “cross-holding”, di mana jaring2 terbentuk dari kesamaan aset yang dipegang. Dari interaksi ini terbentuklah “jaringan kepemilikan aset”.  

Ada bentuk jaringan lain yang menghubungkan aset, bukan menghubungkan investor, yaitu kesamaan faktor yang mempengaruhi sumber pendapatan suatu aset tersebut. Misalnya, sumber pendapatan bank kira2 bakal sama dengan bank2 lainnya. Demikian juga sumber pendapatan penjual kelontong kira2 bakal sama dengan penjual kelontong tetangganya. Sebut saja “jaringan ekonomi”.

Jaringan2 baru akan terus muncul, diciptakan, dan dibuang sesuai dengan adaptasi kebudayaan manusia.. Mana yang terbukti menguntungkan bertahan hidup, yang lain, dibuang.. Misalnya, munculnya jaringan melalui produk2 derivatif membuat jejaring kapitalisme semakin kompleks.

Dalam jejaring kapitalisme ini, hanya ada satu hukum yang saya yakin selalu benar: setiap investor (agents) bertindak untuk kepentingannya sendiri. Semua agents ingin survive and prosper dalam jejaring ini. 

Bila kita melihat pasar sebagai jejaring kapitalisme, mungkin kita akan lebih bisa memahami dinamika pasar dengan pikiran lebih terbuka. Satu hal yang sangat penting dari cara pandang ini adalah melihat pasar sebagai suatu sistem kompleks yang adaptive (http://www.trojanmice.com/articles/complexadaptivesystems.htm). Banyak properti dari sistem seperti ini yang menarik untuk dipelajari..  Misalnya, tidak ada individu/institusi yang bisa mengatur2 bagaimana seharusnya pasar berlaku. Bahkan The Fed (Bank Sentral AS) ataupun investor terbesar di dunia tidak akan bisa mendikte bagaimana pasar akan bertindak..  Semua yang kita lihat di permukaan (misalnya turun2nya harga2) adalah hasil dari interaksi jutaan agents yang bertindak untuk kepentingannya sendiri2.. It is a bottom up system..  no central authority. 

Dalam kondisi normal, jejaring kapitalisme ini sangatlah efisien dalam banyak hal. Ia efisien dalam memproses semua informasi yang relevan dengan sangat cepat dan akurat (misalnya betting markets). Ia juga sangat efisien dalam mengalokasikan modal ke titik2 yang bisa menggunakan modal dengan baik.. dari sinilah kita bisa melihat kembali “the invisible hand” a la Adam Smith.. 

Sistem ini juga secara natural akan menghasilkan “emergent behavior”. Market boom.. crash.. adalah properti intrinsik dari sistem ini. Tidak bisa lari. We should expect it to come.. time and again.. It is just natural. Bayangkan sebuah virus yang menyerang populasi sebuah binatang. Ekosistem binatang merupakan suatu sistem kompleks yang adaptive, sama seperti pasar. Karena “jaringan kedekatan geografris”, virus akan cepat menyebar sampai tinggal binatang yang bisa beradaptasi dengan si virus saja yang akan hidup, dan akan sejahtera dan berkembang lagi.. demikian seterusnya.. 

So, apa yang terjadi di jejaring kapitalisme global sekarang? Ingat “jaringan kredit” tadi? Alkisah, ada sekelompok agents (dalam hal ini bank2, hedge funds, dll) yang secara efektif meminjamkan modal kepada sekelompok agents lain yang disinyalir kemampuan kreditnya diragukan dalam bentuk subprime mortgage (semacam KPR). Rumah2 yang dibeli dijadikan agunan. Kemudian hari, pengambil kredit ini tidak bisa mengembalikan hutangnya (https://ihedge.wordpress.com/category/krisis/). Nilai dari aset2 yang didasari oleh pinjaman2 ini pun turun.. Dalam “jaringan kredit” ini, beberapa agents yang meminjamkan modal juga meminjam dari pihak lain.. Maka mulailah efek jaringan (efek domino) ini melanda..  Gagal bayar di salah satu agents menjadi gagal bayar agents lainnya juga. Agents2 lain yang tidak ada hubungan langsung dengan pinjaman subprime mortgage ini juga mendapatkan sinyal dari pasar bahwa kesehatan beberapa agents2 lain cukup lemah. 

Ketika kondisi ini mencapai suatu level kritis, fenomena menarik terjadi (emergent behavior). Mereka yang biasanya memberi supply darah kapitalisme (“kredit”), dalam semangat menyelamatkan diri sendiri, memutuskan untuk tidak lagi memberi supply darah ke agent lain karena kawatir darahnya tidak akan berputar balik.. Maka terjadilah fenomena “credit squeeze”, jaringan2 kredit menjadi terputus.. Bayangkan suatu organisme di mana organ2nya tidak mendapat supply darah. Organ2 itu akan melemah, dan mungkin mati.    

Di sisi lain, agents2 yang bermasalah ini juga merupakan titik2 penting dalam “jaringan kepemilikan aset”. Ketika mereka harus mendapatkan modal untuk membiayai operasionalnya (darah untuk hidup), mereka terpaksa menjual aset2 yang mereka miliki untuk mendapat modal baru.. Ketika mereka menjual aset2 ini karena tidak ada pilihan lain, mereka akan menjual dengan berapapun harganya.. Maka turunlah harga-harga.. Tidak pandang bulu apakah aset2 itu ada hubungannya dengan subprime mortga atau tidak… Mereka menjual aset yang mereka miliki.. Melalui penurunan harga2, agent2 dalam jejaring ini mendapat sinyal dari pasar bahwa ada agents2 lain yang bermasalah. 

Ketika penurunan harga2 aset2 ini mencapai suatu level kritis, fenomena lainnya terjadi.. Mereka yang memiliki aset2 menjadi tahu bahwa harga2 akan turun karena ada agent2 bermasalah yang harus menjual aset2nya. Agent2 mendapat masalah dan harus menjual asetnya karena: (a) harus membayar hutang ke kreditor2 mereka, (b) mendapatkan “margin call” dari broker mereka, atau (c) mendapatkan penarikan dana dari investor2 lain yang menanamkan modal kepadanya.. Akhirnya, behavior dari agent2 dalam jaringan “kepemilikan aset” ini tersinkronisasi. Sebagian besar tidak ingin membeli, karena tahu harga akan turun lebih dalam lagi… Harga benar2 turun, dan agent2 yang tadinya tidak bermasalah pun menjadi ikut2an bermasalah dan harus menjual asetnya.. dengan harga yang lebih murah lagi.. Terjadilah vicious cycle… 

Ada satu hal lagi.. Dalam “jejaring kredit” tadi, tidak semua agents memutar uangnya dalam pasar modal. Sebagian, memutarnya dalam pasar real.. Ketika “jejaring kredit” terputus.. credit squeeze.. mereka tidak memiliki darah untuk memutar usahanya.. Masalah pun merambat ke pasar real: pasar barang dan jasa, dimulai dari sendi ekonomi di mana perusahaan2 yg terkena credit squeeze berada. Ketika suatu sendi ekonomi terpengaruh, maka “jaringan ekonomi” pun akan terimbas. Masalah akan menjadi parah ketika sendi yang terkena adalah sendi perbankan. Kenapa? Karena sendi ini paling banyak jaringannya ke sendi2 lainnya. Sebagian dari jaring2 itu pasti akan terputus. Dan resesi ekonomi tak elak akan datang….

Balik lagi ke kasus Indonesia. Dari segi pasar modal, jelas jaringan2 titik Indonesia ke jejaring kapitalisme global cukup besar, terutama dari segi “jaringan kepemilikan aset”. Banyak investor asing yang menanamkan modalnya di pasar modal Indonesia. Tak heran, ketika pasar global jatuh, Jakarta juga ikut turun, dan turun dengan drastis juga. Sebagian investor2 asing itu tak punya pilihan lain selain menjual asetnya di Jakarta. Sebagian lagi menjual karena tahu harga akan turun. Dari segi “jaringan ekonomi”, Indonesia sepertinya tidak terlalu terhubung dengan pasar global, kecuali melalu sektor pertambangan. Dari segi “jaringan kredit”, Indonesia juga tidak terlalu terhubung. Beda dengan tahun 97an di mana banyak perusahaan Indonesia yang berhutang di luar negeri dalam bentuk dollar.  Dari perspektif ini, saya cenderung percaya kalau Indonesia cukup lebih kokoh daripada tetangga2 kita ataupun banyak negara lain di dunia. Masalah pasar saham jatuh, itu hal yang natural. 

Balik ke pertanyaan awal: kenapa BI menaikkan suku bunga ketika bank2 sentral lain menurunkan suku bunga? Yah, tanya sama dewan gubernur BI kali yah..😀. Tapi menurut saya tindakan ini cukup rasional untuk saat ini. Dalam kondisi seperti sekarang, prioritas pertama adalah menjaga stabilitas rupiah. Kenapa? Karena rupiah cenderung melemah akhir2 ini, seiring dengan mata uang2 dunia lainnya. Kita tidak ingin, penurunan rupiah ini mencapai suatu level kritis di mana fenomena baru terjadi.. dan rupiah terjun bebas dengan akibta yang bisa mematikan beberapa sendi ekonomi Indonesia dan menghancurkan “jejaring ekonomi”. Untuk saat ini, lupakan dulu “pertumbuhan ekonomi”, yang penting jaga kestabilan “jejaring ekonomi” Indonesia.  

Apa yang bisa dilakukan BI untuk menstabilkan rupiah? Paling tidak ada dua: (1) intervensi pasar modal dengan menjual dollar dan membeli rupiah dengan menggunakan devisa negara, atau (2) dengan menaikkan suku bunga. 

Cara pertama adalah cara bunuh diri untuk kondisi seperti sekarang ini. Kenapa? Karena kekuatan pasar saat ini tidak akan mudah dilawan. Cadangan devisa Indonesia yang hanya sekitar beberapa miliar dollar AS bisa dibilang relatif kecil dalam takaran pasar uang. Selain itu, resiko dari strategi ini sangat besar karena senjata kita (cadangan devisa) akan semakin tumpul (semakin kecil) kalau dipakai. Ketika jumlah cadangan turun ke suatu level kritis di mana pasar tidak percaya metode ini akan berhasil, agents akan menyelamatkan diri sendiri, dan semakin melemahkah rupiah dalam proses itu. Rupiah akan jatuh, terjun bebas. Ingat jatuhnya poundsterling Inggris tahun 90an? Bank of England sepertinya lebih kokoh dari BI. Ia pun gagal mempertahankan mata uangnya. Ingat berapa miliar dolar yang dihabiskan Bank of Thailand untuk mempertahankan Thai Bath? Maka, jadikan devisa negara hanya sebagai “threat”, pakailah dengan sangat hati2. 

Cara kedua lebih cantik. Apa yang terjadi ketika bank sentral suatu negara menaikkan suku bunga? Ada sekelompok investor/agents yang hidup dengan cara mencari tempat2 di jejaring ini yang memberikan bunga lebih tinggi. Agents2 ini, akan tertarik untuk menaruh modalnya ke negara tersebut sehingga menguatkan mata uang negara tersebut. Bila tindakan ini tidak bisa menarik agent2 seperti ini yang baru, paling tidak tindakan ini bisa mengurangi niat agent2 yang sudah di dalam untuk tidak pergi.

Pos ini dipublikasikan di FILOSOFI INVEST., INDONESIA, KRISIS. Tandai permalink.

25 Balasan ke Dinamika Pasar, Krisis, Keputusan BI Menaikkan Suku Bunga

  1. zidanie berkata:

    clear cut & tulisannya membantu orang yang awam seperti saya untuk mudah memahami “kenapa begini dan kenapa begitu” dalam lingkaran setan krisis finansial global ini. trims mas bahar.. ya ya.. mudah-mudahan niatan BI untuk meredam gejolak dengan cara menaikkan suku bunga bisa direspon positif oleh pasar domestik maupun global.

  2. edratna berkata:

    Saya juga setuju dengan pilihan BI untuk menaikkan suku bunga…dan kalau perlu LPS juga menaikkan tingkat suku bunga penjaminan dan banyaknya simpanan yang dijamin. Ini akan meredakan kepanikan investor, dan tak menarik uangnya dari Bank, karena sekuat apapun sebuah Bank jika terjadi “rush” akan sangat berbahaya.

    Indonesia akan terkena imbasnya, terutama dari para eksportir yang selama ini menjual produknya ke pasar Amerika ataupun Eropa. Di satu sisi, negara lain yang pasarnya tersumbat di Amerika, akan berusaha mengalihkan pasar ke negara lain, termasuk mengalihkan pasar ke Indonesia, untuk ini pemerintah perlu mewaspadai dan melindungi kepentingan pasar domestik.

    Betapapun sulitnya, saya masih punya harapan Indonesia akan lebih kuat dibanding krisis sepuluh tahun lalu, karena korporasi juga tak menggunakan kredit secara jor2an seperti dulu (undisbursement loan besar), tingkat LDR Bank rendah. Kompas hari ini menjelaskan bahwa likuiditas cukup, dan mungkin BI perlu mengatur GWM (Giro Wajib Minimum) tak harus dikaitkan dengan tingkat LDR..karena justru LDR rendah yang akan menolong perbankan untuk situasi saat ini.

    Tapi melihat pesatnya pembangunan di Indonesia, banyaknya proyek Mal dan properti yang sedang berjalan agak mengkuatirkan juga…saya tak tahu pasti proyek properti itu meminjam dana dari mana? Dengan daya beli yang turun, risiko tak terjualnya proyek tadi cukup tinggi.

  3. edratna berkata:

    Bahar, bikin postingan dong tentang CDS (Credit Default Swaps)…..saya baca di Kompas hari ini. Jangan-jangan ini mirip Commercial Paper di Indonesia, yang marak sebelum krisis ekonomi tahun 1997, yang untungnya BI langsung membuat aturan.

    CDS (surat berharga yangmemberikan jaminan bayar kepada seorang pemegang obligasi), diterbitkan oleh AIG untuk menopang kredibilitas Lehman. Dulu, CP diterbitkan oleh Korporasi, diendors oleh Bank….dan karena tidak tertera dalam neraca, maka ini membahayakan Bank tsb karena tak bisa memonitor CP yang diperjual belikan tadi. Ternyata CDS juga demikian, bahkan akhirnya tak jelas siapa penerbit dan pembeli CDS (Kompas, 10 Oktober 08 hal 1 dan 15)

  4. ihedge berkata:

    Pada dasarnya CDS adalah asuransi atas kegagalan pembayaran hutan.

    Saya malah gak familiar dengan CP (Commercial Paper) di Indonesia. Tapi yang saya pahami tentang CP, CP hanyalah surat hutang biasa tetapi tanpa agunan.

    Mengenari pembeli dan penjual, kalau cuma CDS sih masih cukup jelas arahnya.

    Yang agak kabur itu kalau CDS beserta aset2 lainnya dikemas ulang dalam bentuk CDO (Collaterized Debt Obligation).

  5. Muda Bentara berkata:

    kalau menurut agama saya ya mas … dalam salah satu hadis, rasulullah saw pernah berkata begini :

    …. dosa riba itu melebihi dosa seorang anak yang menzinai ibunya sendiri …..

    dan sekarang telah terbukti hasil dari dosa riba itu …

  6. jasjus berkata:

    Menarik, makasi bgt artikelnya bung. Ada satu fenomena yang menarik, kenapa sampai ada subprime mortgage klo bank2 tahu bahwa kemampuan kredit peminjam diragukan ?
    Penjelasannya ada pada moral hazard. Moral hazard bisa dijelaskan dr konsep sekuritisasi. Salah satu instrument yg bs dipake dalam sekuritisasi adalah CDS. Sederhananya, CDS digunakan untuk transfer risk. Misalkan bank meminjamkan subprime mortage ke satu individu A, dan membeli CDS dr individu B. Dalam hal ini, bank sudah membeli asuransi yg bakal membayar penuh kalau2 si A delinquent (gagal memenuhi kewajiban hutangnya). Ok, itu sederhananya, sebenernya sekuritisasi lebih kompleks lagi (ada konsep SPV dsb2).
    Nah disinilah terjadinya moral hazard, kalau dulu sebelon adanya sekuritisasi, bank2 harus secara telaten menyaring kualitas kredit si peminjam, karena utang itu bakal masuk balance sheet si bank tsbt, skrg dengan adanya sekuritisasi, bank2 tidak lagi melakukan hal tersebut karena risk si peminjam gagal memenuhi kewajiban akan ditransfer ke pihak lain (loan itu menjadi off-balance sheet). Yang bank tahu adalah dengan subprime mortage mereka bs menarik bunga tinggi dr peminjam (meskipun bank harus membayar premi asuransi CDS, tapi dengan teknik CDO bank tetap mengambil untung dengan adanya tranching). Disini subprime mortgage adalah pinjaman bank dengan bunga yg tinggi karena resiko kredit yg tinggi dr peminjamnya.
    Nah ketika the Fed menaikkan suku bunga, mortgage loan dengan bunga yg dipatok pada suku bunga (Adjustable Rate Mortgage) menyebabkan banyaknya subprime mortgage yg default (alias gagal bayar). Dari sinilah awalnya krisis kredit.
    Tolong dikoreksi klo ada yg salah. Thx

  7. cuwid berkata:

    artikelnya cakep mas. minta ijin untuk saya publish ulang di blog saya. trims yah.

  8. Ping balik: Dinamika Pasar, Krisis, Keputusan BI Menaikkan Suku Bunga

  9. Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu berkata:

    kritis… kritis ekonomi indonesia.

  10. ihedge berkata:

    @jasjus: well done, kira2 seperti itu lah.

  11. Aryo Wiman berkata:

    Har, aku lagi nyari info tentang efek krisis ekonomi di U.S. dengan: (i) harga karet dan kelapa sawit dunia, plus (ii) volume ekspor komoditas ini di Indonesia.

    Semenjak lebaran, harga karet basah (langsung dari kebun) turun dari Rp 9000 ke Rp 6000 di Sumatera Selatan.

    Ada rekomendasi kemana kira2 aku bisa dapet infonya? Thanks😉

  12. mailita berkata:

    knp indonesia bisa ikut2 an yah???
    padahal perdagangan di indonesia normal2 ja

  13. Gerus berkata:

    Bahar,
    Gimana kabar hedge fund sekarang. Return pada minus ya..
    dan katanya kebanyakan pada going cash and eliminate leverage.
    belum lagi banyak yg gulung tikar.
    Gimana indusrti ini untuk 2009 ??

  14. melly berkata:

    ulasannya bagus sekali, terima kasih nambah pengetahuan saya.. saya setuju dengan bu edretna.. suatu waktu bisnis properti yang jorjoran saat ini membuat kredit macet, terutama pembangunan apartemen dimana supply tidak memperhatikan demand, yang paling penting dilakukan pemerintah saat ini adalah mejaga pasarnya sendiri, terutama impor perlu ketegasan untuk pemberantasan impor ilegal , pelabuhan liar (tapi apa aparat kita mampu melakukan itu semua??). Disaat sekarang yang paling penting kita bisa tetap mempertahankan industri kita tetap berjalan walaupun itu stagnan agar tidak ada PHK. dan mencari cara agar faktor – faktor produksi kita bisa lebih efisien dari negara lain (apa bisa ya???). setidaknya kalau mau negara itu keluar dari masalah apapun harus ada kesadaran moral dari semua lini untuk menolong negaranya sendiri.. bukan cari selamat di zaman krisis.

  15. teguhjunanto berkata:

    Tulisan-tulisannya menarik Mas Bahar..
    Saya izin mereferensikannya yah..
    Thanks

  16. ihedge berkata:

    @Gerus: we are doing fine.

  17. DeParis berkata:

    Derivatives itu time bomb betul sekali..transaksi tersebut adalah pada saat normal condition hanya menguntungkan para orang kaya—yang semakin kaya ketika portfolionya naik.. dan sektor riil tidak dapat apa2.. yang untung: investor, trader, the fund manager..
    Nah ketika semua rontok… akhirnya yang dirugikan malah semua orang..malah lintas negara… jadi transaksi tersebut memang tidak baik untuk kepentingan orang banyak..itulah makanya Haram…

    Kasus amerika yang kita alami sekarang..sudah menunjukkan bahwa.. perekonomiannya hanya bubble… tidak berlandaskan sektor riil… hanya berdasarkan kalkulasi matematika..yang pasti ada batasnya (lha itu kan otak manusia)..sama seperti kasus LTCM… yang dilakukan oleh orang yang katanya pintar …tetap saja ambruk…

    Perekonomian yang berlandaskan sektor riil adalah perekonomian yang berlandaskan sesuatu (ada barangnya)… Lembaga yang namanya Bank, ada, karena ada orang yang perlu invest dan ada orang yang perlu dana.Nah baru ada Bank…yang memfasilitasi itu..

    Begitu pun untuk hedging asal ada barangnya…

    Bank Bukan didirikan untuk selisih Interest Rate dan selisih foreign exchange ataupun untuk selisih index (utk investment bank)… itu namanya Bandar…

    Perekonomian yang berlandaskan sektor riil adalah tidak menguntungkan segelintir orang melainkan memberi manfaat kepada banyak orang…pertumbuhannya tidak heboh..tapi growhtnya step by step.. akan membawa penambahan kemakmuran kepada orang banyak..orang hidup tenang, anak2 bisa sekolah ..sampai seluruh pelosok negeri…(sekalian ..abis baru nonton laskar pelangi)…

    Hal tersebut akan membuat dunia lebih banyak..akan tumbuh orang pintar yang membawa kemakmuran sesama ..bukan orang pintar yang Greedy….

    Saatnya perekonomian berubah..perekonomian yang membawa pertumbuhan (walau step by step)..bukan hanya growth cepat dan sesuai pola waktu akan down lagi.. perekonomian yang melebihi otak manusia manapun..karena berbasis pada sektor riil….

    DeParis

  18. ria berkata:

    Setuju sama DeParis!

  19. Ping balik: Dinamika Pasar, Krisis, Keputusan BI Menaikkan Suku Bunga « Cara Mencari Uang Di Internet

  20. Ping balik: Mencari Uang di Internet » Blog Archive » Dinamika Pasar, Krisis, Keputusan BI Menaikkan Suku Bunga

  21. Ping balik: Menilik Mekanisme Krisis Keuangan « Skeptical Empiricist

  22. Ping balik: Kajian Bisnis » Menilik Mekanisme Krisis Keuangan

  23. Ratu berkata:

    bagus banget postingannya mas.. saya jd lebih memahami tentang fenomena subprime mortgage dan perluasan dampaknya…

    hmm,(walau udh basi bgt) saya ingin membantu menjawab mengenai CDS. “CDS (surat berharga yangmemberikan jaminan bayar kepada seorang pemegang obligasi), diterbitkan oleh AIG untuk menopang kredibilitas Lehman. ”

    Di Amerika Serikat, pertumbuhan pasar mortgage sekunder sejak tahun 1970-an menyebabka dibentuknya suatu lembaga asuransi mortgage, karena tanpa diasuransikan mortgage-mortgage tersebut tidak dapat dipasarkan secara luas dan lancar dipasar sekunder. Peranan lembaga asuransi disini selain untuk menjamin tetapi secara tidak langsung juga memberikan dampak positif yakni “kesan aman dan peringkat yang bagus” utk oblgasi2 tsb. Apalagi kalau dijamin oleh lembaga asuransi setaraf AIG. Investor2 menjadi semakin tertarik utk membeli obligasi tersebut.

    Disisi lain, sebagaimana hakekat sekuritisasi yakni “transfer resiko dan pengalihan tanggung jawab pinjaman pada investor pihak ketiga”, pihak AIG kembali mensekuritisasi surat-surat jaminan tersebut dan kemudian dijual melalui pasar terbuka (bursa saham). inilah yang dinamakan dengan CDS. Dalam hal ini underlying asetnya adalah surat hutang dari Lehman Brothers. Mengenai kejatuhan AIG sudah jelas seperti apa yg telah dipaparkan oleh mas Bahar, yakni sebagai efek domino yang bermula dari default para debitur subprime mortgage. Kurang lebih inilah penjelasan saya, smoga tepat dan bermanfaat.🙂

    oya, mohon izin mengulas ulang tulisan mas utk skripsi saya ya.. saya bingung kata2nya.. tulisan mas bahar cukup mewakili apa yg ada dipikiran saya. hehe.. (tp saya edit lg menggunakan kata2 saya dan lebih diarahkan melalui sudut pandang hubungan internasional.. hihi) Oya saya sdg menyusun skripsi mengenai dampak kasus subprime mortgage terhadap perekonomian inggris. mungkin ada referensi bahan mas? analoginya kalau saya tidak salah tangkap sama seperti yang mas ungkapkan di atas kan yaa?

    salam salut🙂

  24. sandrosirait berkata:

    Thx mas blognya luarbiasa. Saya akan meluangkan waktu menghabiskan semua postingan Anda. Terima kasih banyak.

  25. Ping balik: Oconomics Agregator – Acep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s