Bagimu, apa itu pasar? Dan Implikasinya

Mentor saya suatu saat bertanya “what is the market to you?”, “bagimu, apa itu pasar?”. Sebagai gambaran, sang mentor merupakan seorang manajer hedge fund yang cukup sukses. Paling tidak fund yang dikelolanya masih bisa menghasilkan double digit returns after fees selama 10 bulan terakhir ini di mana banyak funds lain yang ambruk maupun rugi besar. Tahun-tahun sebelumnya returns after fees juga double digit cukup tinggi tanpa satupun negative month sampai saat ini.

Saya menjawab dengan polosnya, “suatu tempat di mana calon penjual dan pembeli berkumpul dan di mana tawar menawar terjadi”. Saat itu, saya melihat pasar dari segi fisiknya. Satu-satu dia tanyakan hal yang sama pada anak buahnya.

Mengapa dia menanyakan hal yang seolah-olah sangat simpel seperti itu? “How you view the market determines how you react to the market”, begitu dia menjelaskan. “Some people think that the market is a beast to beat. Some people think the market is your friend in which you need to be in harmony with. Some people think the market is a random generator. Some people think the market is like a casino to play for fun.”

Untuk memahami pasar, hal-hal fisik tidak akan membawa kita ke mana-mana. Yang penting adalah bagaimana kita memahami dinamika pasar tersebut.

Tapi, dari mana kita bisa benar-benar memahami dinamika pasar? Untuk masalah ini, kita bisa belajar dari para ilmuwan kita.

Pertama kita lihat fakta-fakta yang muncul sebagai produk dari dinamika pasar. Apa produk dari dinamika pasar? Harga-harga dan volume transaksi. Properti dari data-data ini diukur dari berbagai segi. Sama seperti seorang fisikawan yang mengumpulkan data-data tentang waktu jatuhnya buah apel untuk memahami dinamika gravitasi. Dengan memakai ilustrasi ini bukan berarti saya percaya bahwa pasar bisa dimodelkan seperti model-model fisika.

Lalu, secara logika kita juga bisa membuat hipotesis tentang mengapa dinamika pasar harus seperti yang kita bayangkan. Dari sudut pandang ini, munculah berbagai hipotesis pasar. Misalnya kita mendengar tentang “efficient market hypothesis (EMH)”, “coherent market hypothesis”, “fractal market hypothesis”, “adaptive market hypothesis”, ataupun hipotesa Anda sendiri… Bila Anda pernah mengenyam pendidikan di bidang finance atau investasi di universitas, tentu pernah mendengar EMH. Mungkin Anda tidak percaya EMH, tapi percaya bahwa metode investasi yang paling jitu adalah meniru trik-trik Warrent Buffet dengan analisa fundamentalnya.

Berbagai hipotesa di atas menganggap pasar dari sudut pandang yang jauh berbeda. Tiap hipotesa melahirkan perilaku harga dan volume transaksi yang berbeda-beda. Implikasi dari tiap hipotesa juga lain2. Bila Anda percaya EMH, tentu strategi Anda adalah berinvestasi secara pasif dengan membeli index funds. Bila tidak, tentu ada peluang untuk berinvestasi lebih baik dari cara itu.

Dari berbagai hipotesa yang ada, yang manakah yang paling sesuai dengan fakta-fakta yang kita dapatkan dari pasar? Mungkin hipotesa Anda-lah yang paling cocok.. Jadi, apa itu pasar menurut Anda?

Salah satu masalah yang biasa kita miliki adalah mempercayai sesuatu tanpa mengecek kebenarannya. Misalnya Anda dididik mengenai pasar dari kacamata akademia, kemungkinan besar Anda percaya EMH dan berinvestasi seperti layaknya orang yang percaya EMH. Anda mungkin juga percaya bahwa harga-harga mengikuti random walk dan returns terdistribusi secara normal. Berangkat dari kepercayaan itu, muncullah teknik-teknik pengelolaan investasi modern seperti Mean-Variance optimization dan masih banyak lagi.  Yakinkah Anda bahwa harga-harga mengikuti random walk dan returns terdistribusi secara normal? Sebaiknya Anda cek sendiri.

Pos ini dipublikasikan di FILOSOFI INVEST.. Tandai permalink.

8 Balasan ke Bagimu, apa itu pasar? Dan Implikasinya

  1. jasjus berkata:

    Research is futile when market is efficient, no research leads to inefficient market, inefficient market induces research,research leads to efficient market. Ga jelas memang arahnya.
    Pada dasarnya menurut saya, market itu inefficient. Cuma disini hanya big player (hedge fund, etc) yg punya incentive untuk menemukannya. Retail investor berperan sebagai investor fund2 ini (economies of scale). Bayangkan bila dibutuhkan dana teknologi $1m untuk menemukan 0.1 % return dr Asset under management. Cuma big players dengan AUM $1 billion (1m / 0.1%) yg punya insentif untuk melakukan hal seperti ini. Implikasinya asset2 kemudian is priced at its fair value. Setau saya strategi macam statistical arbitrage butuh teknologi komputer yg cukup tinggi dan ga murah to find mispricing. Arbitrage disini bukan dalam arti pure arbitrage.
    Jadi big player perannya adalah untuk menetapkan ekspektasi return dari asset yg akurat. Retail investor kemudian invest di fund2 ini (economy of scale). Sisa2 small players are assumed to be irrational and work at random, inilah yg menyebabkan asset return is normally distributed around the expected return set by the big players (central limit theorem, hehe). Rational investor (kayak gw, hehe), sadar bahwa low-hanging fruits are already taken, invest di index fund ato ETF, anyway their positions are not big enough to even cause the necessary price movement, assuming they’re able to find the so-called non-pure-arbitrage.
    makin bingung kan ? hehe

  2. edratna berkata:

    Entah kenapa, sejak kecil, jika saya belanja merasa kemahalan…ibu selalu bilang “Nggak apa-apa, kerugian kita kan keuntungan si penjual. Kita bersyukur masih bisa hidup dengan baik,” kata ibu menenangkan. Juga jika ada barang pecah, ibu tak pernah marah, karena memang barang kami barang yang murah, agar ibu tak harus memarahi anak-anak, atau keponakan, atau pembantu hanya karena memecahkan barang.

    “Jika engkau masih tergantung orang lain, engkau hanya harus memahami mereka, dan lingkungan sekitar kita,”
    begitu pesan ibu. Akibat didikan ini, saya hanya membeli barang jika perlu, dan tak pernah merasa menyesal setelah beli (mungkin kemahalan, karena tokonya ber AC dibanding harus menawar bolak balik). Bekerja di Bank, yang ditekankan unsur risiko, exit policy…..jadi setiap melakukan sesuatu, sudah dipikirkan apakah saya bisa menghandle risikonya?

    Saat belajar finance di S2….saya bertanya pada teman yang di divisi treasury, sampai batas apa yang boleh dilakukan Bank ini. Jadi, akhirnya segala macam teori pada finance, tak semua dapat diterapkan di dunia nyata, walau pasarnya ada…karena unsur risiko tadi.

    Jadi bagi saya, pasar adalah pertemuan penjual dan pembeli …ini dari sisi konservatifnya. Tapi bisa dikembangkan, kita bisa meng create pasar….kadang mengedukasi pasar dulu jika mau me launch produk baru. Jadi istilah pasar, memang dapat dipersepsikan dari berbagai macam sudut pandang…..

    (komentarku masih terkait sektor riil ya…)

  3. Harianja berkata:

    Nice Article. Apa itu Pasar? Pertanyaan yang simple namun membutuhkan jawaban yang kompleks.
    saya sependapat dengan ibu Edratna. Tempat bertemunya penjual dan pembeli yang saling menukar suatu nilai tambah (added value).

    salam kenal.

  4. tony berkata:

    Apa itu pasar?Saya setuju dengan Bu Edratna Dan Bung Bahar.Di satu sisi pasar juga mesti ada keseimbangan yang mana ada roda perputaran uang dalam transaksi.Roda perputaran yang dimaksud adalah setiap penjual pasti juga harus membeli lagi.Perputaran dengan konsep sederhana ini seperti sebuah proses rantai makanan juga.Bagiamana pun setiap defenisi dari sebuah konsep pasti bisa berbeda di antara kita.Karena setiap individu dikarunia cara pikir yang unik.Semoga sukses..

    http://www.myvalas.com

  5. Irwan Yusriadi berkata:

    Topik yang menarik, “Apa itu pasar?”. Saya jadi ingat pernyataan Profesor Sri Edi Swasono dalam sebuah seminar di UI tentang krisis finansial global, saat ini pertanyaan yang lebih layak diajukan adalah “Siapa itu Pasar? (Who is/are the market[s])?” bukan “Apa itu Pasar? (What is the market?).

  6. Chenri berkata:

    Kalau melihat arti yang berusaha disampaikan dalam tulisan, jadi ingat tulisan Soros tentang refleksivitas pasar (Alchemy of Finance), yang ujung-ujungnya sepertinya mirip dengan pertanyaan ‘apa itu pasar?’

    Bahwa definisi pasar bagi tiap-tiap orang secara relatif memang benar bagi orang itu sendiri, sehingga demikianlah ia bertindak sesuai persepsinya itu.

    Begitukah Bung Bahar? Pertanyaannya apakah yang dapat kita lakukan secara praktis setelah kita mengetahui ada perbedaan persepsi-persepsi tentang pasar diantara para investor?

  7. ihedge berkata:

    Sepanjang yang saya pahami, teori refleksivitas Soros berusaha menggarisbawahi bahwa pengamat pasar adalah bagian dari pasar itu sendiri. Ia bukanlah pengamat independen dari suatu sistem yang tertutup. Sehingga hasil pengamatan (persepsi) dan tindakannya mempengaruhi pasar itu sendiri. Demikian seterusnya sehingga hal ini bisa dianalogikan sebagai pemantulan/refleksivitas.

    Kalau kita tahu perbedaan persepsi antara para investor tsb dan kita tahu populasi dari investor dengan persepsi-persepsi yang berbeda tsb, kita akan bisa lebih tahu kemungkinan perilaku pasar secara aggregate.

  8. Alfian berkata:

    Saya baru masuk ke pasar saham Indonesia pada bulan Desember 2008. Masih seumur jagung. Alasan saya masuk ke pasar saham (bursa) saat itu adalah untuk
    mencoba “peruntungan” saya karena “katanya” pada saat itu harga saham sangat murah sekali. Bahkan ada yang di-offer terus-terusan di harga minimum tanpa ada yang mau membeli. Saat itu saya masih buta sama sekali tentang bursa. Jadi definisi pasar (pada saat itu) adalah sebagai tempat mencari extra cash, di mana ada yang menjual sesuatu yang bisa saya beli dengan murah untuk kemudian bisa saya jual di harga yang lebih tinggi dan memperoleh keuntungan dari selisih harga tersebut.

    Setelah merasakan “panen” pertama, persepsi saya berubah sedikit. Tanpa pengetahuan banyak dan modal insting, saya mendapatkan keuntungan yang menurut saya cukup lumayan. Di waktu ini, saya mulai punya gambaran tentang pasar. Di pasar, kita bisa membeli kalau ada yang menjual dan bisa menjual kalau ada yang membeli. Artinya ada suatu keseimbangan. Kalau saya untung, berarti ada yang rugi. Kerugiannya bukan saat itu juga, mungkin saja di masa depan atau di masa lalu. Yang rugi bisa saja orang yang menjual kepada saya dengan harga murah atau orang yang membeli dari saya dengan harga lebih mahal (N.B. karena saya statusnya masih untung dari semua saham yang saya miliki). Kalau bertransaksi di pasar “nyata”, biasanya ada end-user dari suatu produk yang dijual atau dibeli. Nah, kalau di pasar saham, siapa end-usernya? Jadi untuk masa itu, saya mendefinisikan pasar sebagai tempat pertemuan pembeli dan penjual dengan tujuan masing-masing. Tidak dapat dikatakan lagi sebagai tempat mencari extra cash berdasarkan teori keseimbangan tadi, walaupun tujuan akhirnya saya yakin masih sebagai tempat mencari keuntungan.

    Makin lama, angka merah mulai bermunculan di portofolio saya (walaupun secara keseluruhan masih hijau). Persepsi saya berubah lagi. Kalau dulu saya kebagian untung, kenapa sekarang malah saya yang kebagian rugi sekarang. Kenapa saya tidak bisa menduga sebelumnya bahwa barang yang saya beli kemahalan? Kenapa barang yang menurut saya murah ternyata masih bisa lebih murah lagi? Di sini saya mulai mengetahui yang namanya analisa fundamental dan analisa teknikal.

    1. Analisa fundamental
    Suatu perusahaan dinilai berdasarkan kinerjanya, laporan keuangannya, keuntungannya, dll. Berdasarkan analisa ini dapat ditentukan apakah suatu saham layak dibeli atau dijual. Saya mencoba melihat data laporan keuangan yang ada. Ternyata, ada perusahaan yang merugi masih dihargai tinggi, bahkan harganya masih bisa naik. Kok bisa???

    2. Analisa teknikal
    Analisa ini mencoba memperkirakan pergerakan saham berdasarkan data-data sebelumnya. Data-data ini banyak beredar di mana-mana. Support, resistan, dll. Kalau ternyata prediksinya salah, katanya salah tarik garis atau ada faktor yang masih kurang. Kalau benar, katanya apa juga gue bilang. Apakah naik turunnya harga saham ditentukan oleh kinerjanya di masa lalu? Entahlah… Saya tidak berani mengatakan analisa teknikal ini salah karena ada benarnya, tetapi saya juga tidak berani terlalu mempercayai hasil analisa ini.

    Belum lagi faktor yang biasanya disebut BD (bandar). Nah, ini yang paling canggih. Kalau bandar maunya naik, ya harga saham pasti naik. Begitu juga
    sebaliknya. Istilahnya macam-macam, bandar lagi akumulasi, bandar nurunin penumpang, bandar kabur, dsb. Tapi kadang-kadang juga ada bandar nyangkut. Hehe. Saya pernah memperhatikan saham yang katanya dibonceng oleh BD. Saat itu, saham tersebut mencapai auto-rejection atas selama 2 atau 3 hari berturut-turut. Setelah itu, terlempar ke harga yang cuma sepersekian dari harga tertinggi saat itu. Bagaimana hasil analisa teknikal dan fundamental terhadap saham ini? Apakah kenaikan tersebut sudah dapat diduga sebelumnya dengan menggunakan analisa tersebut? Entahlah… Kalau menurut saya, ini harus dengan analisa BD🙂 Saat itu, saya mendapatkan keuntungan cukup besar dari gerakan yang liar ini. Trus, siapa dong bagian yang kebagian ruginya?

    Saat ini saya mendefinisikan pasar sebagai medan perang. Sebagai pemain kecil-kecilan, saya merasa bahwa saya harus tahu kapan waktu yang tepat untuk menyerang dan kapan untuk mundur. Saya cuma bisa mengikuti flow pasar itu sendiri. Kalau sampai ketinggalan momentum pasar, ya tinggal menonton saja dari jauh. Saat berhasil mendapatkan momentum masuk (beli), saya harus menemukan momentum yang tepat untuk kabur (sell). Kalau kedua momentumnya pas, hasilnya maksimal, Kalau gagal, pilihannya cuma rugi sedikit atau rugi banyak. Saya sendiri lebih percaya pada faktor BD tadi. Kalau ada pasukan besar (bandar), saya cuma mengikuti saja. Karena kalau bandar menang, biasanya besar. Walaupun tidak selalu demikian kenyataannya. Bandar nyangkut, bandar kabur akan berakibat negatif pada yang mengikuti bandar tersebut.

    Mulai September 2009, dari beberapa sumber yang saya dengar, bursa Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan. Alasan yang saya dengar karena para executive hedge fund di luar negeri akan kembali dari liburan musim panas. Pada saat mereka masuk ke pasar Indonesia, diprediksikan pasar Indonesia akan terbang bak roket (ke atas maksudnya). Kalau saya mengasumsikan mereka adalah BD, maka saya tinggal mengikuti apa yang mereka lakukan dan kemungkinan besar saya akan untung besar. Apa iya? Syukurlah kalau ternyata iya. Kalau tidak, saya harus buat definisi baru lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s