Menilik Mekanisme Krisis Keuangan

Dalam kondisi krisis keuangan, kredit, dan ekonomi yang sedang melanda dunia saat ini, ada baiknya kita melihat kembali sebab dan mekanisme timbulnya krisis keuangan yang sudah berulang-ulang melanda berbagai ekonomi dunia.

Artikel-artikel lain dalam tag KRISIS di blog ini sudah mencoba melihat krisis di US dari berbagai segi: mulai dari pembahasan subprime mortgage default, sampai dengan pembahasan mengenai sistem finansial dunia sebagai suatu sistem kompleks yand adaptive. Kali ini, saya mencoba melihatnya dari segi potensi ketidakstabilan sistem keuangan karena terhambatnya peran institusi keuangan sebagai penengah (intermediary) antara pihak yang berlebihan modal dan pihak yang memiliki kesempatan investasi yang baik dari kacamata ekonomi.

Krisis ini terjadi bukan hanya di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara yang secara ekonomi lebih maju. Sebut saja krisis ekonomi dan perbankan Asia mulai tahun 1997,  krisis savings and loans (simpan pinjam) di Amerika Serikat tahun 1980s, krisis finansial di Chili mulai tahun 1982, di Meksiko tahun 1994, dan Argentina tahun 1999, krisis perbankan di Islandia 2008, krisis ekonomi AS di awal tahun 1930an, krisis keuangan di Inggris tahun 1992, Jepang tahun 1989, dll.

Pertanyaannya, apakah benang merah yang dimiliki dari semua krisis di atas? Dan bagaimana prosesnya?

Sebelumnya, mari kita lihat kembali apa peran institusi keuangan seperti bank dan pasar modal dalam sebuah sistem ekonomi. Fungsi utama mereka sebenarnya cuma satu: sebagai penghubung antara pemilik modal dan pemilik kesempatan investasi yang baik. Tanpa adanya institusi keuangan yang sehat, pertumbuhan ekonomi suatu peradaban akan berkembang tidak sebesar potensinya. Hal ini bukan berarti bahwa dengan adanya sistem keuangan yang sehat, maka otomatis pertumbuhan ekonomi akan pesat. Demikian pula sebaliknya. Isu tentang pertumbuhan ekonomi jauh lebih kompleks.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan regulasinya, peran dari perbankan versus pasar modal dari setiap negara akan tumbuh berbeda. Misalnya, sistem penyaluran dana di AS dan Inggris didominasi pasar modal. Akan tetapi, Jerman dan Jepang didominasi oleh sistem perbankan. Negara-negara berkembang, seperti Indonesia dan China biasanya didominasi sistem perbankan. Akhir-akhir ini, muncul pula institusi keuangan yang aktif dalam perbankan dan juga pasar modal sekaligus.

Krisis keuangan suatu negara terjadi ketika fungsi intermediasi (penyalur) institusi keuangan kolaps. Benang merah dari kolapsnya fungsi intermediasi tersebut, biasanya adalah diawali dengan easy money di mana institusi keuangan menyalurkan dana-dana produktif kepada tujuan investasi yang tidak produktif. Penyaluran ini bukan hanya dalam bentuk kredit, tapi bisa pula dalam berbagai bentuk investasi saham kepada sektor-sektor yang kurang produktif dibanding dengan sektor-sektor lainnya. Uang begitu gampang memasuki satu sektor dan melalaikan sektor lainnya.

Saya pertegas lagi, sumber masalahnya bukanlah sistem kredit. Tapi masalahnya adalah sistem penyaluran yang mudah ke sektor yang tidak produktif, baik itu dalam bentuk kredit ataupun bukan. Sebut saja krisis dot.com di AS tahun 2000an. Oleh karena itu, menggantikan sistem kredit bukanlah solusi. Solusinya adalah menghilangkan kredit/penyertaan modal yang disalurkan dengan mudah tanpa melihat kelayakan penyaluran tersebut.

Easy money sendiri bisa tumbuh karena berbagai hal: misalnya (a) liberalisasi sistem perbankan yang menyebabkan berkembanganya banyak bank tanpa kemampuan bank-bank dalam mengelola resiko, (b) adanya hot sector..the next big thing seperti .com, (c) campur aduk pemerintah misalnya dalam pemberian kredit perumahan ala Fannie Mae dan Freddie Mac di AS ataupun pembangunan gedung2 super di Dubai, atau tidak adanya insentif antara pemberi kredit untuk mendapatkan nasabah yang layak karena adanya alat untuk segera menjual kredit tersebut.. seperti kasus subprime mortgage sekarang. Easy money juga difasilitasi oleh sistem mata uang yang tidak sepenuhnya dijamin dengan emas. Akan tetapi, sistem emas juga punya masalahnya sendiri yang tidak dibahas di artikel ini.

Lalu bagaimanakah easy money menyebabkan krisis keuangan? Mekanismenya sedikit berlainan tergantung dari arsitektur sistem keuangan negara yang bersangkutan dan kondisi sistem keuangan global pada saat itu.

Misalnya, sistem keuangan negara maju biasanya didominasi dengan pasar modal, hutang dalam mata uang lokal, hutang dengan jangka panjang, dan sejarah inflasi yang cukup rendah dan stabil.

Negara-negara berkembang, di lain pihak, biasanya didominasi perbankan, hutang yang berjangka pendek, dan inflasi yang cenderung lebih tinggi dan lebih bervariasi. Selain itu, sebagian negara berkembang memiliki hutang dalam mata uang asing yang cukup tinggi karena perusahaan-perusahaan di negara itu tidak bisa menarik dana dalam mata uang lokal dengan murah.

Perbedaan hal di atas berpengaruh pada mekanisme timbulnya krisis keuangan.

Kondisi easy money biasanya akan kolaps bila terjadi 4 hal yang mungkin bersangkutan ini: (1) naiknya suku bunga, (2)  penurunan kualitas balance sheet (equity jauh lebih kecil dari liability) perbankan , (3)  turunnya nilai aset-aset seperti saham ataupun properti, dan (4) naiknya ketidakpastian.

Negara biasanya memasuki krisis setelah naiknya suku bunga domestik yang biasanya dimulai karena naiknya suku bunga dunia. Misalnya, kebanyakan krisis di AS di abad lalu dimulai setelah naiknya suku bunga di AS karena naiknya suku bunga di London (waktu itu Inggris masih pusat dunia). Demikian pula dengan krisis keuangan di  Meksiko yang terjadi setelah naiknya suku bunga di AS. Hal ini terjadi karena kenaikan suku bunga membuat bank lebih memilih2 nasabah karena resiko gagal bayar lebih tinggi dalam kondisi seperti ini. Di samping itu, perusahaan yang aktif mencari dana dalam kondisi bunga tinggi biasanya adalah mereka yang lebih beresiko dalam bisnisnya. Kedua hal ini menyebabkan aliran modal ke sektor riil berkurang yang akhirnya akan memperburuk balance sheet dari perusahaan-perusahaan di sektor riil. Karena equity dari nasabah adalah buffer bagi pemberi kredit, maka sebagai konsekuensinya, balance sheet dari bank-bank pun akhirnya akan lebih buruk.

Berkurangnya kualitas balance sheet perbankan juga bisa terjadi karena tingginya tingkat gagal bayar nasabah. Dalam rangka mempertahankan  balance sheet yang baik (capital adequacy ratio tinggi), bank akan enggan untuk menyalurkan kredit. Bahkan, bila modal bank lebih kecil dari minium, dia akan dipaksa untuk mendapatkan modal baru!

Turunnya nilai aset-aset seperti properti, saham, dll akan mengurangi nilai agunan yang dipegang bank. Jika nasabah gagal bayar, maka harapan terakhir adalah dari agunan. Akan tetapi jika nilai agunan turun, maka nilai aset bank juga turun. Ketika nilai aset bank turun, maka ia harus mengurangi kredit ataupun menambah modal untuk mempertahankan balance sheet-nya.

Ketidakpastian terjadi bisa karena unsur instabilitas politik ataupun adanya kebangkrutan perusahaan2 ternama. Dalam ketidakpastian, kemampuan perbankan dalam memilah proyek yang baik dan proyek yang buruk akan berkurang. Karenanya, mereka akan cenderung mengurangi penyaluran kredit.

Keempat hal tersebut masing-masing menyebabkan berkurangnya aliran modal dalam sistem keuangan. Dalam kondisi yang parah, terjadilah credit squeeze.

Ketika salah satu dari ke-empat hal di atas terjadi, ketidakstabilan sistem keuangan akan segera terlihat. Bila ke-empatnya muncul bersamaan dan cukup signifikan, maka krisis finansial biasanya akan datang.

Bila gejala tersebut terjadi dalam negara berkembang, maka konsekuensinya biasanya lebih parah. Krisis perbankan biasanya dibarengi dengan krisis mata uang. Apalagi bila dalam ekonomi tersebut terdapat banyak hutang dalam mata uang asing.

Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut. Penurunan kualitas balance sheet perbankan akan membuat bank sentral sangat sulit untuk mempertahankan mata uang lokal. Jika bank sentral berusaha mempertahankan kurs mata uang dengan cara menaikkan suku bunga, maka hal ini juga akan membuat kualitas balance sheet perbankan lebih parah lagi. Oleh karena itu, ketika tekanan terhadap mata uang membesar, Bank Sentral menjadi terjepit. Bila ia menaikkan suku bunga untuk mempertahankan mata uang, maka perbankan akan kolaps karena sekarang saja sudah rapuh. Karena para pemegang modal tahu bahwa bank sentral tidak akan sanggup mempertahankan, maka kemungkinan untuk bet against the local currency juga semakin kuat. Di lain pihak, ketika mata uang tidak dipertahankan dan jatuh, perusahaan2 yang meminjam dalam mata uang asing akan kolaps. Seperti buah simalakama. Itulah yang terjadi di Indonesia tahun 1997an! Hal inilah yang juga terjadi di Meksiko di tahun 1994. Kedua mata uang jatuh babak belur.

Krisis keuangan akan segera merambat ke sektor-sektor lain seperti yang saya tulis di sini.

Oleh karena itu, untuk menghindari krisis keuangan, Indonesia memerlukan sistem keuangan yang sehat. Untuk menggawangi sistem keuangan yang sehat, kita perlu otoritas keuangan seperti Bank Sentral dan Bapeppam yang independen dan profesional. Walaupun bukan sebagai substitusi, sistem keuangan syariah juga bagus untuk dikembangkan untuk menambah diversifikasi aliran modal. In any complex system, up to a certain point, diversification will lead to more resilient system.

Untuk saat ini, saya rasa sistem keuangan Indonesia jauh lebih sehat dari pada tahun 1997an. Menurut pengamatan saya juga, perbankan Indonesia saat ini juga lebih kokoh dari negara-negara lain, terutama dari segi hutang luar negeri dan hutang dalam mata uang asing. Walaupun pasti terkena dampak krisis, mudah-mudahan skalanya lebih kecil.

Tulisan ini, dalam satu hal dan lain, diilhami oleh Frederic Mishkin (seorang ekononom), Robert Ulanowicz (seorang ahli ekologi), Niederhoffer (seorang fund manager), dan Koong CS (seorang fund manager).

Pos ini dipublikasikan di KRISIS. Tandai permalink.

10 Balasan ke Menilik Mekanisme Krisis Keuangan

  1. Irwan Yusriadi berkata:

    Bang Bahar,
    Tahun lalu Abang pernah menulis tentang 10 Top Hedge Fund Manager. Pak Natsir (seorang komentator) menanyakan sesuatu yang belum Abang jawab sampai sekarang.
    Ini saya kutip komentar dan pertanyaan Beliau:

    “Pertanyaan saya adalah apakah hedge funds itu baik untuk ekonomi suatu negara atau ekonomi dunia secara keseluruhan?

    Saya melihat sisi positif dari keberadaan hedge funds adalah membantu meningkatkan efisiensi karena menghilangkan mispricing di pasar, disamping memperkaya investors dan fund managers-nya tentunya. Tp koq sepertinya ada hal2 negatif yg muncul dari keberadaannya, misalnya bubbles di real estates dan, kemungkinan, di komoditas. Mungkin bukan sepenuhnya salah hedge funds, tp nature-nya yg sangat spekulatif dan ditambah dengan leverage yg umumnya berlipat ganda, sepertinya hedge funds turut berperan menciptakan bubbles tersebut. Masalahnya dampak dari bubbles tersebut dirasakan oleh banyak orang.

    Kembali ke pertanyaan saya, apakah keberadaan hedge funds membantu meningkatkan GDP (i.e. kemakmuran) suatu negara? Akankah lebih baik jika dana kelolaan yg sangat besar tersebut diinvestasikan ke real sectors sehingga bs membantu perekonomian?”

    Mohon penjelasan dari Abang.

    Terima kasih

  2. edratna berkata:

    Ahh Bahar, akhirnya engkau menulis lagi…..

    Kondisi perbankan Indonesia saat ini berbeda dengan dulu, namun saat ini yang terpukul adalah industri yang expor oriented, karena menurunnya daya beli di negara importir.

    Dan bagi Bank, karena sebagian besar para industri tadi adalah juga nasabah Bank, maka NPL (Non Perform Loan) juga cenderung meningkat dan terjadi penurunan laba. Malah beberapa Bank telah menunjukkan penurunan CAR. Yang harus digalakkan adalah restrukturisasi pinjaman, Bank dan nasabah mesti bekerja sama agar semua terkendali…dan win-win solution.

  3. ihedge berkata:

    Iya bu, akhirnya nulis lagi. Minggu ini agak longgar. Minggu depan dan sibuk lagi.😀

    Balance sheet dari bank-bank di Indonesia akan memburuk. Tapi sepertinya masih lebih baik dari tetangga2.

  4. ihedge berkata:

    @Irwan: dah tak buat artikel baru tuh.

  5. Investasi berkata:

    blog yang menarik sampe betah saya baca2nya thanks

  6. isantoso berkata:

    blognya bagus, sayang tidak sering di-update =)

  7. Arashi Kensho berkata:

    memang kondisi keuangan tdk sprt dulu, nyari duit susah, ditambah lg krisis di yunani yg mengancam mata uang euro.. Hmm.. Indonesia besok gmn ya?

  8. Hola, Interesante, tidak ada va a continuar con este artнculo?

  9. agent of change berkata:

    mau nanya bagaimana tentang mekanisme keuangan indonesia dong. terima kasih sebelumnya

  10. hargaelektroniks berkata:

    wwoowww banget!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s